Quarter Life Crisis: Penyesalan Adalah Fitrah Manusia

Header

header adsjavascript:void(0)

Quarter Life Crisis: Penyesalan Adalah Fitrah Manusia

Apa kau tahu, tepat setelah Nabi Adam diusir dari surga, seketika itu juga Nabi Adam menyesali segala perbuatannya. Kisah Nabi Adam yang tak mampu menahan godaan membuatnya dilemparkan ke Bumi dan berpisah dengan Hawa dalam jangka waktu yang cukup lama. Nabi Adam lalu menyesali perbuatannya dan memohon ampun kepada Allah Subhanallahu Wa Ta'ala.

 Doa Taubat Nabi Adam Menyesali Perbuatannya
" Rabbanaa zholamnaa anfusanaa wa illam tagfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin."
Artinya:
" Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Paling tidak sejarah yang diceritakan kurang lebih tergambar seperti itu. Secara gamblang, memberikan sedikit penerangan kepada seluruh keturunan Nabi Adam bahwasannya sikap menyesali sesuatu itu adalah fitrah manusia. Nabi Adam saja pernah menyesali perbuatannya, bagaimana dengan kita?

Ada satu masa dimana seseorang mengalami serangkaian hal terberat dalam hidupnya. Disebut dengan masa Quarter Life Crisis (QLC). Masa disaat seluruh pertanyaan tentang kehidupan mulai bermunculan. Mungkin saat muda, ataukah fase anak-anak sampai muda atau remaja, pola pikir seseorang masih setengah-setengah tentang apa yang akan terjadi dimasa depan. Sesekali mungkin terlintas dalam benak, "Nanti saat dewasa aku akan menjadi ini, melakukan hal ini, ini dan ini". Namun itu hanya muncul sekilas dipermukaan saja, dalam hal ini pikiran tidak memikirkan hal tersebut secara matang-sematang-matangnya, juga tidak memikirkan hal-hal yang sifatnya universal. Secara psikologis, masa itu sangat berbeda dengan masa ketika seseorang telah masuk dalam fase QLC.

Menurut peneliti dan pengajar Psikologi dari University of Greenwich, London, Dr. Oliver Robinson, ada empat fase dalam QLC. pertama, perasaan terjebak dalam suatu situasi, entah itu pekerjaan, relasi, atau hal lainnya. Kedua, pikiran bahwa perubahan mungkin saja terjadi. Ketiga, periode membangun kembali hidup yang baru. Terakhir, fase mengukuhkan komitmen anyar terkait ketertarikan, aspirasi, dan nilai-nilai yang dipegang seseorang. Umumnya, QLC dialami orang pada umur 20-an, baik awal, tengah, maupun akhir dekade ketiga dalam hidup seseorang. Namun, perasaan cemas, bingung, dan sedih yang terdapat dalam krisis memasuki tahap kedewasaan bisa saja berlanjut sampai usia 30-an. Dilansir dari Tirto.id.

Mungkin terkadang kita melihat beragam meme yang ada di internet yang menggambarkan seseorang tengah menghadapi masa QLC. Misalnya saja meme tentang kerinduan kembali pada masa sekolah, "Pengen deh reunian sama teman-teman SMA, tapi bukan di cafe, pengennya kembali ke sekolah, pakai seragam. Pasti asik". Ataukah meme yang memperlihatkan betapa asiknya, ceria dan gembiranya masa dulu sebelum umur 20tahun++ yang menjalani hidup seperti tanpa beban sama sekali. Belum memikirkan banyak hal, ini dan itu. Secara sadar, itu adalah tahapan pertama QLC yaitu terjebak dalam suatu situasi.

Saat dimana kita merasa disuguhkan dengan begitu banyak pilihan-pilihan hidup. Ada banyak pertimbangan, dan hal-hal lainnya yang menurut kita patut untuk diperhatikan lebih dalam. Secara gamblang QLC adalah masa transisi dari Remaja menuju Dewasa. Jika digaulkan, istilah galau juga cocok untuk fase QLC. Beragam aspek yang memicu datangnya masa QLC ada banyak, aspek karir, pendidikan, bahkan suatu pernikahan. Dalam survey yang dilakukan oleh Gumtree.com, katanya aspek pernikahan memang menjadi hal yang kerap disebutkan sebagai sumber kecemasan orang-orang yang mengalami QLC. Dalam survei tersebut, 86 persen dari 1.100 responden di Inggris menyatakan pernah melalui QLC, dan 32 persen diantara mereka berpendapat ada tekanan besar untuk menikah dan punya anak, maksimal pada usia 30 tahun.

Mungkin beberapa orang bertanya-tanya, apakah betul ketika seseorang telah memasuki umur antara 20-30 tahun, mesti merasakan yang namanya fase QLC? Secara psikis, umur tersebut umur yang rentan untuk terkena dampak QLC. Jawabannya harusnya iya. Tapi saat Nabi Adam bimbang dan galau untuk memakan buah khuldi, terlena dengan bujuk rayuan iblis, umur Nabi Adam mungkin juga ada pada masa 20-30 untuk takaran umur saat ini. Wallahualam.

Ada satu sikap yang cukup melekat dengan QLC, yaitu sikap menyesal/menyesali. Sikap seperti ini cukup menarik untuk dibahas, jika kamu mau tahu lebih banyak tentang QLC, kamu bisa cari literatur lain di internet. Tapi untuk kali ini, tulisan ini hanya terpaku pada sikap penyesalan yang sering terjadi pada seseorang saat berada pada masa QLC.

Jika kita percaya bahwa sifat kita adalah sifat dari turunan keturunan, maka sikap Nabi Adam yang pernah menyesali perbuatannya itu apakah juga fitrah kita sebagai manusia? Jika kamu hidup, tentu akan ada berbagai penyesalan yang pernah atau sedang ataupun akan kamu lalui nantinya. Tentu cocok jika penyesalan adalah suatu fitrah yang diberikan Nabi Adam kepada seluruh manusia (keturunannya). Tahapan dari QLC menggambarkan bagaimana suatu sikap "penyesalan" itu dapat membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Proses pendewasaan, tentu menjadi fase yang sangat berarti bagi tiap-tiap orang. Tatkala ia berada pada posisi yang sulit, diperhadapkan dengan masalah yang diluar dari ekspektasi, dan diharuskan untuk memilih pilihan yang sangat sulit. Setelah itu, mungkin akan terjadi rasa bersalah, menyesali berbagai hal yang pernah dilakukan, dipilih, dan dilewatkan. Apa kamu pernah menyesali suatu pilihan? Suatu perbuatan? Ataukah suatu hal yang kamu lewatkan? Mungkin pernah, atau bahkan sering, dan sudah banyak penyesalan yang mungkin kamu sudah rasakan. Apalagi saat kamu berada pada masa QLC, yaitu umur 20-30 tahun.

Setelah serangkaian penyesalan itu apa yang kamu lakukan? Terkadang manusia terobsesi dalam hal "Mengukir moment yang patut untuk dikenang". Misalnya saat mendapatkan prestasi di sekolah, ataukah saat punya kesempatan untuk jalan bersama orang yang disukai sejak lama, dan mungkin juga momen ketika putus dengan pacar/pasangan, atau dimarah-marahi, dibentak-bentak oleh orang. Maka untuk mengukir moment tersebut, manusia cenderung melakukan hal yang bisa membuat moment tersebut sangat-sangat begitu berarti bagi dia. Jika dia dapat prestasi, mungkin dia akan mengabadikannya, menyimpan piagamnya, dan berusaha mengatakan pada seluruh dunia betapa bangganya orang-orang atas keberhasilannya. Juga saat sedih, diputuskan oleh pacar, manusia cenderung akan melakukan yang bisa membuat moment tersebut tersimpan dan terukir sebagai kisahnya dimasa lalu. Berdiam diri, tidak melakukan apapun, berusaha menangis dan meluapkan rasa sedih. Mungkin. Tapi poinnya adalah, manusia memang cenderung terobsesi untuk mengukir moment-moment yang dirasa patut untuk dikenangnya.

Dalam QLC, katanya setelah itu kamu akan berada pada tahapan dimana kamu akan memulai hidup yang baru. Lalu fase terakhir dari QLC adalah kamu akan berada pada masa dimana kamu mengukuhkan komitmen atas segala aspirasi, segala ketertarikan, dan hal lainnya yang mungkin kamu anggap penting bagi dirimu, dan juga nilai-nilai yang akan kamu pegang teguh.

Umur yang berada dimasa QLC, mungkin dapat dipasangkan pada masa SMA-KULIAH-DAN HIDUP SETELAHNYA. Itu sama seperti ketika kamu ataukah mungkin temanmu yang sedang menjalani kuliahnya pada semester 3-8, dimana saat itulah kamu mulai mempertanyakan hal-hal yang memungkinkan untuk terjadi dimasa depan. tepat saat kamu berpikir, apakah kamu salah jurusan, kamu berada pada lingkungan yang tidak kamu senangi, orang tuamu tidak mendukung pilihanmu, kamu berada ditempat yang tidak memberikan nilai tambah untukmu, pilihan kamu sekarang tidak begitu menjamin apa yang kamu harapkan untuk dirimu dimasa depan, dan seterusnya. Pikiran seperti ini menjadi salah satu bukti bahwa kamu berada di masa QLC. Terjadilah berbagai penyesalan, misalnya saja seperti pikiran "Apakah aku salah ambil jurusan?". Sebuah pikiran yang cukup bodoh untuk seorang manusia yang berakal. Tapi munculnya pemikiran seperti ini bukanlah hal yang jarang ditemui pada anak muda terkhusus bagi mereka yang masih kuliah. Sepertinya saya salah jurusan. Ya kalau kamu salah jurusan ya kamunya yang bodoh ngapain pilih jurusan itu, ataukah alasan logis lainnya ya karena kamunya yang tidak cukup memiliki kapabilitas untuk lulus seleksi di PTN dan jurusan yang kamu inginkan. Tapi itu adalah hal wajar, ungkapan penyesalan seseorang dikala QLC menghadang.

Fase ketiga QLC mengatakan bahwa setelah menyesali berbagai hal, kamu akan mencoba memulai hidup yang baru. Persetan dengan semua yang telah kamu lalui, jalan ke depan masih panjang. Nah jika kita ambil lagi contoh orang yang mengaku-ngaku bahwa dia salah jurusan tadi, tentu jika dia telah melewati fase penyesalannya, dia akan berusaha untuk melakukan perubahan. Jika kamu merasa salah jurusan, tapi sudah berada dipertengahan jalan, ya jalani saja mau bagaimana lagi, jalani dan setelah lulus kamu bisa melanjutkan pendidikan sesuai dengan keinginanmu. Saya punya teman, yang tahun ini 2019, dia sudah memiliki 4 title di umurnya yang ke 23. Di tempat saya kuliah bersama di Politeknik Negeri Ujung Pandang, title D-IV nya dia dapatkan, di kampus lain title D-III nya dia dapatkan, dan title S1 nya di kampus lainnya lagi dia sudah dapat. Sementara lagi dia menjalankan S2 nya dan sudah memulai pendidikannya itu di tahun 2019. Jika ada kemauan, kamu pasti dapat jalan yang kamu dan tentu Tuhan kehendaki. Kamu bisa memilih jalan seperti teman saya itu, ataukah pilihan pertama tadi, kamu lanjutkan studi sesuai apa yang kamu rasa sesuai dengan dirimu setelah kamu lulus kuliah, ataukah, kamu berhenti sekarang dipertengahan jalan (Tentu dengan mengesampingkan pemikiran bahwa ada banyak orang yang ingin berada diposisimu saat ini tapi kesempatan itu sudah kamu ambil duluan) dan memilih melanjutkan studi tepat seperti apa yang kamu inginkan.

Biasanya sih dalih salah jurusan itu hanya sebuah celetukan bahwa "saya malas sekolah/kuliah". Tapi tentu tidak semua, contoh teman saya tadi adalah salah satu orang yang mampu melewati fase penyesalan itu dengan mengambil anak tangga lain yang dia rasa perlu untuk dia jadikan pijakan untuk naik ketingkatan yang lebih tinggi. Lalu right after that kamu akan berada pada fase terakhir, yaitu mengukuhkan komitmen atas nilai-nilai yang akan kamu perjuangkan. Melewati masa lalu dan membuatnya menjadi bagian dari kisah hidupmu.

Apa kamu tahu, ada sebuah penelitian terkait sikap penyesalan yang ada dalam diri seseorang dimasa-masa kritisnya (sakaratul mautnya). Jadi penelitian itu menjadikan kurang lebih 100 orang sebagai objek, tapi kondisi orang-orang tersebut semuanya adalah orang-orang yang sudah mengetahui bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi (sudah divonis bahwa hidupnya akan segera berakhir sebentar lagi). Penelitian tersebut mengungkap bagaimana rasa menyesal itu menghantui pikiran orang-orang bahkan disaat-saat terakhir dalam hidupnya. Bagaimana hasil dari penelitian ini?

Kurang lebih objek penelitian tersebut diberikan beberapa pertanyaan. Pertanyaan lainnya seperti ini, "Apa hal yang paling kamu sesali dalam hidup kamu?". Dari 100 orang yang diberikan pertanyaan serupa, hasilnya sama. Semua sample tersebut mengatakan penyesalan terhadap "Apa saja yang mereka tidak/belum lakukan semasa hidup", bukan terhadap "Apa saja yang pernah mereka lakukan dalam hidup". Terkadang orang lain juga pernah bertanya hal serupa kepada mu bukan? Mungkin sesederhana, "Apakah kamu menyesali perbuatanmu?". Kalau saya, diumur yang ke-22 tahun ini, aku akan menjawabnya, "Aku masih terlalu muda untuk menyesali banyak hal".

Post a Comment

0 Comments