Money Politic(s) Vs Golput (Golongan Putih)

Header

header adsjavascript:void(0)

Money Politic(s) Vs Golput (Golongan Putih)

Sepertinya budaya money politic sudah susah untuk melepaskan diri dari pola hidup perpolitikan masyarakat di Indonesia. Sifat politik sebagai "sarana pertukaran keadilan" sudah menjadi kenangan belaka. Berubah menjadi "sarana pertukaran kesepakatan". Sepakat jika kamu saya kasih money, maka kamu harus pilih saya. Atau jika saya kamu pilih, kamu akan saya kasih tempat duduk yang nyaman. Ini bukan sekedar bahan bercandaan, karena jika kamu melihat pemilu raya (17 April 2019) kemarin, praktik-praktik kotor dalam hal memperebutkan kekuasaan masih bersemayam di tempat-tempat yang potensial untuk bermain blackmarket of politics. Bukan hanya yang dipaparkan media mainstream saja, tapi juga yang terlihat dan terjadi di lingkungan sekitar kita.

Di lain sisi kaum apolitis (tidak terlalu peduli terhadap politik) juga cukup melekat dalam budaya perpolitikan masyarakat Indonesia. Jika dilihat pada Pilpres 2019 kemarin, pemilih yang menggunakan hak pilihnya terkhusus di pulau Jawa tercatat meningkat. Artinya pemilu yang lalu dibandingkan pemilu yang sekarang persentase golput turun 5% berdasarkan dari pernyataan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat jika dibandingkan dengan pemilu 2014. Jika golput pada tahun 2014 berada pada kisaran 30%, kata Bapak Ketua KPU Jabar Rifqy Ali Mubarok angka itu pada tahun 2019 turun menjadi 25%, dilansir dari CNN Indonesia. Tapi itu masih hasil survei atau dalam kajian akademis masih dikatakan sebuah hipotesa, dugaan sementara. Rekapan real nya tentu akan diketahui nanti setelah prosesi perhitungan suara yang dilakukan KPU selesai.


Berbeda dengan survei yang dilakukan dari Lingkaran Survei Indonesia Danny JA (LSI Danny JA) yang memaparkan tingkat golput yang berbeda pada pilpres dan pileg. Hasil yang mereka dapatkan merupakan hasil dari sampel sekitar 2.000 TPS yang dijadikannya sampel. LSI Danny JA menaksir bahwa golput pilpres bila dibandingkan dengan golput pileg menampakkan perbedaan yang cukup signifikan. Disebabkan oleh beberapa faktor dimana ditemukan hasil persentase golput pada pilpres sebesar 19,27% dan pileg mencapai 30,05%. Katanya ada banyak hal yang menyebabkan para pemilih lebih condong untuk hanya "mencoblos" presiden saja dibanding legislator. Dalam konteks ini diluar dari polemik kecurangan dimana kertas suara abu-abu (presiden dan wakilnya) yang sudah tercoblos sebelumnya. Seperti kurangnya pengetahuan dan pengenalan terhadap para caleg, tidak pedulinya dengan caleg hanya peduli pada pilpres, dan tidak adanya kesempatan karena dibatasi jarak dan waktu.

Menurutku kedua hal ini cukup memberikan irisan terhadap sikap masyarakat dalam menanggapi pemilu. Apakah dengan memilih karena adanya dorongan materil? Ataukah tidak memilih karena semua calon tidak merepresentasikan diri sebagai pemimpin yang layak? Keduanya sama-sama terdorong akan suatu hal untuk memilih pilihan yang ada.

Mungkin beberapa media telah memberitakan terkait hal ini sejak beberapa hari yang lalu, money politic. Karena pada dasarnya money politic ini selalu dibungkus dengan kegiatan yang sifatnya tidak terlihat begitu menyimpang. Umumnya orang akan diberikan uang (fee) dengan alasan dia menjadi saksi di TPS atau ikut menjadi penyelenggara saat hari pemilu. Hanya saja banyak caleg yang dengan halusnya memberikan materi berupa uang ataukah bingkisan atau hal lainnya yang dianggap bernilai kepada masyarakat dengan memberikan sebuah tuntutan untuk dipilihnya sebagai caleg. Dalam beberapa kasus terkadang uang yang diberikan adalah paketan jika mereka (pemilih) satu rumah, atau jika dia bekerja seorang diri layaknya agen biasanya diberikan perorangan tapi bekerja layaknya konsep kerja MLM. menarik orang lain agar memilih "si doi" dengan catatan "si doi" akan memberikan uang dari Rp.100.000 sampai Rp. 500.000. Seperti yang dikisahkan Kompas.com di dalam temuannya di bengkulu.

Tentu kedua sikap ini berasal dari dorongan yang berbeda. Pertama dorongan pemilih untuk memilih berdasar dari materi yang diberikan, kedua pemilih yang tidak mau memilih karena melihat semua calon sama-sama tidak berpotensi (tidak layak) menjadi pemimpin negeri.

Saya sendiri sebagai salah satu subjek pemilu juga bersentuhan langsung dengan kedua hal tersebut. Salah seorang temanku, seorang mahasiswi yang baru saja naik seminar proposal untuk karya ilmiah (skripsi) yang diajukannya bertanya terkait hak suara yang saya pegang, apakah saya akan gunakan atau tidak. Jawabanku jelas "Iya tentu saja". Hanya saja dia merespon bahwa dia tidak akan pulang jauh ke kampungnya, ataukah menghabiskan waktu untuk mengurus ini dan itu untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilu nanti. Siapapun yang terpilih nanti, ya bodo amat. Kualitasnya sama. Kurang. Kurang mapan. Paling tidak seperti itu tanggapan salah seorang mahasiswi, teman saya yang jauh beberapa hari sebelum pemilu sudah menyatakan sikap golputnya. Lain halnya dengan money politic. Ada juga agen dari partai tertentu di Makassar yang sempat mengajakku untuk menjadi "agen pengumpul suara" untuk seorang caleg kota Makassar. Dengan tawaran Rp. 700.000 dengan iming-iming menjaga TPS dan menjadi saksi, aku sempat menerimanya. Tapi tepat sampai kepada hasutan terakhirnya untuk menyuruhku mengumpulkan suara dari rumah ke rumah (dia memberikan istilah hasutan dengan mengganti kata "mengumpulkan suara" menjadi "mendata suara") dan menambahkan bonus. Di setiap satu suara yang kamu peroleh fee kamu ditambah Rp. 100.000 lagi.

Itu hanya salah satu kisah dari beberapa rentetan kisah yang bersinggungan denganku dari sebelum sampai pada hari pelaksanaan pemilu 17 April 2019 kemarin. Tentu cerita versi orang lain berbeda dan cara mereka menyikapinya juga berbeda-beda. Pada Pemilu 17 April 2019 kemarin kamu sendiri berdiri di tim yang mana? Memilih karena money politic? Ataukah tim yang memilih untuk tidak memilih (golput)? Atau tidak keduanya?

Post a Comment

13 Comments

  1. Say no to money politic and golput.

    Setiap orang harus punya prinsip untuk memilih yang terbaik menurut kata hati dan akal sehat.

    Tapi jangan sampai karena diiming-imingi, kita lantas memilih seseorang atau sesuatu yang tidak layak.

    ReplyDelete
  2. Katanya banyak yang bingung mau coblos apa untuk pileg, jadi lebih memilih untuk presiden saja. Kalo di talkshow kemarin saya nonton, katanya naik patisipasi pemilih tahun ini tapi tidak disebutkan angkanya

    ReplyDelete
  3. Calon anggota legislatif yg ikut serta kerap diberitakan melakukan praktek money politik, ironisnya rakyat yg memilih kadang kala juga mnunggu datangx serangan fajar, sebelum berakar lebih dalam budaya money politik sebaikx mmg hrs dihentikan, dikembalikan kepd rakyat sendiri, apakah mau menjadi pemilih yg cerds atau tdk. Untuk masalah Golput, dulu z pernah golput dan pernah bersikap apatis terhdp politik, tp skrg sy sadar kalau suara anak muda dan rasa optimisme harus selalu ada demi masa dpn bangsa, oleh karena itu 17 April kemarin, jemari saya telah tercelup tinta.

    ReplyDelete
  4. Saya tim memilih sesuai hati nurani. Tidak terima suap karena suara saya tidak bisa dihargai oleh uang sebanyak apapun. Takut ka dosanya wkwkwk. Saya ktp Tangsel nyoblos di Makassar, mengurus dokumen dari Januari. Alhamdulillah bisa nyoblos A5

    ReplyDelete
  5. Dak golput ka saya gank tahun ini tapi ku coblos ki semuanya 🤣. Dak ada kukenal itu nama (selain capres) sekalinya kukenal malah dak relaku pilih itu orang hahaha. Jadilah... biar adil sa coblos semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahah respon yang cukup anti mainstream juga ya kak hehe.

      Delete
  6. Baiknya kenali dulu baru coblos..Jgn sampai suara mau dibeli, klw suara bisa dibeli ,kalau dihitung sebatang rokok lwbih mahal dari suara org yg dibeli..kalau ada yg mau coba2 kasi uang utk money poliyic, tadi orangnya, jangan pilih, karena rawan korupsi,,pasti mau balik modal twwa..

    ReplyDelete
  7. Iyaaa sepertinya tahun ini Yang Golput turun banget yah dari tahun - tahun sebelumnya. Kalau dari kacamata sy sih, bisa jd angka golput ini turun karna pendukung dari kubu-kubu pemilihan presiden melakukan kampanye yang sangat kuat di media sosial dan terkesan tidak ada yang mau kalah��..yah jadinya mereka semua gak mau nyia nyiain suaranya hehe..

    ReplyDelete
  8. Saya terpaksa harus golput lagi tahun ini karena berhalangan pulkam. Sudah diusahakan juga untuk bisa memilih di TPS sini walau sekadar pilih pasangan capres tapi ternyata tidak bisa krn telat mengurus sukes pindah domisili.

    Malah ada pihak dari kantor kelurahan yang membolehkan ikut memilih asal saya harus memilih salah satu paslon presiden. Nah, kalau dikasih pilihan seperti itu ya mending saya pilih golput daripada memilih paslon yang bukan pilihan hati nurani saya.


    ReplyDelete
  9. untuk capres - cawapres saya memilih mencoblos keduanya. untuk kertas suara lainnya, saya mencoblos tanpa membuka lipatan kertas, dari depan tembus belakang :)

    ReplyDelete
  10. Menarik sekali, "Golput Golongan Putih", golput menjadi bagian yang kebal dari kekuatan money politics, golput menjadi bagian dari demokrasi yang paling bersih, dan tak terkonstaminasi carut marut politik.

    ReplyDelete
  11. sebagai masyarakat harus cerdas memilih . Sudah banyak media untuk mengetahui sepak terjang para pemimpin kita . Money politik sudah usang untuk diterapkan jika kita cerdas . kalo golput ,,,, kalo bisa jgn dag

    ReplyDelete
  12. Saya ga faham politik tapi saya memilih pemimpin yg bekerja dengan ikhlas untuk rakyat daripada harus golput karena sangat rugi apalagi saya milenial harus sering2 menyumbangkan aspirasi tentang apa yg saya ketahui termasuk ketika memilih kemarin

    ReplyDelete