Duel Sengit Marketplace di Indonesia

Header

header adsjavascript:void(0)

Duel Sengit Marketplace di Indonesia

Jika beberapa waktu yang lalu kita sempat melihat pertarungan antara primadona-primadona penyedia jasa uang elektronik (unik) di Indonesia, maka kali ini pasar publik kembali digencarkan dengan pertarungan yang tak kalah serunya antara para primadona marketplace yang berbasis online. Dapat dilihat hampir diseluruh jajanan promosi dan periklanan mainstream, berlomba-lomba memasuki pasar publik dengan gencar-gencar memasarkan promosinya yang besar-besaran. Apalagi akhir Maret 2019 ini, pertarungan perebutan pangsa pasarnya terlihat semakin memanas. Perang promosi besar-besaran yang berkelanjutan ini antara Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan Lazada, juga Blibli tentu terkesan seru dan menarik bagi para konsumen. Namun dibalik itu, para primadona marketplace ini nyatanya bersaing untuk menarik user atau konsumen sebanyak-banyaknya dibandingkan dengan para pesaingnya. Sama halnya dengan perang primadona antara penyedia layanan uang elektronik beberapa bulan yang lalu, masing-masing berharap dijuluki gelar bahwa dialah yang merajai pasar perdagangan online di Indonesia.



Pertarungan seperti ini mungkin bukan hal yang baru, hanya saja cara masing-masing kompetitor ini dalam bertarung betul-betul diluar dugaan. Incumbent mestinya sudah kalah telak dengan pola-pola promosi yang terkadang dilakukan start-up dan online-based business di jaman sekarang ini. Mau bagaimana lagi, pola pikir yang usang dan penyelesaian masalah yang jadul tentu membuat bisnis proses yang kau jalankan semakin hari semakin tertingal. Bukan, bahkan mungkin semakin jam, dan semakin berlalu setiap menitnya, bisnismu semakin tertinggal kebelakang. Persis seperti teori Disruption yang diperkenalkan Kristensen, atau dalam bukunya Pak prof Rheinald Kasali, yaitu Disruption menjelaskan banyak hal-hal yang tentu sangat berbeda terhadap bagaimana cara tanggap para manajemen dijaman dulu dan jaman sekarang.

Duel perebutan pangsa pasar ini mungkin tidak terlalu dilihat dan diperhatikan secara khusus si users atau para pelanggan. Karena mereka pasti akan merasa nyaman-nyaman saja dengan Mobil yang dijual seharga Rp. 10.000 sampai dengan Rp. 12.000 untuk satu unit, dan juga emas beberapa gram yang nilainya Rp. 30.000.000 sampai dengan Rp. 60.000.000 dijual hanya dengan harga Rp. 5.000 dan Rp. 10.000 saja. Apa promosi ini tidak menggiurkan bagi para konsumen? Hanya saja tentu dibalik itu semua ada harapan lebih yang ingin dicapai oleh para pengemban dan penyedia layanan tersebut, dibalik segala risiko yang bakal muncul dan diskon-diskon yang begitu gila. Gila bagi saya.


Jika diperhatikan baik-baik, mungkin pertarungan perebutan kursi penguasa pangsa pasar marketplace berbasis online dan digital ini lebih didominasi oleh Shopee dan Bukalapak. Meskipun Tokopedia dan Blibli juga berusaha menarik konsumennya dengan cara yang tidak segila Shopee dan Bukalapak. Dan juga Lazada yang masih bermain aman. Shopee dan Bukalapak, pertarungan antara pengembang yang berasal dari Singapura dan Indonesia. Shopee sendiri sudah berhasil merajai beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Taiwan, Filipina, Thailand, dan juga Vietnam. Sedangkan Bukalapak sendiri adalah karya original hasil buah pikir anak bangsa, milik Indonesia secara autentik.












Tentu yang dikejar sama halnya apa yang dikejar pengemban Gojek dan Grab beberapa waktu silam. Yaitu investor. Semakin banyaknya pengguna aktif yang bertransaksi ataukah menggunakan produk atau layanan dari masing-masing marketplace, entah itu Shopee ataupun Bukalapak tentu membuat para investor, utamanya investor luar secara global semakin tertarik untuk menanamkan benih-benih investasinya untuk marketplace tersebut. Mungkin Bukalapak masih terbilang baru mulai mengawali debutnya sebagai marketplace top di Indonesia, tidak seperti Shopee yang sudah aktif sejak tahun 2014 di Asia tenggara. Hanya saja perkembangan Bukalapak tak kalah dari semua pesaingnya. Mulai dari pengembangan fitur-fitur, kecepatan tanggapnya costumer service, dan proteksi terhadap kegagalan ataupun bug pada aplikasi dan web resmi Bukalapak. Jika dilihat beberapa tahun terakhir, terkhusus pada tahun 2018 dan 2019 ini, Bukalapak termasuk marketplace yang perkembangannya cepat dan lebih signifikan dari yang lain. Dari seluruh aspek. Aspek pemasaran, pelayanan, dan keamanan. Sebagai bangsa Indonesia, patutnya kita dapat lebih mendukung hal ini. Namun Shopee nyatanya lebih unggul di mata masyarakat sejak boomingnya goyang Shopee dan dijadikannya Blackpink sebagai ikon promosinya beberapa waktu silam.

Tentu pertarungan antar bisnis selalu berupaya untuk melengserkan kompetitor lain demi menempati tahta tunggal. Tapi tetap saja, pasar Shopee dan Bukalapak masing-masing memikiki pasarnya masing-masing. Shopee masih saja dengan sikap superiornya tidak melakukan kerjasama dengan pengemban e-wallet ataupun e-money yang ada di Indonesia. Tidak seperti Bukalapak yang sudah memudahkan pembayaran transaksi dengan menggunakan dompet elektronik dana. Tapi disitu juga dapat dilihat kredibilitas Shopee dan loyalitas konsumennya. Sepertinya Shopee dalam pertarungan ini masih memiliki amunisi yang cukup banyak untuk siap mengalahkan Bukalapak dalam hal promosi. Namun akan seperti apa pertarungannya kedepan? Menurut saya tidak akan ada yang menjadi primadona tunggal dan mendominasi pasar publik secara tunggal. Karena sifatnya marketplace ini adalah bagaimana membuatnya tampak semenarik mungkin setiap waktunya dan seindah mungkin kepada semua konsumen. Tentu konsumen akan selalu berusaha memilih-milih dan membandingkannya. Apalagi kalau persoalan harga.

Duel sengit ini tentu tidak akan berujung sampai salah satu dari mereka gugur dalam pertarungan. Lalu hanya menyisakan satu orang pemenang, dan itu tidak akan mungkin terjadi. Juga investor luar pasti memiliki kecenderungan yang berbeda-beda, terkait investasi yang ingin diberikannya kepada marketplace yang berkembang di Indonesia. Bagaimana menurut anda?


Post a Comment

8 Comments

  1. Model bisnis marketplace dari toko online ini berbeda, namun dari sisi kebutuhan investor menjadi penentu dalam keberhasilan usaha. Tinggal bagaimana para marketplace ini juga mengedukasi konsumen tentunya

    ReplyDelete
  2. Kalau soal harga sebenarnya nda terlalu jauh beda antara 1 marketplace dengan yang lain. Karena seller yang di dalam juga samaji, jualan di shopee, jualan di bukalapak juga atau tokopedia. Buat saya pribadi, yang membuat tertarik lebih ke promo ongkirnya sih. Mana yang gratis, atau kasih subsidi, itu yang saya pakai.

    ReplyDelete
  3. Duel marketplace emang seru, dan akhirnya yang diuntungkan adalah customer. Tapi, bukan cuman untung, kadang malah harus bingung dulu menentukan pilohan, hihii..

    ReplyDelete
  4. Duel ini tentu menguji kreativitas dan strategi si empunya untuk mencari cara menarik perhatian pelanggan. Yang paling booming memang adalah goyang shopee termasuk di kalangan siswa SMA. Walaupun sementara les tak lupa mereka goyang shopee hehe

    ReplyDelete
  5. yang dimaksud inkumben dalam persaingan marketplace ini siapa yah? atas dasar apa ia disebut inkumben? pengen tau aja sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Inkumben ini adalah para pemegang atau penguasa pangsa pasar dijamannya sebelum jaman disruptif masuk hihi. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya saya mengambil referensi dari Prof Rheinald Kasali. Jadi inkumben yang dimaksudnya yaitu mereka yang masih menggunakan cara2 lama dalam proses bisnisnya sedangkan pola pikir dan pola hidup manusia dalam bertransaksi semakin berbeda.

      Delete
  6. Duel sengit ini sangat terasa memang, yang untung yah costumers. Cuman saya memang kurang minat berbelanja online. Sukanya langsung biar bisa tahu gimana produknya.

    ReplyDelete
  7. Persangian marketplce memang sengit untuk menarik kounsumen berbelanja..Berbagai diskon di tawarkan sehingga jadi bingung juga mau berbelanja di mana..

    ReplyDelete