Try To Share Some Happiness, Would You?

Header

header adsjavascript:void(0)

Try To Share Some Happiness, Would You?

Apakah kamu seringkali menjumpai anak jalanan ketika berada diluar? Entah itu di jalan, di warung makan, di minimarket, restoran, cafe, ataukah tempat wisata. Jika kamu tinggal di kota besar, kamu akan sering melihat pemandangan seperti ini. Anak jalanan yang mencari dan mengumpulkan sampah plastik yang telah dibuang di tempat sampah, mengumpulkannya ke dalam gerobak yang ditariknya ataukah karung besar yang digendongnya, berpindah dari tempat sampah satu ke tempat sampah lain, lalu berharap sampah plastik yang dikumpulkannya itu dapat ditukarkan dengan beberapa pecahan rupiah. Tentu rupiah yang dikumpulkan itu dia berharap dapat memenuhi keperluannya akan segala hal. Jika saja itu bisa. 

Entah kenapa, setelah hidup hampir 4 tahun di Makassar baru akhir-akhir ini aku melihat rasio kemiskinan di Makassar tampaknya makin meningkat. Atau ini hanya perasaanku saja? Atau mungkin karena aku melihat hanya dari satu sisi saja dimana aku tinggal. Dimana hampir setiap aku keluar dan singgah di warung makan, aku seringkali, bahkan mungkin selalu menjumpai anak jalanan dan peminta-minta. Kalau kamu tinggal di daerah BTP (Bumi Tamalanrea Permai) mungkin kamu akan setuju dengan ini. Karena aku sudah tinggal 3 tahun disini dan bar beberapa bulan terakhir aku sangat sering melihat beberapa anak jalanan, pemulung, dan peminta-minta selalu lewat melintasi jalan, menyebrang, masuk ke warung makan satu ke warung makan lainnya, mengumpulkan sampah plastik dan recehan, duduk istirahat dipinggir jalan, pakaian kotor dan kadang tanpa alas kaki berjalan hingga malam, kadang yang masih muda akan aktif untuk mencari rupiah dari sampah plastik, yang tua kadang duduk depan minimarket sambil menaruh wadah kecil didepannya untuk ditawarkan ke orang-orang yang lewat agar dapat memasukkan beberapa rupiah dengan ikhlas untuknya. Tapi tentu, dibeberapa titik tertentu, banyak juga anak-anak dan orang-orang yang masih sehat dan segar kelihatannya, tapi lebih memilih untuk meminta-minta dibanding mencari pekerjaan yang lebih nyaman.

Kemarin malam, aku berpapasan dengan beberapa anak jalanan, atau mungkin lebih cocoknya disebut "Pemulung". Hanya saja pemulung yang aku lihat ini masih anak-anak, 3, 4, 5, dan mungkin masih 6 tahun. Mereka berjalan dari arah Sudiang ke Daya dengan mengangkut (menggendong) karung berisi sampah plastik yang sudah dikumpulkannya dari suatu tempat, dan ingin dibawahnya ke tempat biasa dia pulang. Saat itu aku ada janji untuk ke rumah teman di Sudiang, karena malam hari dan tepat momentum malam minggu, tentu jalanan akan sangat macet-semacet-macet-nya.

Aku berencana ke rumah teman untuk memenuhi sebuah tanggungjawab. Tapi saat melewati jalanan aku melihat bocah-bocah ini berjalan menggendong karung yang besarnya karung itu sudah melampaui besarnya si anak. Pertama saat melewati kantor polisi di, aku melihat dua orang anak kecil, laki-laki dan perempuan. Anak itu benar-benar masih kecil, dia menggendong karung bawaannya yang sudah melampaui besar si anak tersebut dengan keadaan membungkuk. Kau tahu, anak laki-laki itu terlihat masih sangat kecil. Aku bisa bertaruh, anak itu bahkan belum mencapai umur 5 tahun. Asem, melihat ini membuatku merasa orang paling jahat jika meninggalkannya begitu saja. Tapi entah kenapa, tanganku masih memutar gas sampai saat aku melihat ada orang yang keluar dari kantor polisi dan memanggilnya masuk ke dalam. Alhamdulillah ucapku dalam hati.

Melihat macet yang super padat, membuatku berpikir cukup lama untuk putar arah. Aku sudah cukup jauh berjuang melewati arus macet dari arah BTP ke Sudiang. Tapi tak jauh setelah aku melihat kedua anak tadi, sebelum sampai Hotel Dalton, aku sudah melihat lagi anak perempuan yang juga dengan kondisi yang sama, menggendong karung sambil jalan membungkuk. Karena sudah tak tahan, aku memberanikan diri memutar arah, keluar dari arus macet dan menyebrang ke arah jalan ke selatan. Aku melihat anak itu dari kejauhan lalu menghampirinya sambil memelankan motor.

"Dek mau ke mana?"
"Ke sana kak" Sambil menunjuk ke arah depan (Selatan)
"Oiya dek sini saya antar" Karungnya yang mungkin berisi sampah plastik aku taruh didepan
"Jauh didepan dek?"
"Disana kak yang ada temanku duduk"

Aku mengantarnya tidak jauh dari 100 meter ke arah selatan sampai di halte dimana temannya sudah menunggu. Jika aku lihat, anak-anak ini masih berumur 4 atau 5 tahun. Mereka benar-benar masih kecil, mungkin temannya yang sudah menunggu tadi sudah 6 tahun, tapi mata ku berkata mereka masih belum mencapai umur 6 tahun. Sungguh, mereka masih sangat kecil untuk menanggung beban seperti ini. Entahlah, mungkin reaksi ku yang terlalu berlebihan. Aku langsung bertanya apakah mereka sudah makan atau belum, temannya sepertinya enggan untuk menerima tawaranku untuk membelikan mereka makan. Tapi aku langsung menyuruh mereka menunggu di halte selagi aku putar untuk mencari warung makan.

Aku setiap harinya berusaha menyisihkan beberapa uang untuk kusedekahkan. Aku hanya berpikir, tatkala orangtuaku masih ada rejeki yang berlebih, mungkin akan lebih baik jika ku sisipkan untuk kusedekahkan setiap harinya. Jadi jika aku keluar ke minimarket, ataukah ke warung makan dan teringat belum mengeluarkan sedekah untuk hari ini, aku kadang mencari anak-jalanan yang bisa kukasih pecahan Rp. 1.000 ataukah Rp. 2.000. Harapannya bisa membantu orang-orang yang kekurangan itu, meskipun masih terlalu kecil. Disisi lain aku punya kebiasaan, tidak setiap hari tapi terkadang aku ketika malam hari seringkali mencari makanan atau cemilan yang bisa kumakan di kamar, sendiri. Entah itu martabak, terang bulan, kebab, burger, bakso bakar, batagor, makanan ringan, dan cemilan lainnya. Jadi untuk meminimalisir kebiasaan boros untuk beli makanan, dan menyempurnakan kebiasaan sedekah setiap hari aku berpikir, mungkin dengan mengalokasikan pengeluaran aku bisa menahan nafsuku untuk membeli makanan dengan berlebih. Akhirnya aku berhenti di warung makan dengan membeli ayam lalapan dua bungkus. Setelah sejenak menunggu hingga pesanan selesai, aku kembali memutar balik menghadapi macet sejauh kurang lebih 100 meter, dan menyebrang ke halte tempat mereka tadi menunggu. Ayam dua bungkus lalu kuberikan ke mereka dan bodohnya, aku tidak membelikannya minum. Karenanya aku pergi lagi mencari tempat terdekat yang menjual minuman.

"Dek ini cuci tangan dulu yak"
"Iya kak, makasih ya"
"Iya dek, saya pergi ya"
"Iya, Makasiihh"

Karena terburu-buru dan HP di kantong sudah bergetar-getar, aku langsung pergi kembali menyusuri arus macet ke Sudiang. Padahal sudah hampir jam 9 malam dan aku berangkat tadi dari jam setengah 8 malam. Mungkin temanku sudah menunggu lama, dia minta tolong untuk dipasangkan tabung gas - selang - dan kompornya. Karena buru-buru aku meninggalkan anak-anak tadi, dan cerobohnya aku lupa kenapa tidak sekalian beli makan untuk diri sendiri dan teman? Mungkin karena rupiah di kantong sudah tidak mencukupi lagi, yah aku berharap saja sampai disana nanti ada makanan yang bisa disantap.

Tulisan ini hanya dimaksudkan untuk mendorong empati dan simpati saja kepada yang lain. Karena menurutku, beberapa orang-orang apalagi anak-anak yang kurang beruntung tentu sangat kejam bila dibiarkan untuk bekerja keras mencari rupiah dengan beban kerja yang cukup berat. Aku mengenal banyak orang yang bahkan sudah mencapai umur 20 tahun, tapi masih belum bisa mencari uang dengan sendiri. Tapi anak-anak ini? 6 tahun saja belum sampai, tapi sudah berusaha keras memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan bekerja-kerja-kerja-dan-kerja-keras demi mendapat pecahan demi pecahan rupiah. Kejam bukan? Mungkin uluran tangan kita bisa meminimalisir penggunaan kata "kejamnya dunia" menjadi "nikmatnya hidup". Actually, I just try to share some happiness to anyone I could give to, or a lot of maybe. What about you, will you do the same?

Post a Comment

0 Comments