Disruption (Prof. Rhenald Kasali) : Being Disrupted or Disruptor? #BookReview

Header

header adsjavascript:void(0)

Disruption (Prof. Rhenald Kasali) : Being Disrupted or Disruptor? #BookReview

Sejak beralihnya zaman dari konsep konvensional menjadi serba digital, hampir setiap pola-pola kehidupan mulai bergeser dan menggantikan pola-pola yang lama dengan cepat. Dengan kebutuhan efisiensi dari segala sisi, maka muncullah beragam inovasi yang hampir tak dapat terkendali. Kehidupan kita secara tidak langsung perlahan bergeser dan berubah menjadi lebih efisien dibandingkan dengan cara-cara kita yang lama yang pernah kita gunakan. Seperti ketika kita rindu dengan seseorang, jika kita masih menggunakan cara-cara lama mungkin kita akan menunggu kepulangan sang pujangga adalah cara yang mentok. Tapi di era serba cepat, sederhana, dan mudah ini semuanya dapat terwujud hanya sekali klik. Untuk melepas kerinduan kamu dapat menelpon si dia, atau saling berkirim voice message, ataukah video call, dan bahkan dengan video message. Jika cara-cara lama dalam menyampaikan pesan dulu masih sebatas teks-teks yang panjang. Sekarang sudah banyak platform, media, dan fasilitas gratis yang dapat menampung semua aspirasi, ekspresi, dan emosi yang ingin kamu keluarkan dan sampaikan kepada dunia. Semuanya dalam sekejap sudah tersebar ke seluruh dunia.


Mungkin tidak semua orang memikirkan betapa luar biasanya penemuan manusia saat ini, yang rumornya suatu saat di masa depan akan mengancam kehidupan manusia sendiri sebagai inkumben di muka bumi. Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya, "Disruption" ini menampakkan realita-realita kehidupan yang sering kita lihat namun jarang kita analisa lebih dalam terkait sebab akibat dan rentetan keterjadian sampai pada hasil dari suatu kejadian yang cukup kompleks. Buku yang diterbitkan pertama kali tahun 2017 yang sudah mendapatkan label "Mega Best Seller" hanya dalam kurung waktu satu tahun. Diterbitkan pertama kali oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Judul buku "Disruption" atau dalam terjemahan bahasa Indonesianya adalah gangguan atau kekacauan.

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. sendiri merupakan salah seorang guru besar dari Universitas Indonesia (UI) ilmu manajemen fakultas ekonomi UI. Dengan mengembangkan Rumah Perubahan sebagai wadah perubahan demi arah langkah pembaharuan kesejahteraan masyarakat, beliau lalu terpanggil untuk mendirikan Rumah Perubahan. Setelah beliau berhasil menyalurkan pemikiran manajemen dan bisnis modernnya di dalam buku Change! tahun 2005, buku Disruption kembali lagi menjadi ikon perubahan yang tak terelakkan sampai tahun 2019. Jika kamu buku addict, pasti kamu tidak akan bisa lupa dengan buku-buku Prof Rhenald yang selalu terpampang di rak bestseller toko-toko buku di Indonesia sampai detik ini, seperti Generasi Strawberry, Cracking Zone, Self Disruption, ataukah Self Driving, Change! dan juga Shifting. Itu hanya sekian dari sebegitu banyak karya beliau yang membawa perubahan dalam pola kehidupan bermasyarakat. Untuk kali ini akan diulas sedikit dari salah satu karya beliau, buku dengan judul "Disruption". Review Buku Disruption.

Dalam "Disruption"nya ini beliau berusaha menyampaikan kepada masyarakat bahwa dunia ini perlahan bergeser dari cara kerja lama ke cara kerja baru. Tentu tidak semua orang sadar akan hal itu, terutama para pemangku kepentingan ataukah manajer dalam sebuah instansi (perusahaan). Karenanya jatuhnya sebuah usaha besar seperti Kodak dan Nokia yang digambarkan dalam buku ini memberikan gambaran yang nyata bahwa pola petarung atau kompetitor sekarang dalam berkompetisi tidak memakai cara-cara yang umum dan nampak secara fisik lagi seperti era-era sebelumnya. Dimana kompetitor beriklan di pinggir jalan dan di layar televisi, dengan mudah kompetitor lainnya melihat dari arah mana lawan bisnisnya mulai maju. Namun konsep bisnis sekarang sudah benar-benar mengalami disrupsi. Dimana musuh-musuh bisnis mengambil jalur bawah tanah dalam menyerang. Perlahan mengambil konsumen tanpa diketahui inkumben, dan perlahan kompetitor mulai berhasil mengambil ceruk pasar tanpa disadari inkumben. Karena yang dijual bukan lagi produk, tapi layanan dan model bisnis yang baru dan berbeda dan tidak semua orang sangka bahwa hal ini bisa menjadi "ada".

Buku ini disajikan sedemikian rupa hingga pembaca dapat mendapat pesan pasti yang dimaksudkan penulis. Makanya dalam beberapa Bab dan sub bahasan penulis terkadang mengulang-ulang pernyataan yang sudah ada pada pembahasan di Bab sebelumnya. Hanya saja cara penulis mengemasnya berbeda, seperti dia memberikan contoh kasus yang berbeda namun pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca sama.

Selain itu buku ini juga dikemas dengan gambar-gambar yang berusaha menanamkan dan memahamkan konsep tertentu yang dijelaskan dalam buku. Seperti bagaimana baiknya perusahaan menghadapi suatu perubahan dan bagaimana suatu model bisnis itu terbentuk. Selain itu buku ini juga menyajikan data-data pendukung karena beberapa bahasan dari buku ini memang memerlukan data. Juga selain gambar pendukung konsep berfikir, juga gambar yang mendukung kasus ataukah cerita yang koheren dengan konsep yang dijelaskan dalam suatu Bab.



Satu hal yang membuat buku ini sangat bisa meyakinkan pembaca, yaitu bagaimana si penulis berusaha menampakkan realita yang sudah terjadi di seluruh dunia. Karena dalam menjelaskan suatu konsep berfikir, dalam memahamkannya penulis pasti akan menyelipkan beberapa cerita yang dapat menggambarkan betapa buruknya suatu konsep berfikir dan betapa baiknya konsep berfikir yang lebih maju dan modern dan disruptif. Seperti bagaimana cara Nokia menghadapi perubahan sehingga terusir dari pasar telekomunikasi, dan bagaimana kodak dilengserkan dari nahkoda produksi kamera digital, dan bagaimana keresahan BlueBird menghadapi layanan taksi online, dan juga bagaimana bisnis yang tidak berbasis pada owned economy menjadi begitu laku dipasaran dan membantu masyarakat kalangan menengah kebawah. Bukan hanya sebatas itu, suguhan cerita dan kisahnya tentu diluar dari apa yang pembaca bayangkan dan sangat begitu relevan dengan konsep yang berusaha penulis jelaskan.

Seperti saat penulis berusaha mengatakan kepada pembaca betapa buruknya jika kita bertahan pada pola pikir yang lama di era yang sangat baru. Penulis menceritakan kisah ekspedisi pertama manusia ke Kutub Selatan. Yaitu antara Tim Norwegia dan Tim Inggris. Singkat cerita Tim Inggris dalam merespon tantangan ekspedisi ini memiliki cara berpikir yang lama dan takut akan perubahan, sedangkan Tim Norwegia berusaha beradaptasi dengan perubahan untuk bisa survive. Dalam ekspedisi Pemimpin regu Inggris dengan konsep berpikir lamanya, yang memuliakan seorang pemimpin bak raja, dalam proses perjalanan dia benar-benar di spesialkan. Saat tidur saja dia tidak bersama dengan anggotanya yang disebut bawahan dalam regu ekspedisi. Juga karena menggunakan mindset lama, dalam perjalanan Tim Inggris juga membawa banyak perlengkapan yang sebenarnya tidak begitu diperlukan. Juga dengan sifat armada nya sebagai negara kerajaan, mereka membawa kuda yang bahkan menjadi beban saat perjalanan mereka karena kesusahan memasangkan sepatu-sepatu kuda yang rencananya akan membantu dalam perjalanan selama ekspedisi. Berbeda dengan Tim Norwegia, yang tidak membawa begitu banyak rombongan dan berusaha bekerjasama dalam tim. Karena merasa cuaca sangat ekstrim dan perlu adanya transaksi kehangatan bersama, maka saat istirahat pun ketua tim masih bersama dengan anggota regunya. Tim Norwegia sebelum ekspedisi sudah mempersiapkan diri terkait berbagai hal. Dia membawa anjing Husky untuk membantu perjalanannya yang dimana mereka sebelumnya khusus berlatih selama beberapa bulan dari suku Inuit (penduduk kutub), sangat berbeda dengan Tim Inggris yang seperti ingin perang membawa satu armada tempur. Dalam hal ini penulis berusaha mengatakan bahwa hilangkan egomu, beradaptasilah dengan lingkungan baru, berubahlah. Change!


Post a Comment

6 Comments

  1. Seperti Goku dalam Anime Dragonball yang terus berubah menjadi lebih kuat, manusia atau company selalu dituntut untuk survive dan mampu menghadapi perubahan, utama di era digital ini. Jujur belum pernah baca buku Pak Rhenald, setelah membaca review ini, sepertinya saya akan menengok buku beliau.

    ReplyDelete
  2. Bagus yah bukunya, ini tidak lepas dari disruptive inovation..pengaruh teknologi amat sulit untuk dihindari. .jadi bagaimana untuk kembangkan SDM spya tetap selancar dengan teknologi..

    ReplyDelete
  3. Banyak hal yang membuat Kita harus mencoba cara berpikir baru. Sungguh tantangan besar bagi Saya yang berasal dari generasi X, terutama para orang tua yang berasal dari generasi Baby Boomers.

    ReplyDelete
  4. Kayaknya buku ini menarik utk dibaca, krn ini tentang bagaimana kita hrs survive menghadapi sulitnya era digital sekarang. Semakin tinggi technologi, maka saingan semakin banyak

    ReplyDelete
  5. ulasannya menarik. sayangnya kalimat dan paragraf - paragrafnya panjang sehingga ngos - ngosan bacanya :D

    ReplyDelete
  6. Beradaptasi dengan lingkungan baru. Ini yang penting digarisbawahi. Kemampuan manusia beradaptasilah yang membuat manusia bisa bertahan. Padahal kalau dari sisi fisik, manusia kalah dari binatang. Manusia tidak punya cakar, tidak punya taring, lari kalah cepat, manjat kalah gesit, tidak ada buku tebal.

    Tapi, manusia punya kecerdasan untuk beradaptasi. Jadi, mari beradaptasi.

    Hehehe

    ReplyDelete