Esensi Berpuasa di Bulan Ramadhan #DakwahCorner

Header

header adsjavascript:void(0)

Esensi Berpuasa di Bulan Ramadhan #DakwahCorner

Bulan Ramadhan atau lebih akrab dengan sapaan bulan puasa di Indonesia, untuk sebagian orang kelihatannya tidak begitu terlalu berkesan. Padahal Bulan yang penuh pengampunan, penuh limpahan berkah, dan penuh dengan pelipatgandaan pahala atas amalan-amalan yang dikerjakan ini tidaklah semua orang punya kesempatan untuk berjumpa dengannya. Beberapa orang justru tidak memanfaatkannya dengan harapan akan hal itu. Ini tentu karena kurangnya pemahaman akan "Esensi dari Ramadhan" itu sendiri. Meskipun mungkin untuk satu pekan pertama di awal bulan Ramadhan ini, ceramah-ceramah tarwih, ataupun subuhan di tiap-tiap masjid di seluruh Nusantara membahas dan menyampaikan keutamaan-keutamaan yang ada di bulan Ramadhan. Hanya saja masih ada orang-orang yang luput akan hal ini.



Mungkin kita seringkali mendengar bahwa puncak keutamaan dari Ramadhan, atau tujuan utama dari Ramadhan adalah untuk mencapai ketakwaan. Dari serangkaian keutamaan, takwa menjadi hal yang orang-orang beriman berusaha untuk menggapainya di bulan Ramadhan. Karena untuk mencapainya, semua pintu akan terbuka lebar. Tentu Allah juga memerintahkan seluruh hamba-Nya dan Rasul-Nya untuk bertakwa kepada-Nya.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [‘Ali Imran/3:102].


Manusia yang telah mencapai tingkat ketakwaan pun diberi label sebagai hamba yang paling mulia diantara mereka

Ath Thobari rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian –wahai manusia- adalah yang paling tinggi takwanya pada Allah, yaitu dengan menunaikan berbagai kewajiban dan menjauhi maksiat. Bukanlah yang paling mulia dilihat dari rumahnya yang megah atau berasal dari keturunan yang mulia.” (Tafsir Ath Thobari, 21:386)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,  “Sesungguhnya kalian bisa mulia dengan takwa dan bukan dilihat dari keturunan kalian” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 169)
‘Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada Abu Musa tentang hakikat takwa. Abu Musa menjawab: ”Wahai Amirul-Mukminin, apa yang akan engkau lakukan apabila engkau sedang berjalan di tempat yang penuh duri?”
Maka ‘Umar menjawab: ”Aku akan melihat kepada kakiku. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah aku pijakkan di atas duri, ataukah di tempat yang aman”.
Inilah hakikat takwa, dengan selalu melihat setiap perbuatan kita, apakah termasuk perbuatan yang diridhai Allah Ta’ala, ataukah sebaliknya? Apabila termasuk perbuatan yang dibenci Allah, maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya. Jangan sampai Allah melihat kita berada dalam keadaan yang tidak Dia sukai.
Jika puasa adalah wadah untuk menahan hawa nafsu, maka dia juga berfungsi sebagai sarana kita dalam mencapai tujuan yaitu takwa. Dalam beberapa ceramah, dikatakan untuk mencapai taqwa itu kita harus mencapai Tawadhu, Qana'ah, dan Wara'. Setelah memenuhi komponen itu, Insya Allah diri akan berada pada derajat ketakwaan yang diinginkan orang-orang beriman. Secara sederhana, Tawadhu artinya sifat merendah atau lawan dari sombong, rendah hati atau kerelaan manusia yang menerima bahwa dirinya adalah makhluk yang rendah. Qana'ah sifat yang senantiasa merasa cukup atau lawan dari tamak, sifat yang selalu merasa bahwa apa yang diberikannya dari Allah sudah cukup. Lalu Wara' adalah hati-hati atau menjaga diri dari hal-hal syubhat atau yang tidak diperkenankan (haram) baginya. Selengkapnya bisa di baca disini.
Harusnya jika paham akan keutamaan Ramadhan dan puasa di momen ini, tentu orang-orang yang beriman tidak akan menyia-nyiakan paling tidak 30 harinya lewat begitu saja di Bulan Ramadhan ini tanpa mencapai tujuan yang diinginkannya. Hanya saja masih banyak orang-orang yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja untuk berpuasa, padahal dibalik itu ada segudang pahala bahkan semesta pahala yang dapat digenggamnya tapi segelintir orang justru mengabaikan hal tersebut. Mari berbuat kebajikan dan tingkatkan amalan di Bulan Ramadhan ini. Tingkatkan ibadah, perbanyak dzikir dan mengingat Allah, perbanyak bertaubat dan memohon ampunan-Nya, perbanyak membantu, bersedekah dan menolong sesama, dan sempurnakan ibadah terutama puasa yang dijalankan pada bulan Ramadhan saja ini.
Tidak banyak orang yang memiliki kesempatan untuk bertemu bulan Ramadhan, jika kamu punya kesempatan untuk itu maka jangan kamu sia-siakan. Raihlah derajat ketakwaan sebelum dia meninggalkanmu begitu saja tanpa tanda yang membekas. Kemarin aku membuat puisi untuk meluapkan ekspresi kerinduan terhadap Ramadhan, enjoy it!

Post a Comment

5 Comments

  1. terimakasih atas dakwahnya, alhamdulillah semakin mencerahkan. Ramadan mestinya memang selalu hadir setiap saat, hikmah berpuasa dan menahan diri itu berlaku sepanjang tahun...

    daengrusle

    ReplyDelete
  2. Semoga Ramadhan kali.ini bisa Kita lalui dengan penuh makna.

    ReplyDelete
  3. Benar sekali,,Janganlah kamu menyia-nyia bulan Ramadhan, bersyukur sekali kita bisa dipertemukan lagi dengan bulan penuh Mubarokah ini..Perbanyak amal Ibadah , dan semoga bertambah ketaqwaan kita kepada Sang Pencipta semesta Alam..

    ReplyDelete
  4. Banyak seali hikmah dan manfaat pada saat kita menjalankan ibadah puasa.

    ReplyDelete
  5. Bulan Ramadan setiap tahunnya mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang pengendalian diri dan agar selalu mendekatkan diri dengan Allah SWT ketika cobaan menghampiri..

    ReplyDelete