Pilpres 17 April 2019, Siapa yang Bakal Menang?

Header

header adsjavascript:void(0)

Pilpres 17 April 2019, Siapa yang Bakal Menang?

Semakin hari masyarakat semakin dibuat bingung dengan pilihan mereka. Tapi tentu saja, beberapa dari mereka juga semakin yakin dengan pilihannya dan bulat akan siapa calon yang dia akan berikan kepercayaan untuk memimpin bangsa ini 5 tahun ke depan. Hal ini didasari pada banyak data yang dihasilkan dari beberapa Lembaga Survei yang ada di Indonesia, meskipun ada yang memperlihatkan kemenangan 01 di beberapa daerah, dan juga kemenangan 02 di beberapa daerah lainnya, tapi yang membuatnya terlihat cukup prihatin adalah rata-rata Lembaga survei memperlihatkan angka sekitar 20% pemilih yang tidak ingin menggunakan hak pilihnya (Golput) pada tanggal Pemilihan Umum nanti. Ya, mungkin memang masyarakat semakin dibuat bingung untuk memilih yang mana. Media mainstream pun terlihat tidak begitu menampakkan hal yang sebenarnya yang diinginkan oleh masyarakat, kecuali siaran Mata Najwa mungkin. Terakhir pada episode, “Debat usai Debat”.


Bahkan seorang jurnalis di Republika mengatakan bahwa baru kali ini nanti inkumben tidak terancam kekalahannya dari oposisi, melainkan dari pihak golput. Lembaga survei tentu hanya melihat dari beberapa sampel dalam mengambil kesimpulan, tapi hampir semua Lembaga survei atau katakanlah kebanyakan dari mereka menampakkan angka yang tinggi terhadap orang-orang yang masih bingung dan yang tidak ingin menggunakan hak pilihnya di tanggal 17 April nanti. Disini tidak akan dibahas terkait para golput atau golongan putih lagi, tapi lebih kepada bagaimana respon masyarakat terhadap para Paslon, entah dari 01 ataukah dari 02 pada titik akhir pertarungan ini.

Popularitas dan Elektabilitas di Dunia Maya
Jika ditelisik dari popularitas di dunia maya tentu masing-masing pasangan memiliki suporter yang militan di media sosial. Saling serang tagar di twitter menjadi salah satu statistik penilaian atas popularitas para Paslon, entah itu dari 01 ataukah 02. Pada debat pertama tercatat, tagar dengan popularitas paling tinggi yaitu #2019GantiPresiden, yang ada sekitar 1.189.000-an twit dalam sekali 24 jam. Kedua yaitu #2019PrabowoSandi, sekitar 458.000-an twit. Sedangkan #Jokowilagi sebanyak 370.000-an twit, dan #2019TetapJokowi dengan 345.000-an twit dan paling terakhir #PrabowoSandi dengan 258.000 an twit. Dilansir dari Tempo.



Tentu media-media sosial lainnya seperti Facebook dan Instagram juga selalu menampakkan pertempuran antar para pendukung masing-masing kubu. Hanya saja memang tagar yang nampak di twitter selalu menjadi perhatian yang cukup berpengaruh di ruang publik apabila menjadi trending. Dari hari ke hari, tagar-tagar yang beradu bahkan sempat membuat pengguna twitter diluar dari Indonesia dibuat heboh. Sama seperti Seorang DJ Marshmellow yang sempat bertanya kepada masyarakat twitter terkait arti dari tagar #UninstallJokowi.

Efektifitas Kampanye
Kedua Paslon tentu selalu bersikeras mengait sebanyak mungkin pemilih yang sebisa mungkin militan dan loyal kepada mereka, melalui kampanye ke setiap-setiap daerah di Indonesia. Dilihat dari kampanye terakhir tanggal 6 dan 7 April 2019, kampanye yang masing-masing Paslon gencarkan semakin megah saja. Kampanye terakhir para Paslon entah dari 01 maupun 02 tentu bertujuan untuk semakin memperkuat barisan para pendukung dan pemilih yang memihak masing-masing dari mereka. Paslon 02 yang baru saja melakukan Kampanye Akbarnya di jakarta tepatnya di GBK menjadi pusat perhatian kembali di ruang publik utamanya di media sosial dan Kampanye Paslon 01 yang recently yaitu 6 April 2019 kemarin, di kota Batam. Dilansir dari Detikcom, Pak Presiden Jokowi tentu disambut meriah para penduduk lokal saat kampanyenya kemarin, yang diiringi dengan tabuhan musik “Kompang” khas melayu. Massa kampanye Paslon 01 ini tentu tidak ingin kalah bersaing dengan kampanye dari kubu seberang, atau oposisi. Sedangkan Paslon 02 tentu berhasil lagi menggemparkan Indonesia melalui kampanye Akbarnya yang digelar di GBK dengan mengalirkan gelombang putih di dalam stadion.













Pola kampanye kedua kubu juga terlihat berbeda, juga melalui media yang digunakannya. Tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa kubu 01 sebagai petahana akan selalu memanfaatkan kekuasaannya dalam berkampanye. Terkhusus kepada media mainstream tertentu yang dibawah penguasaannya. Bukan cuma media mainstream, tentu sebagai petahana kubu 01 juga akan berusaha memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan itu karena sebagai petahana atau inkumben, selagi masih punya kesempatan yang lebih dibanding oposisi maka selama itu pula dia harusnya memanfaatkannya sebaik mungkin. Kabar terbaru kemarin, di bioskop XXI dan Cinemax bahkan ada reklame atau iklan digital yang ditampilkan pihak bioskop sebelum memainkan film yang bakal tayang pada jadwal tersebut. Tentu dari sini mau dilihat dari sisi manapun petahana akan selalu jauh lebih unggul sebagai juara bertahan dalam pertandingan.


Society Point of View
Munculnya kasus-kasus yang tentunya bersifat merugikan masing-masing calon akan nampak berpengaruh cukup besar terhadap para Paslon terkait Elektabilitasnya. Apalagi terakhir munculnya kasus si Romi yang merupakan salah satu elite yang dekat dengan Pak Jokowi dan juga berbagai kasus money politic. Juga dulu kasus terkait Ratna sarumpaet dan cerita kelam Pak Prabowo terkait penculikan Mahasiswa 1998. Semakin hari semakin banyak desas-desus yang terekspos ke media terkait masing-masing Paslon. Lantas karena hal itu, masyarakat tentu semakin dibuat bingung akan banyaknya pertimbangan yang harus dijadikannya sebagai pengukur dan penilai terhadap masing-masing Paslon.

Tentu jika pemilih (masyarakat umum) mencari pilihan yang ideal menurutnya dan yang paling sempurna, itu tidak akan pernah bisa ada. Apalagi di Indonesia, ideal menurut Abdi belum tentu ideal menurut Abdu. Dengan sekitar lebih dari 250 juta penduduk yang ingin diayomi, pemimpin seperti apakah yang pantas untuk memimpin negara ini 5 tahun yang akan datang nanti? Kata Pak Presiden sih, Jokowi sarankan kepada kita untuk tidak memilih yang tidak punya track record dalam pemerintahan, paling tidak yang ideal itu seperti beliau, ada pengalaman jadi Gubernur dan Walikota, dan juga Presiden. Jadi apakah kita harus menautkan pilihan kepada Paslon 01? Ataukah kepada Paslon 02, karena inkumben dalam hal ini Presiden dan Wakil Presiden belum bisa memenuhi janjinya kepada masyarakat sejak awal dilantiknya sampai akhir dia menjabat 2019. Siapa yang lebih pantas?

Post a Comment

14 Comments

  1. Kampanye Akbar dI GBK kemarin dikatakan sebuah sejarah baru di Politik tanah air dengan jumlah massa yang diklaim sampai sejuta Orang.. Cuma heran juga, penelitian dari medi kompas tentang kapasitas Maksimal GbK di luar dan dalamnya maksimal 400rban..

    Para pendukung jug saling serang di medi massa.. Apa pun di 17 April nnti memilih sesuai hati nurani lebih baik.. Biar terhindar dari intimidasi dan money politic. .

    ReplyDelete
  2. Nah, kalo Ardian sendiri, apa sudah tentukan pilihan bakal nyoblos siapa nanti? Boleh donk ngasi bocoran, hehe...

    ReplyDelete
  3. Wow tagar pertama paling banyak yah,

    Sbnrnya teknik kampanyecpaling mudah dan murah adalah lewat medsos, trus bsa meng hire tokoh dan orgcternama utk mendongkrak popularitasnya

    ReplyDelete
  4. Kesadaran politik sungguh penting untuk millenial, sebagai millenial saya mulai menyadarinya sejak tahun lalu, pernah cuek tp kemudian sadar bahwa anak muda sdh wktunya memilih dan ikut serta dalam pemilu. Media mainstream sungguh berperan penting dalam membentuk citra seorang tokoh, sedangkan media sosial seperti twitter, meskipun tidak semua warga Indonesia menggunakan twitter, dampak twitter juga berpngaruh dlm mmbntuk opini publik.

    ReplyDelete
  5. saya sebenarnya kurang sreg dengan istilah "pemenang" karena benar-benar seolah seperti sebuah pertandingan.
    saya lebih cocok dengan istilah "yang terpilih" karena kan memang mereka dipilih, bukan diadu lalu disuruh bertarung.

    siapapun yang terpilih, semoga Indonesia ke depannya jadi lebih baik.

    ReplyDelete
  6. Siapapun pilihannya asalkan jangan sampai ada perselisihan jika pilihan berbeda. Kalau saya sih pilih.... kalau Kak Ardian pilih siapa?

    ReplyDelete
  7. Proses pemilu presiden tahun ini sangat melelahkan buat saya. Padahal saya cuma penonton. Saya lelah dengan saling hujat sana sini, sebar hoaks sana sini. Semoga siapapun yang menang bisa membawa negeri ini jadi jauh lebih damai lagi.

    ReplyDelete
  8. siapapun presiden terpilih pemenangnya akan tetap sama dari tahun ke tahun, para elite partai politik..

    ReplyDelete
  9. Kalau saya sih, tidak perlu menunggu tanggal 17 April. Saya cuma menantikan saat satu per satu APK yang terpasang di depan pagar rumah saya dicopot oleh Bawaslu.

    ReplyDelete
  10. saya lebih menunggu masa tenang dibanding tgl 17 April. Lelah hati ini baca saling hujat di mana-mana huhu....:(
    Belum lagi itu semua foto-foto caleg di mana-mana yang senyum-senyum terus sama saya padahal saya nda kenal.

    ReplyDelete
  11. Kesadaran politik memang penting kak.. Tapi pilihan sebaiknya menjadi rahasia sesuai sifatnya. Sangat tidak baik hanya karena pilihan malah saling menghujat dan merusak persaudaraan.

    ReplyDelete
  12. Sangat hangat di perbincangkan terutama di lingkungan kantorku,sampai-sampai mereka ada yang saling serang. Apapun pilihannya kita tetap harus menjadikan Pemilu yang damai

    ReplyDelete
  13. Menjelang pemilu makin deg degan aja yah kira-kira pasangan capres dan cawapres mana yang akan maju memimpin Indonesia. 01 atau 02. Siapapun itu yah pastinya kita berharap yang terbaik

    ReplyDelete
  14. 17 April semakin dekat di depan Mata, semoga Pesta demokarasi rakyat Indonesia ini berjalan Aman, nyaman Dan damai serta jujur Dan adil. Siapapun president terpilih nantinya, yuk mari kita dukung

    ReplyDelete