My Unfair Nation : We Really Need People Power #JusticeForAudrey

Header

header adsjavascript:void(0)

My Unfair Nation : We Really Need People Power #JusticeForAudrey

Akhir-akhir ini warga net seringkali disibukkan terkait betapa nyelenehnya regulasi yang bermunculan dari para regulator di Indonesia. Sebut saja 17 lagu yang dilarang KPID untuk disiarkan di Televisi ataupun di radio, sampai kepada wacana dimana MUI yang ingin mengharamkan platform game PUBG (Players Unknown Battleground). Tanpa adanya kajian yang lebih dalam dan pertimbangan yang lebih matang.

Tentu objektifitas terhadap tindakan hukum kadang terlihat nyata ketidakadilannya. Sebut saja beberapa tahun yang lalu yang warganet sempat geger juga saat anak kecil yang mencuri sandal seharga Rp. 50.000 dan dipenjara selama 5 tahun, dibandingkan dengan sebegitu banyaknya kasus korupsi yang tidak seberat itu saat diadili. Bahkan Komnas HAM sendiri selaku lembaga yang mengawal kasus terkait Hak dan Keadilan Sosial mengutarakan kekecewaannya saat itu. Tapi itu kasus lama, berbeda dengan hari ini, kita dihebohkan dengan sekumpulan anak-anak yang melakukan penganiayaan terhadap seorang teman sejawatnya, pelaku yang diproses hukum yaitu 3 orang. Menurutku kilas balik cukup perlu diperlukan dalam melihat perlakuan hukum terhadap objek hukum tersebut. Jika dalih "Mereka anak kecil, kasihan masa depannya" menjadi alasan untuk tidak diadilinya anak-anak, lantas batasan mereka apa? Nasehat orang tua semata? Kisah anak pencuri sandal dulu itu bagaimana? Apa hanya sebuah kecacatan hukum belaka?


Anak SMA juga secara hukum bukannya sudah bukan berstatus anak-anak lagi? Yang aku pahami, batasan usia pengenaan hukum seorang anak di Indonesia adalah pada umur 12 tahun. Kata konstitusi kita usia 12 tahun sudah relatif sudah memiliki kecerdasan emosional, mental, dan intelektual yang stabil sesuai psikologi anak dan budaya bangsa di Indonesia. Itu secara konstitusional. Makanya jika sudah menginjak umur 12 tahun, dia sudah bisa menjadi objek hukum.

Hanya saja yang lucu adalah ketika kasus ini ingin diselesaikan secara damai tanpa tindak lanjut hukum. Itu secara terang-terangan mencacati hukum yang berlaku. Bahkan secara moral, jika anak bertindak menyimpang (nakal), jika memang secara konstitusional anak tersebut belum patut dikenakan sanksi hukum, entah karena adanya cacat mental, keterbelakangan, dan mungkin belum cukup usia (umur) pengenaan tindakan hukum atau pidana maka harusnya yang bertanggungjawab adalah orang tua nya. Karena dengan penyelesaian dengan damai hanya bermodalkan "minta maaf" saja, tentu dunia akan tentram dan aman jika cara itu berhasil memberikan efek jera. bahkan bapak Hukum Tata Negara Mahfud MD mengatakan, dalam hukum pidana tidak ada istilah damai atau meminta maaf, semua harus ditindak dengan tegas sesuai dengan hukum yang berlaku. Ungkapnya di Tribunnews.

Hari ini, tepatnya 9 April kemarin warganet kembali digegerkan terkait tindakan hukum dan keadilan atas tindak kejahatan yang dilakukan sekelompok orang. Terkait kasus bullying. Menurutku ini bukan hanya sekedar bullying saja ini adalah pengeroyokan. Mungkin juga bukan sebatas itu, tapi juga termasuk tindakan penganiayaan. Yaitu adik Audrey, seorang siswi SMP di Pontianak yang kabarnya dianiaya beberapa orang pelajar dari SMA Pontianak.


Sebelumnya beberapa pihak ingin menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan dalam konferensi pers Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD). Karena katanya dengan adanya proses hukum akan memberikan dampak di kemudian hari pada mereka yang masih anak dibawah umur. Kepolisian menyelesaikannya secara damai, setelah petisi ramai kepolisian berdalih bahwa kasus ini harus diselesaikan secara hukum. Jika bersalah ya harus menanggung akibatnya secara hukum. Dilansir dari Fimela.com. Kabarnya juga pihak korban ditekan dari pelaku untuk tidak melaporkan dan menindaklanjuti kasus ini ke tempat hukum, atau korban akan mendapatkan balasan yang lebih lagi. Hanya saja Ibu Korban ingin anak-anak yang melakukan hal ini, hal keji ini mendapatkan efek jera.

Mungkin yang membuat warganet semakin panas dan gemas terkait perilaku para remaja-remaja ini sebagai pelaku pengeroyokan. Lebih cocoknya sih penganiayaan. Sekumpulan anak-anak ini setelah diproses di kepolisian, mereka membuat postingan yang seakan-akan merasa berada di posisi sebagai korban yang sebenarnya. Ini sangat keterlaluan. Pak Mahfud bilang mereka itu bengis, bukan hanya sekedar membully.

Tentu ini bukan kali pertamanya keadilan atas suatu kasus susah untuk ditemui. Hanya saja people power terlihat lebih kuat daripada sebuah materi dan kekuasaan. Petisi yang dibuat dan ditandatangani segelintir orang terakhir sore ini sudah mencapai 2.800.000 lebih partisipan sebelum petisi itu cukup 24 jam disebarkannya. Dengan tajuk, "Polda Kalbar, Segera Berikan Keadilan Untuk Audrey #JusticeForAudrey. Petisi menjadi sebuah gerakan masyarakat yang peduli atas keadilan yang berjalan di negeri ini. Amin Rais menyebutnya dengan istilah people power. Inilah people power. Jika keadilan memiliki potensi untuk kecolongan, masyarakat yang peduli akan hal itu lah yang juga memiliki kekuatan untuk menindak lanjuti suatu tindak ketidakadilan, terkhusus pada perlakuan hukum. Dan bahkan people power ini tidak hanya berhenti di kaula warga Indonesia.



Sama halnya Undang-undang Perlindungan Anak dan Peraturan Pemerintah yang masih simpang siur terhadap perlindungan anak dalam dunia pendidikan. Sebagaimana dibatasinya kekerasan terhadap murid, meskipun anak itu yang kurang ajar? Merokok diruang kelas, dan berusaha melawan gurunya berkelahi? Seperti tutur bapak Rocky Gerung, "Banyak aturan yang tumpang tindih di negara ini. Karena regulator membuat aturan yang sifatnya membatalkan aturan sebelumnya. Harusnya aturan yang dibuat itu menguatkan aturan sebelumnya, tidak bertentangan secara konstitusional". Mungkin itu sama halnya dengan paradoks kebebasan berekspresi.

Banyaknya kasus-kasus yang serupa dan senada yang terjadi harusnya menjadi perhatian yang serius bagi para regulator. Hanya saja yang menjadi pertanyaan apakah setelah terjadinya kasus-kasus serupa regulasi dapat memperbaiki diri agar menjadi titik sentral penebar keadilan pada negeri? Mungkin regulator yang hobi tidur lebih tahu terkait hal ini.

Bukan bermaksud mempojokkan pelaku. Netijen hanya melampiaskan kekesalannya terhadap pelaku karena sudah sangat kelewatan. Menurutku kasus-kasus seperti ini memang perlu pengawalan lebih lanjut. Apalagi terkait dunia pendidikan anak dan regulasi terkait perlindungan anak. Bukankah kasus adik Agni atas pelecehan seksual tahun kemarin berakhir mengecewakan? Mungkin People Power memang harus selalu ikut serta dalam proses tukar tambah keadilan.

Kejadian seperti ini mengingatkanku dengan lagunya "Sucker for Pain" dan dilirik dari Ty Dolla $ign. Lagu yang dipopulerkan melalui film D.C, Suicide Squad.


Mari sebagai tindakan kepedulian kita terhadap korban, adik Audrey dan keadilan hukum di negeri, bantu saya dengan menandatangani petisi ini? This is People Powerb

http://chng.it/nFzP7fCp

Post a Comment

12 Comments

  1. kasus ini menarik perhatian banyak orang sampai ada 2 juta lebih (kalau tak salah) yang menandatangani petisi di atas. tapi, dua hari belakangan banyak yang menyesal memainkan tagar justiceforAudrey setelah hasil visum keluar dan melihat banyak kejanggalan lain.
    kasus ini contoh yang bagus bagaimana netizen Indonesia suka tak sabaran dalam menanggapi satu isu, gampang terpancing dengan sepotong informasi :D

    ReplyDelete
  2. Dari awal mengetahui kasus ini dari media sosial, saya menjadi salah satu orang yang ikut menandatangani petisi. Dengan harapan kasus ini segera ditindak lanjuti oleh pihak berwajib. Tapi saya tidak ikut2an mengumbar dan menyebar berita2 yang terlanjur banyak beredar di media sosial. Alasannya simple, tunggu tanggapan dari pihak kepolisian dulu. Kasus ini kadung viral, sampai akhirnya saya bingung harus percaya sumber berita yang mana. Makanya lebih memilih menunggu penjelasan dan konpress dari kepolisian. Walaupun begitu, saya ikut ptihatin dan mendukung hukum ditegakkan buat Audrey.

    ReplyDelete
  3. banyaknya simpang-siur yg beredar terkait fakta kasus ini, mari kita serahkan kepada pihak berwajib untuk mengusut dan menindak.. kita jangan terpancing, lebih baik menjadikan kasus ini sebagai bahan renungan agar ke depannya kasus ini tidak terjadi lagi ada generasi kita..

    ReplyDelete
  4. Berita yang banyak membuat para Ibu takut anak perempuannya mengalami hal serupa dan berupaya untuk mencegah terjadinya seperti teman di kantor, sampai-sampai anaknya sekarang jadi di antar jemput.

    ReplyDelete
  5. Saya setuju jika pelaku dihukum sesuai aturan yang berlaku. Minta maaf tidak cukup, memang minta maaf bisa tiba2 menyembuhkan audry, enak saja. Terlebih lagi audry tidak bersalah dari awal.

    ReplyDelete
  6. Dari kasus ini, kembali terblow up wajah akhlak remaja yg begitu mirisnya, turut prihatin terhadap pergaulan kid jaman now, semoga orangtua maupun calon orangtua bisa mengambil hikmah dari kasus ini bahwa penanaman akhlak dan budi pekerti betapa pentingnya diterapkan sejak dini, apalagi dlm era digital dan globalisasi.

    ReplyDelete
  7. Gara-gara kasus ini viral saya jadi ikut tertarik dengan perkembangan kasusnya apalagi makin ke sini ternyata ditemukan fakta-fakta baru. Namun apapun itu yang pasti masalah perundungan ini gak bisa dibiarkan begitu saja ya. Apalagi korbannya sampai dianiaya. Jadi yah pelakunya tetap harus ditindaki secara hukum.

    ReplyDelete
  8. Saat ini warganet memang terlalu cepat dalam menanggapi sesuatu, bahkan terkadang hal yang belum begitu jelas.

    ReplyDelete
  9. Sekarang kasus ini berkembang ke arah yang berbeda, bikin netijen jadi bingung Dan penasaran dengan endingnya bagaimana. Tapi biar bagaimanapun, terlepas dari siapa yang salah ataupun benar pada kasus Audrey, perundungan adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi.

    ReplyDelete
  10. Untuk penulis, terima kasih karena telah menuliskan kisah ini dan membantu menyebarkan untuk meminta bantuan dukungan kepada yang lain. Tapi, saya kira kalau mau melihat dari kacamata hukum. KeAdilan di negara kita memang merupakan barang yang sangat langka. Ia sebuah hal yang sangat sulit disepakati, sulit diterapkan. Maka jangan heran akan selalu muncul kasus seperti ini.

    ReplyDelete
  11. saya juga ikut tandatangani petisinya ini
    tapi belum ada update lagi kah tentang hasil visum dan kebenaran klarifikasi pelaku dengan yang dibilang2 ke media?

    ReplyDelete
  12. Saya pribadi ikut alur kejadiann ini, perlahaan banyak lagi desas desus kembali bermunculan. Ntah siapa benar dan salah, saya tetap say no untuk bully

    ReplyDelete