My Unfair Nation: Rantai Kemiskinan

Header

header adsjavascript:void(0)

My Unfair Nation: Rantai Kemiskinan

Apa kamu percaya dengan teori The Vicious Cycle of Poverty (lingkaran setan kemiskinan)? Secara pepatah mengatakan bahwa buah apel jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Bisa juga menggambarkan bagaimana lingkaran setan kemiskinan itu berputar-putar tanpa keluar dari pola putarannya. buah apel yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya, anak dari orang miskin nasib miskinnya tak akan beda jauh dengan orangtuanya. Lalu berputar, berputar, dan terus berputar sampai menemui situasi yang sangat buruk. Apakah lingkaran kemiskinan yang ada di Indonesia seperti itu?

Beberapa waktu yang lalu lembaga riset SMERU Institute telah mempublikasikan sebuah hasil riset dan penelitiannya dalam makalah internasional Asian Development Bank (ADB) pada September 2019 kemarin. Penelitian ini merujuk pada hasil akhir bahwa anak yang lahir dari keluarga miskin di Indonesia, cenderung akan berpenghasilan lebih rendah ketika sudah dewasa. Riset kuantitatif yang mereka dapatkan hanya menunjukkan hasil bahwa kondisi tersebut terjadi hampir disemua keluarga miskin yang menjadi cakupan dalam penelitian mereka, namun dalam riset kualitatifnya menunjukkan ada beberapa faktor atau penyebab terjadinya hal demikian. Bahwasannya anak yang terlahir digaris kemiskinan sungguh sulit untuk dapat keluar dari lingkaran kemiskinan tersebut. Menurutku yang paling utama dalam penelitian mereka yang dapat dikatakan sebagai faktor penyebab terjadinya lingkaran setan kemiskinan ini adalah karena kurangnya akses dalam segala bagi orang miskin, tekanan dari orang tua yang rada emosional, dan lingkungan yang tidak memicu terjadinya produktifitas. Karenanya seorang anak yang berada dalam lingkaran kemiskinan akan cenderung tetap berada pada lingkaran tersebut.

Mungkin bagi orang-orang yang berjiwa fundamentalisme, akan mengatakan bahwa toh setiap orang sudah punya porsi rezkinya masing-masing, kalo rezkinya banyak pasti dapatnya banyak juga. Tapi untuk saat ini, kita kesampingkan pemikiran yang cupu dan kurang menyenangkan itu terlebih dahulu. Pasalnya lingkaran kemiskinan ini sepertinya menampilkan kesenjangan sosial yang sangat jelas atas realitas kehidupan antara yang kaya dan yang miskin. Beberapa orang dengan pemikiran liberalnya akan beranggapan bahwa hidup memang tidak pernah adil. Karena lingkaran-lingkaran yang berjalan dalam kehidupan akan tetap seperti itu dimasa depan pada rotasi dan lingkaran yang sama. Kekuasaan yang dipegang seseorang akan cenderung tetap berada dilingkaran-lingkaran mereka saja, mana ada orang miskin yang punya potensi untuk memegang kekuasaan. Begitupun hal lainnya, pendidikan yang layak, kesejahteraan hidup, perlindungan hak, harta dan kekayaan. Artinya cukup sulit bagi orang miskin untuk keluar dari lingkaran kemiskinannya, sedangkan untuk beberapa orang sudah terlahir kaya karena lingkaran keluarganya yang kaya. Tentu generasi yang diturunkan sebagai penerus pembangun peradaban akan membawa warisan yang keluarganya atau paling tidak orang tuanya titipkan. Warisan itu berupa pamour, kekuasaan, harta, dan nama baik. Bagaimana dengan anak yang lahir di dalam garis kemiskinan? Warisan seperti itu mana ada.

Tidak dapat pula dinafikkan bahwa popularitas orang tua, aset dan kekayaannya sangatlah berpengaruh besar dan penting untuk menentukan masa depan anak. Meskipun jika kita lihat seperti anak dari bapak Chairul Tanjung, Putri Tanjung yang dapat menjadi idola anak muda jaman sekarang, ataukah anak konglomerat media Harry Tanoesoedibjo, Valencia Herliani, ataukah yang sedang ramai jadi perbincangan yaitu Putra dari Bapak Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka. Ketiga anak muda ini menjadi contoh betapa beruntungnya mereka atas warisan dari orangtuanya. Tentu secara, Putri, Valencia, dan Gibran tidaklah dibantu oleh orangtuanya atas apa yang menjadi pencapaiannya hingga sekarang secara langsung. Seperti Putri Tanjung, cerita dibalik seberapa tidak inginnya Ayahnya untuk memanjakan seorang Putri Tanjung, meskipun Ayahnya Putri adalah pengusaha besar dengan nama kebanggaan CT Corp, cerita dibalik mandirinya Putri meraih kesuksesan dikala muda tentu sangat menginspirasi banyak orang, bahwasannya harta kekayaan orangtua itu bukanlah modal utama untuk meraih kesuksesan. Hanya saja, bila kamu ingin membandingkan bagaimana anak dari seorang Chairul Tanjung dan anak dari seorang pemulung, lalu beranggapan bahwa keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan di masa depan, adalah hal yang keliru.

Benar bahwa kesuksesan yang diraih oleh Putri Tanjung hingga bisa menjadi seorang CEO dari Creativeprenuer, merupakan hasil dari jerih payahnya sendiri tanpa pernah dimanjakan oleh Ayahnya. Sangat inspiratif. Tapi apakah kegigihan seorang Putri Tanjung, keuletan, kesabaran, dan kecerdasannya dalam melihat beragam kesempatan dan kreatifitasnya dalam berpikir dan juga cara dia memanage orang-orang yang ada disekitarnya adalah hal yang sama kesempatannya untuk anak dari seorang pemulung dapatkan? Dari penelitian SMERU, mengatakan bahwa pola didik anak dari keluarga miskin dan kaya, pola kehidupan keseharian yang membentuk karakter anak, dan kebiasaan anak dari kecil sampai menginjak usia produktifnya sangatlah jauh berbeda antara anak dari orang miskin dan anak dari orang kaya. Mungkin cerita dibalik kesuksesan seorang Putri Tanjung, peran seorang Ayahnya secara langsung tidaklah begitu banyak. Tapi sejak kecil, segala macam hal yang telah Ayahnya berikan kepada Putri tentu sangat penting, asupan gizi, protein, pendidikan karakter, kebiasaan yang baik, dan tentu pendidikan di sekolah yang tentu diatas batas standar.

Bagi anak yang lahir dari keluarga miskin, tentu ada potensi dari diri sendiri yang dapat dibangun. Apapun itu, pasti ada. Hanya saja orang tua atau keluarganya bukanlah orang yang tahu akan banyak hal, seperti bagaimana mengembangkan potensi itu, harus dikemanakan anak saya, dan kedepannya anak saya harusnya berada dimana? Sedangkan anak orang kaya memiliki akses akan hal ini. Sebut saja masyarakat kelas menengah keatas, memilikinya. Misalnya anaknya suka musik atau seni, suka matematika, atau suka dengan konstruksi, ataukah otomotif maka anaknya akan disekolahkan berdasarkan apa yang digemari si anak. Bagaimana dengan anak dari keluarga miskin? Kebanyakan dari orang tua anak yang miskin hanya berpikir pada batasan, "Saya harus bisa memenuhi kebutuhan hidup keluargaku, anakku harus aku sekolahkan". Satu hal yang sangat membedakan probabilitas kesempatan orang miskin menjadi kaya dan kita yang hidup berkecukupan (sederhana/menengah keatas) untuk bisa meraih hidup yang lebih layak adalah; akses. Bisa juga keberuntungan, tapi itu bukanlah hal yang dapat kita atur bagaimana cara memperolehnya. Misalnya dapat undian rumah mewah dari e-commerce. Tapi orang miskin mana tahu yang namanya e-commerce?

Mudahnya kita untuk mendapatkan akses atas segala hal, adalah power yang tidak dimiliki oleh orang miskin. Kita dengan kemudahan akses itu saja masih sering mengeluh atas keras dan kejamnya kehidupan, bagaimana dengan orang miskin? Kamu dengan membuka Instagram, Facebook, atau Telegram sudah bisa mendapatkan beragam informasi lowongan kerja, bagaimana dengan orang miskin? Android saja tak punya? Apalagi kouta internet? Dengan berselancar di dunia maya kamu bisa dengan mudah mendapatkan beragam program pengembangan diri yang ada disekitar anda, bagaimana dengan orang miskin? Kamu bisa dengan mudah ikut seleksi ini dan seleksi itu, bagaimana dengan orang miskin? Semakin berkembanganya teknologi dan majunya suatu peradaban, akan menggambarkan lebih pekatnya lagi kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Apalagi tradisi memupuk harta bagi orang kaya tentu sebuah tradisi yang sangat susah untuk dilenyapkan. Bisa dilihat dari bagaimana luasnya dan sederhananya dunia investasi sekarang.

Orang tua yang berkecukupan apalagi yang kaya tentu akan lebih mudah membesarkan anaknya untuk menjadi orang yang lebih baik nantinya, dibandingkan dengan orang tua yang miskin. Penelitian SMERU secara kualitatif menggambarkan bahwa secara emosional, anak dari orang tua keluarga miskin cenderung lebih sering menampakkan emosi negatif kepada anaknya dibandingkan orang yang berkecukupan. Sebut saja seperti ini, perilaku anak yang sedikit nakal, bolos dan tidak suka sekolah akan membuat marah orang tuanya karena sudah susah payah mencari uang untuk biaya sekolah. Tapi bagi yang berkecukupan atau kaya mungkin memiliki pilihan dan pemikiran yang cukup luas. Mungkin saja anaknya benci dengan sekolahnya, tidak suka lingkungannya, atau ada hal-hal yang tidak sesuai sehingga ia tidak suka, jadi ada opsi lain untuk pindah sekolah. Kalau orang miskin, mana punya opsi seperti itu. Karena harus diakui bahwa dana bantuan pendidikan pun juga mengandalkan power "accessibility". Kekurangan akses juga mengakibatkan orang-orang yang kurang mampu dan lebih memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa atau bantuan dana pendidikan, malah lebih berpotensi untuk tidak mendapatkan bantuan tersebut.

Berita yang terpampang di media-media memang menunjukkan sebuah pencapaian atas pengentasan kemiskinan, namun nyatanya itu tidak begitu menjawab persoalan kemiskinan di Indonesia. Misalnya saja penurunan angka kemiskinan yang sudah menjadi satu digit, yang dulu-dulu selalu dua digit. Tapi pertanyaan sederhananya seperti ini, jika memang angka kemiskinan turun sejak lima tahun belakangan, bagaimana dari kacamata kamu? Apakah 'kemiskinan" ditempat kamu tinggal dan selalu kamu lewati sehari-hari itu terlihat menurun? Atau malah naik? Angka kemiskinan yang dulunya 11%, turun menjadi 10%, hingga 9%, dan tahun 2020 nantinya ditargetkan mencapai 8,5%.  Katanya sih sejarah mencatat bahwa angka tersebut adalah angka terendah dari sejarah Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka kemiskinan di Indonesia mencapai 9,41 dari jumlah penduduk per Maret 2019 yang mencapai 25,14 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan Maret 2018 yang berada di angka 9,82% atau kisaran 25,95 juta jiwa, angka kemiskinan itu turun 41 basis poin atau sebanyak 810 ribu jiwa. Tentu berita seperti ini menjadi prestasi yang cukup besar bagi Negara. Program-program "Perlindungan Sosial" nampaknya berhasil menurunkan angka kemiskinan di Indonesia, akan tetapi terjadi Anomali biaya besar pengentasan kemiskinan. Dimana Ketika itu ditahun 2018, pemerintah mengalokasikan belanja perlindungan sosial dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 173,77 triliun. Dengan dana sebesar itu, ternyata hanya mampu mengeluarkan 805 ribu orang dari kategori kelompok miskin. Dengan demikian, dalam hitungan sederhana, rasionya adalah 1:17,99 juta. Rasio termahal terjadi pada 2016, yaitu 1:49,02 juta. Itu pada tahun 2018, yang berhasil menurunkan angka kemiskinan. DIlansir dari Katadata.co.id.



Sekilas bila dilihat dengan angka-angka, program perlindungan sosial pemerintah dikatakan cukup berhasil. Hanya saja dampaknya juga berimbas kepada semakin dalamnya ceruk kemiskinan. Karena terjadi peningkatan biaya yang cukup besar pada anggaran pengeluaran di APBN untuk program tersebut. Disaat angka kemiskinan turun sedikit, ternyata biaya yang tercatat pada tahun 2015-2019 untuk anggaran perlindungan sosial justru naik dan semakin meningkat, rata-rata kenaikan pada kisaran 10%. Bila dibandingkan, angka penggunaan anggaran itu justru naik lebih banyak dibandingkan dengan hasil pengentasan kemiskinan yang dicapai. Hasil ini menunjukkan adanya inefisiensi atas penggunaan APBN untuk program perlindungan sosial tersebut. Bila alokasi anggaran itu bisa lebih efektif tentu angka kemiskinan dan realitas sosial yang nampak terlihat disekeliling kita dapat diturunkan lagi.

Coba kita membangun asumsi bahwa si bagaimana bila seorang Putri Tanjung adalah anak dari seorang yang miskin? Maka hasilnya adalah 100% dia tidak akan bisa menjadi seorang staff khusus presiden pada tahun 2019 ini. Apabila ada seorang Putri lain tapi bukan Putri Tanjung yang berasal dari keturunan bapak Chairul Tanjung, tentu pada usia produktifnya dia akan tetap menjadi orang yang ternama. Ringkasnya, kehidupan berputar seperti itu.

Sederhananya lagi seperti ini, lihatlah betapa mudahnya selebriti sekarang meraup untung melalui media sosial. Sebut saja Baim Wong, Nagita dan Raffi, Deddy Corbuzier, ataukah Raditya Dika. memang secara mereka menghasilkan uang dari pemanfaatan media seperti media sosial dan platform Youtube adalah hasil dari buah pikir dan karya yang orisinil. Tapi keuntungan dari popularitasnya, sudah menjaring pasar mereka dari awal. Anak selebriti pun juga demikian, sebut saja Aurel Hermansyah yang juga kini meraup untung yang cukup banyak dari channel Youtube. Tentu logikanya semua orang bisa melakukan hal demikian dan punya potensi yang sama dalam berkarya, tapi kembali lagi bahwa lingkaran orang berkecukupan dan kaya keatas adalah sangat jauh berbeda dengan lingkaran orang miskin. Jika orang kaya dengan mudah membuat konten karena kepercayaan diri sudah dibentuk dari orangtuanya dari dulu, perkakas dan alatnya sudah punya, jasa editing, dan luasnya ide (konten) yang dapat digagas karena memiliki banyak pengalaman, perjalanan, teman, dan lain-lainnya, yang dimana semua orang miskin tentu juga miskin akan hal-hal tersebut.

Tapi bila kita kembali melihat kondisi kemiskinan yang dihadapi orang-orang miskin. Kemungkinan yang dapat terjadi untuk membebaskan mereka dari jeratan kemiskinan memanglah sangat kecil. Keterbatasan akses disegala hal, membuat garis kemiskinan mereka tetap berada pada kordinat yang sama, atau bahkan lebih condong ke bawah. Ya tentu harus ada langkah kongkrit untuk pengentasan kemiskinan, bila tidak lingkaran setan kemiskinan tidak akan pernah berhenti berputar. Jika dilihat dengan seksama, kehidupan dunia memang tidaklah begitu adil.

Post a Comment

0 Comments