Menyoal Hak Pilih Para Pemilih di Kota Makassar

Header

header adsjavascript:void(0)

Menyoal Hak Pilih Para Pemilih di Kota Makassar

Setelah pertarungan antara paslon 01 dan 02 di atas panggung dalam menyambut pesta demokrasi menuju klimaks, akhirnya kita sudah hampir mencapai pada tahapan penyelesaiannya. Yaitu tahapan pemilihan umum serentak. Ada sekitar dua pekan lagi, masyarakat Indonesia menunggu tanggal mainnya bersama KPU. Pada tanggal 17 April 2019 nanti akan digelar pesta demokrasi terbesar sepanjang sejarah di Indonesia. Tunggu, apa iya pesta demokrasi ini akan besar dan megah? Kata Bapak Ketua Komisi Pemilihan Umum, Arief Budiman sih begitu. Bahwa pemilu 2019 kali ini dijamin akan mengeluarkan banyak uang, energi, dan rasa yang besar. Menurut Arief, jumlah uang terbesar ada pada penyelenggaraan Pemilu 2019. “Karena semua ditempatkan dalam satu momen," kata Arief dalam diskusi bertajuk “Pemilu 2019 Pertaruhan Demokrasi” di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/9/2018).
Seperti yang kita ketahui, Pemilu legislatif 2019 akan digelar serentak dengan Pilpres 2019. Pemilu nanti memilih caleg DPR, DPD, DPRD provinsi, kabupaten dan kota. Kemudian memilih presiden dan wakil presiden. Namun apakah benar, pesta demokrasi ini adalah pesta demokrasi paling besar,meriah dan megah sepanjang sejarah di Indonesia? Harusnya seperti itu. Karena hampir dari segala sisi, semuanya terlihat paling besar, meriah dan megah. Apalagi percekcokan antara kubu 01 dan 02 yang kian hari makin menggila.

Beberapa hari kemarin, Ibu Endang Sari. S.IP., M.Si meng-agendakan sosialisasi Pemilu di Makassar untuk menjamin bahwa seluruh masyarakat dapat menggunakan hak pilihnya (suara) dengan baik. Ibu Endang merasa bertanggungjawab atas hal itu karena berhubung beliau salah satu bagian dari Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang bertugas untuk mensosialisasikan tata cara memilih saat hari H Pemilu serentak nanti. Ibu Endang ingin memastikan bahwa seluruh masyarakat dapat menggunakan hak suaranya secara "bebas" tanpa adanya batasan dan intervensi dari pihak luar dari dirinya. Makanya melalui sosialisasinya Ibu Endang mencoba menjelaskan dan memberikan gambaran kepada masyarakat umum agar tidak terjadi kekeliruan nantinya.

Bahkan KPU juga telah meluncurkan sebuah app yang dapat dimiliki setiap orang yaitu app yang bernama "KPU RI PEMILU 2019". Aplikasi ini konon katanya dapat membantu masyarakat dalam hal terkait penyelenggaraan Pemilu dan hal-hal lainnya. Aku sendiri belum tahu, tapi seseorang pernah memperlihatkannya dimana aplikasi tersebut dapat menelusuri para pemilih yang sudah terdaftar pada KPU di wilayah-wilayah di Indonesia. Try it!


Dalam agenda sosialisasi Ibu Endang, ada satu hal yang sangat miris yang juga disisi lain hal tersebut terlihat jelas dan sangat realistis. Yaitu terkait seberapa besar Golongan Putih (Golput) yang memilih untuk tidak memihak siapapun dan kandidat manapun dalam pemilihan umum. Apalagi di wilayah Sulawesi, Makassar adalah salah satu kota yang sumbangsih Golputnya paling besar bila dibandingkan dengan daerah-daerah yang lain. Tentu sejumlah orang akan berpikir, bagaimana bisa Makassar tercatat sebagai daerah yang memiliki tingkat Golput yang tinggi? Kota yang tergolong lebih maju dari kota-kota yang ada di Sulawesi, dan salah satu kota Metropolitan, kota paling sibuk dan kota dengan tingkat populasi penduduk yang lebih banyak dari yang lain, kota dengan tingkat pendidikan yang cukup lebih tinggi dari kota yang lain. Why?

Terkait hal ini, penyebabnya tentu ada banyak. Ibu Endang cukup menggarisbawahi sebagaimana apatisnya dan apolitisnya penduduk yang tinggal di daerah Makassar. Beliau mengatakan bahwa bahkan ada beberapa daerah (kacamatan) di Makassar yang tingkat pemilihnya yang memilih untuk tidak memilih (golput) tercatat setinggi lebih dari 60% dari penduduk yang tercatat sebagai pemilih tetap di daerah tersebut. Rekam jejak KPU mencatat saat Pilkada 2018 kemarin tingkat pertisipasi dari kaum Golput bahkan mencapai 58% di kota Makassar. Bahkan beberapa daerah itu didominasi kaum terpelajar (Mahasiswa dan Dosen). Ibu Endang mengatakan, "Mungkin penduduk disana saking rasional cara berpikirnya makanya memilih untuk tidak memilih". Ada benarnya juga, karena mayoritas penduduk yang tercatat sebagai orang yang tergolong memiliki pendidikan yang tinggi, daerahnya memiliki peminat golput yang banyak. Sedangkan di daerah yang cukup terbelakang, mampu melampaui daerah dengan mayoritas dihuni orang-orang yang berpendidikan tinggi. "Mungkin karena pada kalangan bawah, para caleg ini bisa bermain dengan materi (uang) yang dimilikinya, jadi seperti itu. Daerah yang tingkat pendidikannya tidak terlalu tinggi cenderung menggunakan hak pilihnya saat Pemilu". Sangat ironi. But this is the reality.

Aku paham bahwa setiap warga negara pun punya hak untuk menggunakan hak suaranya untuk apa dan bagaimana dia memperlakukannya. Hanya saja pilihan untuk Golput mungkin bukanlah pilihan yang terbaik. Beberapa hari yang lalu seorang teman bertanya kepadaku terkait hak pilih atau suara yang kupegang, apakah akan ku gunakan nantinya saat Pemilu atau tidak. Saat kujawab dengan tegas, "Tentu akan kugunakan!". Dia bilang, "Mungkin saya tidak", "Saya hanya tidak ingin menjadi bagian dari pembentuk sistem yang buruk". Paling tidak percakapan itu terdengar demikian. Aku melanjutkannya, "Iya sih, dari kedua paslon sama saja. Tidak ada yang layak.", dia balas, "Iya, makanya saya tidak mau pulang lagi jauh-jauh hanya untuk itu. Bikin capek". Dan saat Ibu Endang berkata bahwa warga negara yang Golput itu rata-rata tergolong sebagai kaum yang terdidik dan terpelajar, maka percakapanku dan temanku itu mungkin sudah cukup merepresentasikannya kenapa.

Jika ditelisik pada Pemilu Legislatif 2014 beberapa tahun yang lalu, tercatat kota Makassar mencapai 61,45 persen yang menggunakan hak pilihnya, dan sisanya tidak. Atau catatan KPU ada sekitar 627.178 pemilih dari daftar total pemilih 1.020.585 jiwa. Dilansir dari Beritasatu.com. Perbandingannya yaitu ada sekitar 38,55 persen pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya, atau Golput. Angka itu lumayan fantastis, melebihi sepertiga dari keseluruhan jumlah penduduk. Karena tentu hal ini akan membuat pusing KPU tujuh keliling. kenapa bisa hal ini terjadi?

Bagiku ada dua alasan kenapa kita menjadi Golput. Atau paling tidak beberapa orang memilih untuk Golput.Pertama kita tidak tahu harus memilih siapa dan yang mana. Kedua kita tidak ingin memilih siapapun dan dari mana pun. Tapi apakah Golput dapat memberikan jawaban yang tepat atas permasalahan itu?


Pertempuran antara paslon 01 dan 02 tentu terlihat sangat exhauted hampir disegala tempat. Media mainstream, ruang publik, dan di semua platform. Kata Ibu Endang juga, inilah yang juga menjadi salah satu kekurangan diserentakkannya Pemilu tahun ini. Karena tentu beberapa orang terlalu terlena dengan pertarungan antara Capres dan Cawapres saja. Bagaimana dengan para Caleg yang juga berusaha menempati kursi penguasa dalam lima tahun kedepan? Beberapa orang tentu akan luput dengan hal ini, yang dimana pada ujungnya serangan fajar pun ikut bermain. Jujur saja saya sebagai mahasiswa Makassar, beberapa pekan yang lalu sempat mendapat tawaran untuk meng-halal-kan agenda money politic ini yang disebut dengan serangan fajar. Dengan iming-iming akan diberikan uang paling sedikit satu juta rupiah, dia berusaha membujukku untuk melakukan pendataan dan memberikan hak pilihnya kepada si Caleg.

Kata Ibu Endang, "Memang kita juga tidak bisa memungkiri bahwa pada bagian-bagian tertentu partai pengusung sendiri tidak selalu memperlihatkan calon yang terbaik. Tapi paling tidak, Golput tidak akan pernah bisa menjawab itu, dan membenahi keburukan itu. Karena paling tidak dalam hal Pemilu, sebagai warga negara paling tidak kita mengupayakan untuk memilih yang tidak lebih buruk dari yang terburuk. Karena jika semua calon terlihat buruk, maka pilihlah yang tidak lebih buruk agar konsekuensi keburukannya lebih kecil. Meskipun memang sama-sama buruk". Saat ditanya i terkait, "Kita juga tidak bisa selalu menyalahkan masyarakat dalam hal Golput, karena itu hanyalah akibat, dan dari situ ada sebab yang mengakibatkan banyaknya orang memilih untuk Golput".

Tapi kembali lagi yang disampaikan tadi, menurutku memang ada dua yang menyebabkan hal itu terjadi. Pertama karena kita tidak tahu harus memilih siapa dan yang mana. Kedua karena kita tidak ingin memilih siapapun dan dari mana pun. Artinya semua pilihan memberikan konsekuensi yang jelek, dan tidak memberikan jaminan yang lebih baik. Paling tidak ini asumsi umum, dilihat dari tanggapan kebanyakan orang di berbagai media. Juga bagaimana para paslon dan pendukung dari kubu 01 dan 02 yang sengaja diperkeruh di semua ruang publik yang tersedia.

Kita dapat melihat bagaimana Headline News yang ada di berbagai media dan platform. Seperti, "Inilah Detik-Detik Prabowo Marah Saat Debat", "Inilah Kekeliruan Data Debat Pak Jokowi", "Kumpulan Blunder-blunder Pak Prabowo Saat Debat", ataukah "Pernyataan Pak Jokowi Yang Mengalahkan Pak Prabowo Telak". Nampak seperti headline biasa, tapi headline yang seperti ini cenderung memprovokasi para pembaca. Kenapa tidak dicoba untuk mengulik esensi dari debat dan substansi dari argumen saat debat? Kembali lagi, bahwa mungkin memang para pasangan ini bukanlah orang yang memiliki kapabilitas yang terbaik. Itu asumsi umum, terkait kenapa banyak orang yang memilih untuk Golput.

Tapi coba kita tekankan sekali lagi, menurut anda perubahan yang seperti apa yang anda harap dengan memilih untuk Golput? Pak Fahri Hamzah pernah bilang, Pemilu adalah bagaimana cara kita untuk tidak memberikan jalan kepada yang terburuk untuk naik berkuasa. Dan yang paling penting bagiku adalah prinsip demokrasi, "Vox Populi Vox Dei", atau Pemimpin akan dipilih dari tangan Tuhan.

Ibu Endang berpesan kepada seluruh masyarakat, terkhusus yang berdomisili di kota Makassar untuk datang ke TPS dan menyalurkan hak pilihnya dalam kotak suara nanti. Jika bingung mau pilih siapa dan dimana, mulai sekarang cari tahulah! Masih ada waktu dua pekan. Karena Golput hanya cenderung membentuk mindset yang tidak baik terhadap sistem demokrasi. Maka mulai sekarang, raihlah demokrasi itu dengan datang pada tanggal 17 April 2019 nanti untuk menggunakan hak pilih anda! Sebagai warga negara Indonesia!

Post a Comment

8 Comments

  1. Jangan sampai jumlah orang yang golput makin banyak ya di pemilu tahun ini. Harus menentukan sikap, memilih siapa, biar Indonesia lebih maju ke depannya.

    ReplyDelete
  2. TPS mungkin ya kalo TPU itu Tempat Pemakaman Umum 🙈 😄

    Semoga pemilu ini memberikan hasil yg baik krn sudah menghabiskan dana besar, sayang kalo tidak.

    Semoga pula kesadaran politik masyarakat meningkat.

    ReplyDelete
  3. Smoga tahun ini jumlah pemilihnyaa meningkat, dan yg golput segera tersadarkan amiin.

    Jd siapami kt pilih ini, hahhaa

    ReplyDelete
  4. saya sih berharap jumlah golput makin membesar, kalau bisa melebihi angka 60%
    supaya apa? supaya pemerintah dan DPR merevisi aturan pemilu yang bisa memberikan peluang sebesar-besarnya untuk mempraktikkan demokrasi.

    selama ini namanya saja demokrasi, calonnya itu-itu saja alias yang punya uang saja

    ReplyDelete
  5. Semoga pemilu kali ini saya nggak golput lagi. Pemilu tahun 2014 lalu terpaksa golput karena daerah pemilihan saya di papua sementara wkt itu saya di makassar.

    ReplyDelete
  6. Ini itu demokrasi. Tapi sekarang saya masih beluk menentukan pilihan untuk memilih capres tahun ini. Membingungkan~

    ReplyDelete
  7. lebih mudah memang menyalahkan golput daripada menekan partai untuk bisa menyodorkan kader terbaik dan menekan biaya politik berbiaya tinggi. lebih mudah menyalahkan cermin daripada merawat muka sendiri.
    satu lagi, para pendukung yang merasa lebih baik dari golput justru akan menguatkan keyakinan orang untuk golput :)

    ReplyDelete
  8. Tapi kalau dak ada yang cocok di hati siapa mi itu mau dipilih gank? Apalagi dak ada yang kita kenal ini yang calon DPRD/DPR/MPR 😅. Sekalinya di kenal hanya artis atau selebgram yang diragukan bakalan bisa kerja untuk rakyat. Dilema ta mo deh...

    ReplyDelete