Kamu Sedang Berada Dilingkaran Mana?

Header

header adsjavascript:void(0)

Kamu Sedang Berada Dilingkaran Mana?

Manusia adalah makhluk sosial, dimana akan selalu membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Hanya saja tidak semua manusia dapat berada pada lingkaran yang sama. Perbedaan selera, sudut pandang, suku, bahasa, dan budaya membuat manusia cukup sulit untuk menemukan lingkaran yang cocok untuk dirinya. Secara garis besar, kita berada pada lingkaran yang sama dengan banyak orang, dan semakin teririsnya lingkaran tersebut, semakin kita berada pada lingkaran yang semakin kecil dan semakin kecil sampai pada posisi dimana kita berada tepat pada lingkaran yang hanya diisi oleh orang-orang yang sepandangan dengan kita, dan memiliki persamaan-persamaan yang lain yang membuat orang-orang yang berada dalam lingkaran tersebut seakan menyatu.


Secara, beberapa dari kita memiliki persamaan yang banyak, beberapa dari kita juga memiliki perbedaan yang banyak. Wajar saja kalau beberapa orang tentu memilih-milih untuk berteman, dan dekat dekat orang lain. Tidak sembarangan memilih. Karena menurut ilmu psikologi, teman merupakan salah satu faktor paling besar bagaimana kita untuk berprilaku, membentuk karakter dan sifat kita, juga bagaimana membangun kebiasaan. Lantas dalam keseharian, siapakah yang paling dekat dengan kita? Teman mungkin jawaban yang paling tepat untuk itu. Psikolog dari universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim memberikan beberapa rambu dalam memilih teman dalam menunjang kebutuhan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dia juga mengakui betapa kuatnya pengaruh teman yang ada di lingkaran kita dalam membentuk kepribadian, pola pikir, dan prilaku kita.

Beberapa orang mungkin terbatas dalam hal mencari lingkaran pertemanan yang sesuai untuknya. Adik saya pernah dimasukkan ke dalam sekolah yang dimana semua kakak-kakaknya dulunya pernah sekolah disana, namun dia tidak dapat beradaptasi dan tidak begitu menyukai lingkaran pertemanannya disana. Karenanya dia kembali lagi ke tempat perantauan orang tua, dan sekolah disana. Itu adalah salah satu bukti bahwa setiap orang hanya cocok di lingkaran yang memang sesuai untuk dirinya. Dalam hal apa saja, jika perlu seluruh aspek kehidupan. Namun jika skema kehidupan manusia terbentuk seperti itu, maka secara rasional orang-orang baik akan tetap bersama dengan orang yang baik, dan orang-orang yang tidak baik akan tetap bersama dengan orang yang baik. Karena orang-orang akan cenderung mempertahankan diri dengan orang-orang yang sepemikiran, seideologi, dan sama pandangan dengannya. Tapi tentu, tidak akan selamanya seperti demikian, beberapa orang nantinya akan berpindah ke lingkaran orang-orang yang baik jika dia merasa lingkaran yang tidak baik tidak memberikan nilai tambah bagi dia, dan lingkungan sekitarnya. Atau secara sederhana dia akan berpindah sampai pada saat dia telah sadar bahwa dia berada pada lingkaran yang tidak baik.

Kritiknya mungkin seperti itu. Ketika kita merasa berada dilingkaran yang benar, tapi hanya orang-orang yang berada dilingkaran itu saja yang menganggapnya benar. Hampir semua lingkaran yang berada diluarnya menganggap bahwa mereka salah. Artinya secara universal, mereka tidak diterima bahwa mereka adalah lingkaran yang benar. Sebut saja mereka adalah lingkaran fanatis. Namun yang membuatnya parah, tentu agar orang-orang yang ada didalam lingkaran tersebut tidak pergi. Jika melirik fenomena ini, radikalisme yang berujung tindak terorisme terbendung dalam sikap seperti ini. memenjarakan diri dalam lingkaran fanatis. Indonesia menjadi objek yang cocok untuk melihat fenomena seperti ini. Tidak usah jauh-jauh dengan kelompok-kelompok radikal yang nampak. Kejadian seperti ini pun kadang terjadi dalam lingkup pertemanan, perkuliahan, dan sekolah.

Terkadang geng sekolah, dan kelompok-kelompok pelajar yang berkumpul bersama fanatis dengan lingkaran mereka sendiri. Meski kadangkala, mungkin kelompok mereka itu berada pada arah dan jalan yang salah. Jika berada pada posisi seperti ini, jangan ragu untuk menjauh sedikit. Karena lingkaran fanatis akan selalu mengurung orang-orang yang ada di dalamnya.

Seperti lingkaran orang-orang yang merokok. Jika kamu tidak merokok karena alasan yang rasional dan masuk ke dalam lingkaran orang-orang yang merokok, mungkin kamu akan merasa risih dengan pernyataan, "Susah juga klo gak ngerokok, susah mikir". Padahal jelas, efek rokok adalah mengganggu kesehatan jika kamu menerima fakta. Bukannya kasus rokok selalu berujung buruk? Sisa ampas rokok yang terbakar, terbang saat berkendara kena mata orang yang ada dibelakang, ataukah anak yang meninggal dunia karena selalu terpapar asap rokok bapaknya, juga hasil otopsi dari pecandu rokok yang menampilkan pemandangan buruk terhadap paru-paru. Apa pernah ada isu yang mengatakan bahwa karena rokok, seorang ilmuan berhasil membuat suatu inovasi masa depan terbaru, rokok memperlancar anda untuk berpikir. Tentu nihil. Lingkaran orang-orang yang merokok akan menganggap bahwa itu adalah hal benar, bahwa dengan merokok kamu akan lebih fokus dan lancar berfikir. Padahal tidak sama sekali. Itu hanyalah ilusi yang mereka buat sendiri, faktanya adalah mereka hanya kecanduan dengan rokok, tanpa rokok mereka susah berpikir, tentu karena efek kecanduan itu, jika tidak aktif mengkonsumsinya maka fokus akan terganggu.

Pernyataan lainnya adalah, dengan merokok kamu akan tampak lebih maskulin, macho, jantan, dan lebih pria, juga lebih keren tentunya. Itu dikarenakan, iklan-iklan rokok selalu menampilkan betapa keren, jantan, dan menariknya pria itu. Bukan karena rokoknya, hanya saja iklan-iklan rokok selalu berusaha merayu dan membujuk para penikmat rokok dan membuat mereka beranggapan demikian. Lihat saja slogan-slogan rokok, "Let's do it!", atau, "Go Ahead!", "Gak ada lo gak rame!", "Lampaui batas", seakan-akan dengan merokok, kamu bisa terlihat lebih keren, gagah, dan berani. Lingkaran orang-orang yang merokok ini tentu dapat kita golongkan dalam lingkaran fanatis. Tentu, dari segala dampak buruknya, mereka akan tetap berpegang teguh dengan pendirian mereka bahwa, saya merokok karena butuh. Ini kebutuhan primer saya. Padahal secara universal kita menerima, bahwa rokok hanya benda yang tidak berguna sama sekali dengan sekitar 5.000 zat kimia yang terkandung didalamnya dan memberikan dampak adiktif bagi orang yang mengkonsumsinya.

Berada dilingkaran fanatis tentu akan membuat kita risih. Fanatis pada kandidat presiden, fanatis terhadap kelompok dan pandangan politik tertentu, sampai fanatis terhadap pandangan-pandangan kecil seperti rokok tadi. Di kampus saja, terkadang kamu mungkin akan mendapatkan orang-orang yang berada dalam lingkaran fanatis. Atau mungkin kamu juga termasuk salah satu orang yang susah menerima pandangan secara universal dan merasa orang-orang yang berada dilingkaranmu adalah orang yang benar. Apa itu benar?

Post a Comment

0 Comments