Primadona Uang Elektronik (LinkAja x OVO x Gopay x Dana)

Header

header adsjavascript:void(0)

Primadona Uang Elektronik (LinkAja x OVO x Gopay x Dana)


Penggunaan uang elektronik tentunya semakin hari semakin meluas. Dapat dilihat dari total pemakaian uang elektronik yang serupa yang disediakan di berbagai platform dan fintech. Selain Primadona Uang Elektronik yaitu OVO dan Gopay, tentu masih ada beragam dompet elektronik lainnya yang menyediakan jasa serupa. Sebut saja Dana yang masih hangat-hangatnya berdiri, BukaDompet dari BukaLapak, VOSPAY, Doku, TokoCash dari Tokopedia, ShopeePay dari Shopee, dan tentunya yang baru launching beberapa hari yang lalu yaitu T-Cash yang sekarang ber-evolosi dan bermetamorfosis menjadi LinkAja. Tentu semua layanan uang elektronik ini memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para penggunanya. Hanya saja dalam pertarungan menjadi pusat dompet elektronik yang digunakan di seluruh penjuru Indonesia, siapa yang akan menjadi juaranya?


Sekarang ini gencar-gencaran promosi yang dilakukan beberapa layanan penyedia uang elektronik sangat disruptif dan beresiko. Tech in Asia ID mengungkap bahwa peperangan yang paling besar saat ini yaitu perebutan dominasi pasar fintech antara Gopay dan OVO. tentunya konsumen merasa sah-sah aja dan nyaman dengan semua cashback dan promo luar biasa lainnya yang dua primadona layanan uang elektronik ini. Apakah sebagai konsumen anda tidak tertarik untuk menggunakan layanan transportasi dengan biaya hanya Rp.1 saja? Ataukah promo sampai 50 hingga 80 persen? Sampai saat ini masing-masing pihak belum memberikan pendapatnya kapan promo besar-besaran ini mencapai titik akhirnya. Hanya saja mereka mengaku bahwa dengan banyaknya konsumen dan dominasi pasar yang dikuasai, entah itu OVO ataupun Gopay akan mendapatkan investasi besar-besaran juga dari investor besar diluar.

Dalam prinsip pemasaran, memang selalu terkait dengan konsep "bakar-bakar uang" demi eksistensi pelayanan dan perusahaan. Dalam upaya antara Gopay dan OVO terhitung pada belakangan ini sudah menghabiskan belasan miliar demi merebut tahta kekuasaan uang elektronik di Indonesia. Demi menguasai pasar, pertarungan kedua layanan ini terlihat seperri pertarungan tahta kekuasaan republik, capres dan cawapres. Just kiding.

Pada ujungnya kedua kubu ini sama-sama mencoba untuk memasyarakatkan sistem uang elektronik secara menyeluruh ke penjuru Indonesia. Dimulai dari pembelanjaan kecil di minimarket ataukah kopi di cafe-cafe, sampai pembelanjaan besar berupa handphone, dan laptop. Untuk beberapa layanan yang paling besar dan fame nya paling tinggi yaitu Dana, Gopay, OVO, dan juga tentunya LinkAja atau T-Cash milik negara. Gopay sejak awal sudah dapat berdikari dan menjadi top leader sebagai super app layanan uang elekteonik di Indonesia. Pesaingnya sendiri sudah mulai mencari partner dalam pertarungan ini. Seperti Dana yang berkolaborasi dengan Bukadompet nya Bukalapak, dan OVO yang berkolaborasi dengan Tokopedia, dan Grabpay.


Apakah ini pertempuran dalam merebut tahta "top of capitalisme"? Ada banyak potensi blur yang dapat terjadi jika para penyedia layanan uang elektronik ini berada pada posisi teratas dan sudah mendominasi sistem pembayaran dan transaksi uang yang ada di Indonesia. Kenapa? Karena OVO dan Gopay bukanlah perusahaan milik negara yang dapat dibatasi kewenangannya dan jangkauannya. Sampai saat ini yang saya ketahui, melalui regulasi Bank BI sebagai pusat kegiatan perbankang di Indonesia dan juga Kemenkeu sebagai tonggak regulasi terkait perekonomian bangsa lah yang dapat memberikan batasan atas aksesibilitas dari kedua kubu. Tentu pemerintah terutama Kemenkeu juga tidak boleh lengah terhadap para perusahaan Fintech lainnya, termasuk Dana. Tahun lalu BI masih memberikan batasan jumlah saldo maksimal yang dapat disimpan user ke dompet digitalnya, yaitu maksimal saru juta rupiah.  Tapi belakangan ini saya pernah mendengar bahwa ada dompet digital yang dapat diisi hingga nominal tujuh juta rupiah. Mungkin masih kabar burung, tapi pada bagian ini BI memang masih mempertimbangkan banyak hal, juga Kemenkeu tentunya terkait dengan nominal maksimal yang dapat disimpan di dompet eletronik para user e-money. Lantas bagaimana nasib perbankan dihari kedian nantinya?

Beberapa hari yang lalu Kementerian BUMN pun berusaha menampakkan diri bahwa BUMN juga dapat unjuk gigi dalam hal pengembangan pelayanan uang elektronik. Sebelumnya T-cash milik Telkom merupakan salah satu layanan uang elektronik yang cukup tua di Indonesia, dan beberapa BUMN yang menyediakan layanan uang elektronik seperti Bank Mandiri berusaha bersatu demi memajukan perekonomian negara dan menampakkan diri kehadapan masyarakat bahwa Pemerintah juga punya daya saing dan nilai jual pada bidang ini.



Kita dari sekarang dapat membayangkan bagaimana kehidupan berjalan beberapa tahun kedepan. Dimana sistem pembayaran tunai sudah tidak jaman lagi, digantikan dengan sistem yang serba digital. Mungkin untuk membuatnya diterima secara menyeluruh masih membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi paling tidak, layanan uang elektronik ini sudah mulai menjangkau kalangan-kalangan milenial yang pola hidupnya serba cepat dan efisien. Anda sendiri pakai fintech apa sekarang?

Post a Comment

7 Comments

  1. Kemarin-kemarin saya dapat e money dari komunitas blogger tapi saya nggak tahu ini jenisnya ovo, gopay atau apa gitu. Pun tidak tahu cara menggunakannya. Kentara banget kudetnya but thanks baca postingan ini saya jadi sedikit tahu tentang uang elektronik (e-money).

    Apa mungkin kedepannya orang2 akan beralih ke e-money ya?

    ReplyDelete
  2. Sampai saat ini memilih pakai satu saja karena merasa kebutuhan sudah terpenuhi.

    ReplyDelete
  3. menarik ini perkembangan e-Money belakangan ya,
    yang saya garis bawahi bahwa sistem ini mengedepankan TRUST dan SECURITY dalam penyimpanan uang dabn bertransaksi, sesuatu yang dulu sekali susah dibangun. Namun dengan kemudanan teknologi, juga keniscayaan sistem security, jadinya orang mulai beralih ke belanja cashless... menarik.

    ReplyDelete
  4. Sebagai orang yang sekarang tinggal lebih banyak di pedalaman, uang elektronik atau e money belum jadi kebiasaan di sini.

    Orang masih pakai cash seperti biasa.

    ReplyDelete
  5. Menurut saya transaksi via online itu lebih mudah dibanding tunai. Jika kedepannya transaksi tunai hilang dan digantikan secara online. Saya mendukung sekali hehe

    ReplyDelete
  6. Sampai hari ini, andalanku masih OVO..selain bisa di tautkan dengan berbagai aplikasi e-commmerce ,gampang pula isi saldonya..Fitur andalan transfer uang gratisantar bank di Indonesia..cocok dipake buat bisnis..

    ReplyDelete
  7. Nda bisaka itu e-money satu saja? Jadi bisa satu kartu utk segala keperluan, bayar tol, tiket bioskop, beli makanan dan lain2

    ReplyDelete