Movie Review: Dilan 1991, Sudah Nonton?

Header

header adsjavascript:void(0)

Movie Review: Dilan 1991, Sudah Nonton?

Dilan 1991 kali ini berhasil lagi mengguncang seluruh cinema yang ada di Indonesia, sama seperti Dilan 1990 tahun kemarin. Tepat di hari ke-9 setelah munculnya di layar tancap, Dilan 1991 sudah mencapai 4.185.000 penonton dari seluruh Indonesia. Sebuah pencapaian yang besar, bukan? Itu salah satu alasan yang membuat Dilan 1991 adalah Film yang wajib anda tonton di tahun 2019. Kita kesampingkan dulu soal penolakan penayangan Dilan 1991 di Makassar.

Dalam film Dilan 1991, cerita yang disuguhkan akan terlihat sama seperti pada film sebelumnya, Dilan 1990. Hanya saja pasti cerita cinta antara Dilan dan Milea berlanjut lebih panas lagi di Dilan 1991. Jika anda menonton Film Dilan, pasti ada "punchline" yang selalu berhasil kamu bawa pulang untuk dijadikan bahan bercandaan atau cerita bersama orang lain diluar. Seperti pada Dilan 1990, ada cuitan "Jangan rindu, berat biar aku saja", dan bagaimana saat Dilan memberikan hadiah kepada Milea saat berulang tahun. Sebuah keberhasilan tersendiri dari sebuah film menurutku, jika penonton mampu membawa pulang sesuatu dari film yang telah di lihatnya di layar tancap. Pada Dilan 1991 kali ini bagi saya, juga ada beberapa punchline yang menurut saya bisa membuat penonton kepikiran saat keluar dari bioskop dan tertawa-tawa sendiri saat mengingat cuplikan filmnya. Kamu belum nonton Dilan 1991? Klik ini kalau kamu belum.



Pertama tentu saat Dilan bermesraan dengan Milea di rumah Milea tengah malam, dimana keduanya sama-sama terlihat bimbang untuk melakukan apa. Dilan pun lalu mulai menyimpan gelas yang dipegangnya ke meja, lalu membuka tangannya membentuk mulut seperti saat memainkan boneka tangan sambil berkata, "Mau diwakili, atau langsung". Maksudnya, kamu mau cium nya pakai gimmik tangan seperti kemarin, atau mau cium langsung. Kedua yaitu, saat Dilan pamit ke semua guru-guru nya karena dia dipecat dari sekolah. Lalu saat Dilan beranjak dari ruang guru, seorang guru memanggilnya dengan sebutan "Abdul". Lalu Dilan menjawabnya, "Dilan Pak". Lalu si bapak guru melanjutkan, "Kamu tahu kepanjangan dari Dilan apa?", "Gaki tau Pak", "Hadi-hadi di jalan".

Terakhir dari saya yaitu, saat Milea dan Dilan sudah berpisah sekian lama dan bertemu di tempat yang tidak mereka duga. Saat melihat Dilan, Milea sempat tidak percaya bisa melihatnya setelah sekian lama mereka tidak berjumpa. Saat Milea mulai Mendekati Dilan dan memanggilnya, "Dilan?". Dilan berbalik, dan Milea dengan sontak berkata, "Masya Allah". Tiga punchline tersebut cukup melekat di kepala saya sebagai salah satu penikmat film.

Paling tidak setelah menontonnya, saya membawa keluar, "Hadi-hadi di Jalan", "Mau diwakili atau langsung?", dan "Masya Allah" nya si Milea sebagai alat tongkrongan lagi. Anda juga pasti akan ketawa-ketawa sendiri mendengar semua rayuan-rayuan Dilan yang ditujukannya ke Milea.

Tapi sebagai penikmat film, saya sangat mengapresiasi cerita yang disuguhkan dalam film Dilan ini. Entah itu dari Dilan 1990 dan juga di Dilan 1991. Karena selain dikemas dengan cara unik, sosok Dilan juga berhasil memberikan kesan tersendiri dan Iqbal Ramadhan sebagai pemerannya yang berhasil membentuk kedirian Dilan itu sendiri di dalam film. Epic. Nailed it! Saya bukan pecinta cerita romance, dan saya tidak membaca novel Dilan. Pegang pun belum pernah. Tapi cerita Dilan ini, saya menontonnya dan sepertinya rasanya saya juga dapat membacanya seperti sebuah novel. Film Dilan 1991 ini selain memberikan kesan romantisme yang sangat unik dibanding dari film-film genre romance lainnya, juga berhasil membawa emosi penonton untuk masuk kedalam kisah cinta antara Dilan dan Milea. Dengan sedikit unsur komedi absurd yang diselipkan, menonton film Dilan 1991 membuat para penonton hanyut dalam ceritanya.


Pada Dilan 1991 ini, Milea sendiri yang mencoba menceritakan bagaimana sosok si Dilan ini setelah lama tidak pernah berjumpa lagi. Dimulai saat Dilan di skors dari sekolah karena perbuatannya yang "kurang ajar" di sekolah, kisah cintanya yang penuh romantisme bersama Milea, saling serang antar geng motor, Dilan yang harus pindah sekolah, Dilan yang diusir dari rumahnya, Dilan yang ditahan karena tertangkap berkelahi, salah seorang teman dari geng motornya yang meninggal karena dihajar orang tidak dikenalinya, Milea yang berusaha mengubah watak si Dilan, lalu mereka putus, dan sampai mereka bertemu kembali setelah lulus dari sekolah dan kuliahnya.

Cerita dalam film Dilan 1991 ini pun berhasil menghipnotis para penonton. Asumsi bahwa Dilan dan Milea akan terus bersama pun akan terbangun, karena kemesraan diantara mereka berdua benar-benar melekat dan tak terpisahkan. Kedua orangtua mereka pun sama-sama menyetujui hubungan yang terjalin diantara mereka berdua. Sampai disaat ketika Milea mengatakan bahwa "Kita putus Dilan!". Dilan merasa bersalah dan mengatakan kepada dirinya bahwa dia adalah pacar yang gagal. Mereka pun lalu berpisah dan berusaha menjalani hidupnya masing-masing tanpa saking bertaut satu sama lain lagi.

Hati dari seorang Milea sebenarnya masih bertaut kepada Dilan, hanya saja kata Milea, hidup harus tetap berjalan. Saya harus menjalani hidup sebisa mungkin, jika memang harus tanpa Dilan lagi didekatku.

Bagaimana menurutmu Dilan ini? Menurutku karya ini salah satu Masterpiece yang ada di Indonesia.

Post a Comment

14 Comments

  1. saya kok tidak bias membawa pulang sesuatu yang seperti 'rindu itu berat, cukup aku saja' seperti film Dilan 1990 yah. Dibanding film sebelumnya, Dilan 1991 ini menurut saya biasa saja.

    ReplyDelete
  2. Saya nda bisa komentar banyak2 tentang film ini karena sy belum nonton, dan sayangnya juga saya nda begitu tertarik dgn film yang milenial2 seperti ini. Mungkin karena nda se-zaman atau sudah kadung viralmi... hehehe

    anyway, keep blogging cess.,

    ReplyDelete
  3. Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira kalau ada film Dilan berikutnya bakal laku lagi, ndak ya? :D

    Tapi memang ya kalau menonton film, ada saja bagian yang kita ingat betul sampai bisa dijadikan bahan tulisan :)

    ReplyDelete
  4. Apakah cuma saya yang belom nonton film pertama Dilan 1990 dan 1991 ini? Duh, saya terperangkap pada film animasi kesukaan anakku, setiap kali ke bioskop. Hiks..

    ReplyDelete
  5. Klo mnrt sy kisah cinta mreka agak rumit sih, soalnya ga ketemu2 di ujungnya. Padahal netizen maunya mreka bersatu selama2 nya hahaha

    Tp mngkin itu trik suoaya film dan bukj dilan laris sampe akhir

    ReplyDelete
  6. Saya masih ragu-ragu mau nonton film ini, karena banyak review yang saya baca bilang biasa saja. Baca novelnya pun saya ndak tuntas, baru beberapa halaman sudah bosan. Hahaha

    ReplyDelete
  7. Kalau ditanya soal filmnya saya tidak belum bisa memberikan pendapat karena saya sendiri belum nonton hehe. Tapi saya bisa bilang kalau pemerang Dilan sangat tampan hehehe

    ReplyDelete
  8. Mungkin karena beda zaman ya, makanya saya nda tertarik sama film ini. Filmnya sebelumnya juga hahaha.

    Tapi senang juga lihat film Indonesia bisa merajai bioskop dalam negeri.

    ReplyDelete
  9. Sudah lihat juga kak, dan saya yakin keseluruhan tidak ada yang perlu dipermasalahkan dalam film ini. Oh iya, padahal film ini menceritakan masa SMA di era tahun 90an loh. Tapi kenapa peminat dari generasi itu malah kurang yah, banyak review anak SMA 90an saya liat film ini sangat cocok buat nostalgia��.

    ReplyDelete
  10. Malah kebalik ya saya justru belum pernah nonton film Dilan *yaak ketinggalan banget tapi novelnya mah udah. Justru saya sempat heboh banget setelah baca novel Dilan 1990 dan 1991 karena novelnya emang kueeren aabiss tapi gak tahu napa setelah novelnya diangkat ke layar lebar malah saya nggak antusias gitu. Tapi ya tetap saja saya penasaran sama cerita Dilan setelah difilmkan jd semoga bisa juga nonton filmnya nanti meski bukan di bioskop.

    ReplyDelete
  11. Malah kebalik ya saya justru belum pernah nonton film Dilan *yaak ketinggalan banget tapi novelnya mah udah. Justru saya sempat heboh banget setelah baca novel Dilan 1990 dan 1991 karena novelnya emang kueeren aabiss tapi gak tahu napa setelah novelnya diangkat ke layar lebar malah saya nggak antusias gitu. Tapi ya tetap saja saya penasaran sama cerita Dilan setelah difilmkan jd semoga bisa juga nonton filmnya nanti meski bukan di bioskop.

    ReplyDelete
  12. Menurutku sih Dilan 1991 ini satu level di atas “b aja” tapi belum bisa dibilang keren. Jalan cerita lebih kuat, konflik lebih terasa, tapi alur lambat.

    ReplyDelete
  13. Saya belum nonton film Dilan 1991 ini. Tapi yaa ndak penasaran penasaran amat sih, soalnya sudah selesai baca semua bukunya.

    ReplyDelete
  14. menurut saya bagus yang dilan 1990

    ReplyDelete