How Do We Take Care of Our Environment?

Header

header adsjavascript:void(0)

How Do We Take Care of Our Environment?

Beberapa waktu yang lalu sempat viral seorang perempuan warga negara asing sedang membersihkan selokan atau got yang sudah lama terlihat jorok dan tidak dibersihkan. Bule tersebut berinisiatif untuk mengeluarkan sampah-sampah yang bertumpuk di bagian dalam. Beberapa warga terutama anak-anak yang berada di daerah sana sontak terheran dan bertanya-tanya, kenapa Ibu-ibu bule ini sebegitu pedulinya terhadap lingkungan yang bahkan bukan di daerah tempat dia dilahirkan pun. Masyarakat disana menganggap hal ini aneh, tapi justru yang aneh adalah warga yang tinggal disekitar yang tidak merasa terganggu akan kondisi selokan yang jorok itu. Aksi Ibu-ibu yang membersihkan selokan itu pun sempat viral dan mendapat pujian dari para netijen +62.


Tentu tidak ada alasan lain selain "Untuk menjaga kebersihan" atas aksi yang dilakukan Ibu-ibu bule saat itu. Karena memang patut disadari sebagai warga asli Indonesia, budaya buang sampah sembarangan memang sudah mendarah-daging di diri orang-orang. Coba kamu sejenak melihat kebelakang, beberapa saat sebelum sekarang, atau beberapa hari kemarin ataukah pekan lalu. Kamu ingat-ingat sampah sembarangan yang kamu buang terakhir apa? Kalau aku sendiri dua hari yang lalu, kertas bekas aku remuk-remuk sampai kecil lalu kulempar keluar. Bukannya karena tidak cinta dengan lingkungan, hanya saja terkadang memang sangat susah untuk beranjak dari suatu tempat ke tempat lainnya hanya untuk sebuah gerakan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Seperti inilah hukum inersia konsep pergerakan benda ala Newton. Sebuah benda akan berusaha mempertahankan posisinya, jika diam maka dia akan tetap diam dan jika bergerak kedepan maka dia akan tetap bergerak kedepan. Hal itu berubah hanya jika ada gaya dari luar yang memengaruhinya.

Akhir-akhir ini aku sangat sering melihat berbagai gerakan sosial-media dan sosial-environmental yang gencar-gencar nya untuk mengubah pola hidup manusia menjadi pola hidup yang "Ramah Lingkungan". Dimulainya bisa dari mengurangi sampah plastik, dan mengurangi polusi untuk bercampur ke udara.

Aku sempat bertanya-tanya terkait fungsi dari Dinas Lingkungan Hidup, terutama yang ada di Kota Makassar. Karena kebanyakan gerakan peduli lingkungan adalah orang-orang dari komunitas atau organisasi sosial yang independen bukan dari dorongan Pemerintah. Tapi sampai pada siang tadi, aku melihat beberapa petugas melakukan pekerjaan diluar dugaan orang-orang semua. Mungkin. Yaitu membersihkan selokan/got sampai ke dalam-dalamnya dengan mengumpulkan sampah-sampah yang menumpuk di dalam lalu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam karung-karung bekas. Mungkin mereka orang-orang yang ditugaskan dari Dinas Lingkungan Hidup Makassar, mungkin. Karena mereka bekerja berkelompok dan dengan seragam yang sama. Di kompleks dekat tempatku tinggal, aku melihat mereka siang-siang bolong, masuk ke dalam selokan yang busuk, jorok, gelap, penuh sampah, dan menjijikkan itu untuk berusaha membersihkannya demi kenyamanan orang-orang yang tinggal di daerah tersebut. Mungkin tugas ini didasari dari kejadian banjir yang seringkali terjadi di daerah sini dan tentu penyebab utamanya adalah tersumbatnya saluran air di selokan-selokan sekitar.

Melihat keteguhan hati mereka bekerja, keberanian jiwa untuk masuk ke dalam lapisan dalam selokan adalah sebuah pemandangan yang cukup langka bagiku. Mereka sepertinya menikmati untuk mengerjakan tugas seperti ini. Kau tahu, melihat mereka saja membuatku merasa capek. Mereka membawa lusinan karung bekas dan memasukkan setiap sampah-sampah yang mereka temukan di dasar selokan ke dalam karung-karung bekas yang dibawanya. Setiap satu meter selokan yang mereka bersihkan saja sudah menggunakan lebih dari 5 karung, dan mereka menyelesaikan tugasnya itu dengan membersihkan kawasan yang cukup sentral di kompleks dekat rumah kos tempatku tinggal, untuk meminimalisir bau jorok dan hal-hal mengganggu lainnya. Jika dilihat-lihat, sekitar 10 sampai 20 meter selokan dengan lusinan karung bekas berisi sampah-sampah yang tadinya tergenang di dasar selokan.

Menjadi sebuah tanggung jawab dan amanah tentunya untuk mereka ditugaskan seperti itu. Hanya saja bukannya kita memiliki kesempatan untuk meringankan beban kerja mereka? Paling tidak, meminimaliasir dengan tidak membuang sampah di selokan disekitar tempat kamu tinggal. Ataukah tidak membuang sampah sembarangan, karena sampah itu akan mencari tempat rendah untuk menjatuhkan dirinya. Jika kamu dari ATM melakukan transaksi, lembaran kertas bukti transaksinya kamu bisa membuangnya ke tempat sampah, gelas plastik setelah minum minuman kemasan, dan juga puntung rokok yang baru saja kita pegang. Bukannya mudah bagi kita untuk memegangnya dan membuangnya ditempat semestinya? Karena sebagai pemilik sampah, harusnya menjadi tanggungjawab kita masing-masing untuk membuangnya tepat dimana sampah itu harusnya berada. Mari cintai lingkungan, save the earth for the future.

Post a Comment

0 Comments