Alasan Kenapa Penggunaan Gadget Bagi Anak Harus Dibatasi

Header

header adsjavascript:void(0)

Alasan Kenapa Penggunaan Gadget Bagi Anak Harus Dibatasi

Sejak masuknya era digitalisasi, pola-pola hidup masyarakat terkhusus di kota-kota besar semakin hari terlihat semakin berubah. Dimulai dari pola hidup dalam hal kesehatan, hubungan sosial, pendidikan, hingga pengawasan terhadap anak. Digitalisasi tentu tidak dapat dihindari lagi, dan ini terus mendisrupsi pola hidup hampir di semua kalangan. Terkhusus untuk anak-anak, beberapa orang tua justru bersikeras untuk memperkenalkan teknologi dan digital yang termutakhir kepada anaknya. Tentu hal ini baik bagi anak dalam proses perkembangannya yang mungkin beberapa orang tua harapkan dapat "cepat" untuk beradaptasi dengan dunia digital. Hanya saja perlu dilihat juga dari berbagai sisi karena anak kecil tentu sangat rentan terhadap berbagai hal yang masih baru baginya.


Psikologi anak yang selalu ingin tahu akan hal-hal yang baru tentu membuat teknologi dan digital menjadi alat yang cocok untuk dipegangnya sebagai mainan. Tapi perlu ditekankan bahwa ada berbagai pola hidup konvensional yang "sebaiknya" tidak digantikan dengan cara digital. Apalagi jika itu terkait emosional anak dan orang tua. Sebagai orang tua, yang menjadi pendidik utama dan teladan bagi anak tentu harus bisa memberikan yang terbaik untuk sang buah hati. Karenanya sebagai orang tua kamu perlu memperhatikan beberapa hal agar kamu dapat memberikan batasan penggunaan gadget kepada sang buah hati. Apalagi anak yang masih dibawah umur (dibawah 7 tahun). Beberapa batasan yang bisa diberlakukan bisa dilihat disini.


1. Tontonan Yang Bebas Di Dunia Maya
Jika kamu paham bagaimana psikologi anak yang masih belum terlalu bisa mengontrol diri, tentu kamu juga akan berpikir untuk memberikan batasan terhadap apa yang ia tonton. Anak (dibawah umur) yang menonton film dengan unsur "Dewasa" tentu berbeda responnya dibandingkan dengan anak yang sudah cukup umur (diatas 18 tahun). Makanya pengawasan orang tua sangat penting dalam hal ini.

Tontonan anak jika berselancar di dunia digital akan menjadi semakin tidak terbatas. Masalahnya adalah di dunia maya kamu tidak dapat mengatur semua platform untuk tidak memproduksi (mempublish) video-video yang kamu tidak ingin anak-anak untuk melihatnya. Seperti video yang menampakan kekerasan, yang ada unsur seksualitas, dan unsur sensitif lainnya. Karena dunia maya tidak memiliki batasan terkait hal itu. Semua orang yang ingin meng-upload karyanya atau video yang dia inginkan untuk ditayangkan di platform penyedia streaming video tentu hanya mengikuti aturan (Terms of Service) yang berlaku di platform tersebut. Sebut saja salah satu contoh, YouTube. YouTube menjadi susah dikontrol karena banyak konten yang genre-genre nya dipadukan sedemikian rupa untuk menarik perhatian penonton. Seperti video kompilasi, gaming dipadukan vlog, review dan unboxing, juga prank yang sifatnya entertain. Alhasil jika orang tua tidak memberikan pengawasan yang intens terhadap apa yang anak tonton tentu akan memberikan dampak yang cukup "Buruk" bagi pertumbuhan si buah hati.

Ambil contoh chanel "Kimi Hime" yang menyediakan konten dengan tema gaming. Mungkin orang tua akan memberikan kewenangan kepada anaknya untuk menonton video-video yang ada di chanel "Kimi Hime". Tapi meskipun berbasis gaming, konten "Kimi Hime" juga sedikit memperlihatkan ke-vulgar-an yang sebaiknya anak dibawah 7 tahun atau bahkan 16 tahun kebawah tidak baik untuk dijadikan konsumsi mata.

2. Bahasa Yang Digunakan Di Dunia Maya
Tidak terbendungnya konten kreator yang mengekspos diri ke dunia maya tentu menjadi tantangan yang besar bagi orang tua untuk memilah-milah konten yang disentuh sang buah hati. Entah itu konten berupa video, gambar, ataukah sekedar tulisan atau suara (audio). Semuanya bisa dengan mudah menyentuh anak bilamana orang tua kurang dalam penjagaan dan pengawasan terhadapnya.

Hal ini cukup serius menurutku. Kakakku yang pertama, anaknya baru masuk Sekolah Dasar (SD) dengan umur sekitar 6 tahun adalah salah satu anak yang terkena dampak dari ini. Seringnya dia bermain Mobile Legend dan menonton video-video YouTube yang sembarangan jelas membuat cara dia memperlakukan orang-orang apalagi Ibu dan Ayahnya menjadi sedikit menyimpang. Pernah suatu waktu saat marah, dia melontarkan kata ke Ibu nya "Saya bunuh kau". Bahkan saat ku ajak main bersama terkadang dia mengeluarkan kata "Bangsat", "Anjing", dan kata buruk lainnya. Padahal dia masih berumur 6 menuju 7 tahun.

Berbeda dengan kakakku yang kedua, anaknya yang berumur 7 menuju 8 tahun juga sering mengonsumsi video-video di dunia digital utamanya YouTube. Tapi karena Ibu nya tidak terlalu memberikan kebebasan yang sangat independen ke anak maka konten-konten yang dia konsumsi dapat dikendalikan Ibunya. Saat bermain bersama dia biasa mengajakku untuk menonton cover lagu korea, Blackpink yang di Bahasa Indonesia kan, juga lagu-lagu anak-anak lainnya.

Tentu pada jaman seperti ini, perilaku anak terhadap orang tuanya dan lingkungan sekitarnya sangat dipengaruhi oleh tontonannya dan apa yang dimainkannya di gadget.

3. Efek Candu
Gadget tentu sangat memberikan efek candu. Jika orang tua memperkenalkan permainan konvensional kepada anak efek candunya tentu berbeda dengan apa yang dimainkannya di gadget. Gadget yang penuh fantasi dan menumbuhkan imajinasi tentu membuat anak-anak semakin doyan untuk terus-menerus memainkannya. Jika anak juga terus disuap dengan gadget, maka akan ada masa dimana gadget dan anak susah dipisahkan. Waktu-waktu yang digunakan si buah hati akan dihabiskan banyak oleh konsumsi gadget.

4. Kecenderungan Anti-Sosial
Main Game terus-menerus akan membuat anak merasa memiliki dunia yang asik dan nyaman di dunia fantasi di dalam gadget. Anti-sosial dalam artian dimana meski dalam keadaan yang menuntut interaksi sosial, anak lebih memilih untuk tidak masuk kedalamnya dan hal seperti ini memiliki kecenderungan terjadi bagi anak yang kecanduan dengan penggunaan gadget. Keseringan bermain dengan gadget dan lupa teman bermain disekitar tentu berdampak terhadap psikologi anak kedepannya. Merasa susah berinteraksi kepada orang-orang baru mungkin akan menjadi salah satu dampak dari kecanduan bermain gadget.

Memang dalam berbagai hal, anak perlu diperkenalkan dengan dunia digital agar tidak merasa tertinggal dari peradaban modern. Akan tetapi sebagai orang tua masih ada beberapa pola interaksi dengan anak yang perlu dijaga dengan menggunakan cara-cara konvensional. Karena dengan cara konvensional tentu akan lebih menumbuhkan emosional orang tua dengan anak lebih terjalin. Contoh kecilnya dalam hal mendiamkan seorang anak, sepatutnya tidak diberikan gadget untuk mendiamkannya tapi gunakanlah cara-cara konvensional yang menyentuh hatinya. Orang tua sebagai akses emosional terpusat bagi anak harus memberikan perhatian lebih. Terkhusus untuk penggunaan gadget, berilah batasan-batasan agar anak menjadi didikan orang tua bukan didikan konten kreator di platform online.

Post a Comment

6 Comments

  1. sebaik - baik bagi anak adalah orang tua. sayang, banyak orang tua yang menyerahkan pengasuhan anak pada kuasa gawai. too bad.

    ReplyDelete
  2. Saya suka kasihan sama anak2 yang sebagian besar waktunya habis untuk gadget. Kadang orang tua juga sih yang salah, karena nda mau diganggu mereka ngasih gadget ke anak dengan harapan anaknya jadi diam dan tenang.

    ReplyDelete
  3. Kalo anakku nonton Youtube, saya putarkan lewat tv, jarang dia nonton lewat HP.
    Karena kalo lewat TV mesti saya yang ganti atau cariin yang mana pantas dia tonton. Kalo di HP kan, dia bisa pencet-pencet sendiri.

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya tulisan ni juga reminder bagi saya yang juga sepertinya masih kecanduan gadget. Tentu, saya harus lepas dari candu gadget ini dulu baru biaa mengajar anak2 untuk tidak kena candu yang sama. Soalnya anak2 kan kebanyakan meniru ortunya ya jadi di sini ortu juga harus bisa memberi contoh yang baik.

    ReplyDelete
  5. Tulisan ini juga reminder untuk saya. Masalahnya ada masa dimana saya butuh waktu untuk diri sendiri biar waras dan gadget itu sangat membantuku bisa menikmati waktu sendiri. Jadi memang ya.... mungkin bakalan beda kalau saya punya nanny sih. Terus ada yang bisik-bisik, orang dulu saja gak ada yang bantuin anaknya gak dibero gadget kok... hmmm... yasudahlah

    ReplyDelete
  6. Pengaruh teknologi memang banyak sekali berdampak pada kehidupan sehari hari , termasuk pada anak anak . Selain kebijakan dari orang tua, lingkungan juga bisa mempengaruhi penggunaan gadget di kalangan anak anak . seperti di daerah saya masih banyak anak" maen gaplek , layang" , sepak bola . Malam hari baru mabar game online sampe jam 9an . Pada akhirnya semua dimulai dari kita

    ReplyDelete