Degradasi Nilai-nilai Akademisi Mahasiswa (Menyoal Aksi-Demonstrasi Terhadap Film "Dilan 1991" di Makassar)

Header

header adsjavascript:void(0)

Degradasi Nilai-nilai Akademisi Mahasiswa (Menyoal Aksi-Demonstrasi Terhadap Film "Dilan 1991" di Makassar)

Mahasiswa selalu diidentikkan dengan ke-Maha-an nya sebagai kaum terpelajar. Katanya Mahasiswa adalah level tertinggi dari status seorang kaum terpelajar. Makanya terkadang prang-orang mengatakan bahwa anda akan mulai menemukan kedirian anda atau jati diri anda saat beranjak menjadi Mahasiswa. Kedewasaan seorang pelajar akan mulai terbentuk ketika dia sudah menyandang status Mahasiswa.

Sebagai kaum akademisi tentunya sikap intelektual tak lagi dapat dipisahkan dari seorang penyandang status Mahasiswa. Namun bagaimana dengan aksi-demonstrasi yang juga seringkali menjadi bagian yang cukup melekat erat kaitannya dengan sebutan Mahasiswa? Tentu kalau menurut saya, itu juga sah-sah saja. Hanya saja yang menjadi masalah adalah sterepotipe yang dibangun atas istilah aksi maupun demonstrasi itu, yang juga selalu disandingkan dengan yang Namanya Mahasiswa. Karena pada dasarnya aksi atau demonstrasi yang dilakukan oleh Mahasiswa adalah aspirasi Masyarakat. Mahasiswa adalah representatif dari keresahan, kegundahan, ataupun curahan hati dari segenap rakyat yang merasakannya. Hanya saja beberapa tahun terakhir ini seringkali terjadi aksi atau demonstrasi yang dilakukan oleh sederet kaum terpelajar yang mengakui dirinya adalah Mahasiswa, yang melakukan aksinya atas dasar yang tidak terlihat intelek. Akhir tahun 2018, saya dapat kabar ada daerah di Sulawesi Selatan, ada sederet Mahasiswa dari salah satu kampus yang melakukan aksi karena mereka hanya “menduga” dosennya melakukan kekerasan fisik saat dikelas. Padahal dari cerita kebanyakan teman yang saya kenal disana, dosen yang dituntutnya dalam aksi tersebut adalah dosen yang sangat sabar, marah pun jarang. Miris bukan?



Beberapa hari kemarin sempat gempar di Indonesia atas aksi yang dilakukan beberapa orang yang mengaku Mahasiswa di Makassar terkait penayangan film Dilan 1991. Mereka melakukan penolakan atas penayangan film tersebut di seluruh cinema dan XXI yang ada di kota Makassar. Katanya, mereka menggugat bahwa film Dilan lah yang mengakibatkan kacaunya etika dan moral di kanca pendidikan Indonesia. Sosok Dilan dalam film Dilan 1990 tahun lalu katanya berkesan tidak mendidik. Efeknya, para anak-anak yang masih sekolah akan menjadikan tindakan Dilan yang tawuran, sebagai panglima geng motornya, pacaran dengan Milea, dan sikapnya yang katanya kurang ajar kepada gurunya lah yang menjadi cikal-bakal sikap amoral anak-anaka bangsa. Ditambah juga mereka mengatakan bahwa film Dilan itu tidak mencerminkan kebudayaan kita sebagai orang Timur, apalagi di daerah Sulawesi Selatan. Mereka menyebutnya sikap Dilan itu tidak mencerminkan budaya Timur yang santun’.

Masalah sebenarnya atas tindakan yang saya anggap tidak intelek ini adalah, bagaimana dampaknya secara menyeluruh terhadap warga-warga di Makassar, terkhusus para Mahasiswa yang sedang berproses untuk mengejar mimpinya di Makassar. Karena bila kita lihat di berbagai social media, beberapa orang kembali lagi membentuk stereotipe baru terhadap warga Makassar, terkhusus kepada para Mahasiswa. Entah itu tawuran lah, Makassar yang terkesan keras lah, dan Mahasiswanya yang hobi demo. Tapi bila diperhatikan lagi, tetap saja ada orang-orang yang pro atas aksi tersebut adapula yang tidak. Kata Pak Gubernur saat didatangi para Mahasiswa itu, beliau mengatakan, “Itu hak mereka untuk menyampaikan pendapatnya atas film Dilan, tapi kewenangan saya bukan dibagian perijinan atas penayangan film tersebut di Mall Makassar”.

Hanya saja, coba anda pikirkan bagaimana nasib generasi penerusnya? Nantinya akan sering ditanya seperti ini, “Eh kamu Mahasiswa Makassar? Yang hobi demo kan? Film kok di demo, kurang kerjaan bener yak kalian di Makassar?”.

Saya sendiri pribadi merasa sangat begitu terusik dengan tindakan orang-orang yang mengatasnamakan Mahasiswa untuk melakukan tindakan yang kurang jelas landasannya. Bagi saya ada banyak hal yang menjadikan aksi penolakan film ini juga nampak tidak berkelas secara intelektualitas. Anda sendiri sudah nonton atau belum? Kalau belum nonton Film DIlan 1991, klik disini.



1    1. Salah Tempat dan Waktu dalam Melakukan Aksi
Ini salah satu hal yang menampakkan tidak inteleknya aksi yang  yang para Mahasiswa ini lakukan. Coba kita telusuri seperti ini, jika tujuan mereka aksi untuk menolak penayangan film Dilan 1991 ini. Harusnya mereka melakukan aksi tersebut di jauh-jauh hari sebelum jadwal penayangan sudah keluar di seluruh Cinema dan XXI yang ada di Makassar. Juga harusnya mereka tidak melakukan aksi penolakannya di Mall-mall yang ada di Makassar, tapi mereka harusnya ke LSI ataukah KPI. Jika Lembaga yang berkewajiban untuk memberikan ijin sudah memberikan ijin untuk tayang, lantas anda sebagai Mahasiswa bisa apa? Kecuali bapak kamu pemilik Mall yang kamu demo, pasti bisa dihentikan penayangan film itu.

Ini salah satu catatan bagi mereka-mereka ini yang melakukan aksi penolakan, sebaiknya pelajari terlebih dahulu prosedur-prosedur penayangan di Indonesia sebelum melakukan aksi. Karena jika ngasal seperti ini, tujuannya untuk menolak penayangan tidak akan tercapai.

Kekeliruannya juga seperti ini, mereka menolak kelakuan Dilan yang dulu tayang pada film pertama yaitu Dilan 1990. Karena suasana tawuran, geng motor, berkelahi, dan menentang guru semuanya ada di film pertama, Dilan 1990, bukan di Dilan 1991. Maka harusnya jika mereka menolak itu, harusnya mereka melakukan aksi bukan saat sekarang ini, karena konteks yang ditayangkan pada film Dilan 1991 ini berbeda. Ini juga membuktikan bahwa para pelaku aksi ini adalah orang-orang yang tidak paham atas apa yang mereka tolak.

2. .  Melakukan Aksi atas Apa yang Tidak Diketahuinya
Jadi analogi saya sesederhana ini, yaitu jika kamu belum mencicipi bagaimana masakan Nasi Gorengnya Mba Asih, lantas atas dasar apa anda mengatakan bahwa Nasi Gorengnya Mba Asih itu beracun, asin, ataukah basi? Mahasiswa ini belum pernah menonton Dilan1991, tapi langsung mengklaim bahwa film inilah yang akan mengancam etika dan moralitas anaka bangsa.

Mungkin mereka Mahasiswa menganut paham “Positivistik”, bahwa kita dalam memahami suatu objek, kita tidak boleh bersentuhan langsung dengannya. Jadi mereka tidak perlu menontonnya, mereka perlu “alat” untuk menilai apakah Dilan 1991 ini merusak moral atau tidak. Harusnya seperti itu, tapi apakah benar? Kalau iya harusnya poin ketiga pada tulisan ini tidak ada.

3. Alasan Penolakan yang Tidak Jelas (Data tidak valid, hanya asumsi)
Mahasiswa ini bagi saya benar-benar tidak menunjukkan sikap inteleknya sebagai kaum terpelajar, apalagi mereka sudah menyandang status Mahasiswa. Harusnya jika mereka menuntut sesuatu, harusnya landasannya juga jelas. Paling tidak berbau akademis lah. Jika mereka ditanyakan terkait perilhal yang mereka sampaikan atas pelaksanaan aski penolakan ini, yaitu “Dilan menunjukkan sikap amoral dan membunuh karakter intelek para kaum terpelajar, anak bangsa jadi kurang ajar dan tidak bermoral semuanya gara-gara Dilan”. Jika ditanya, anda dapat data itu dari mana? Anda pakai alat analisis apa? Anda mengukur sikap amoral itu seperti apa dan bagaimana caranya? Anda mengambil data di BPS mana? Anda mengunjungi Lembaga survei apa?
Apakah pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut dapat dijawabnya dengan jelas?

4. Cara Mereka Aksi (melakukan penolakan) Tidak Intelek
Sosial media lalu diramaikan dengan stereotype Mahasiswa Makassar yang hobi demo dan tawuran. Orang-orang bilang, “Mereka menolak kekerasan dengan cara kekerasan. Apasih”. Ataukah, “Mereka melakukan demo atas sikap amoral, tapi mereka sendiri menunjukkan sikap amoral saat demo”. Ataukah yang mirisnya, “Mahasiswa Makassar memang hobi demo, filmpun di demo, kenapa tidak sekalian bikin Tugu Tawuran di Makassar, sambil mengenang para pahlawan Mahasiswa yang jatuh saat berdemo dan Tawuran. Sebelum melakukan aksi harus mengheningkan cipta dulu untuk mengenang para korban-korban yang telah mendahuluinya”. Saya sebagai Mahasiswa Makassar sangat miris melihat komentar-komentar ini.

Malahan pihak produser film sendiri sempat berencana untuk membawanya ke rana hukum, karena saat aksi sempat ricuh dan terkesan anarkis.

5. Tidak Representative
Saya yakin mereka mengatasnamakan Mahasiswa dalam melakukan aksi penolakannya, tidak benar-benar representative dari seluruh Mahasiswa. Karena yang saya ketahui, wajah-wajah mereka tidak saya kenali rupanya, dan saya tidak tahu asal kampus mereka dari mana. Harusnya dalam membentuk aliansi untuk melakukan penolakan, harusnya orang sebagai pemantik atau trigger pada aksi tersebut berusaha mengikutsertakan seluruh mahasiswa yang terdaftar di Kawasan Makassar. Supaya aspirasinya representative. Tapi saya bahkan tidak pernah mendengar perkumpulan atau pertemuan yang melakukan pembahasan terkait penolakan film Dilan 1991 ini.

Sama seperti aksi yang dilakukan BEM SI untuk membawa debat capres-cawapres ke wilayah kampus. Dan aksi tersebut cukup representatif karena banyak pihak mahasiswa dari berbagai kampus yang terlibat didalamnya. Tapi penolakan atas film Dilan ini? Kalau saya lihat di beberapa cuplikan meskipun ridak secara langsung, terlihat kurang. Bahkan saya sendiri belum tahu kampus-kampus apa saja yang terlibat didalam aksi tersebut.

6. Pada Akhirnya Mereka Terkesan Hanya Cari Sensasi
Pada akhirnya, saya hanya menarik kesimpulan bahwa mereka melakukan aksi karena kurang kerjaan saja. Ataukah memang hanya cari-cari sensasi, ataukah karena ir dengan Dilan.
Karena landasan yang lebih logis dan akademis tidak dapat saya temukan dalam bentuk penolakan tayangnya film Dilan 1991 ini.

Ini juga bagian dari kebebasan saya mengutarakan pendapat saya pribadi. Bila ada yang tidak sepakat, ya gakpapa. Paling tidak saya hanya merasa resah dengan kelakuan-kelakuan yang kurang terdidiknya beberapa orang yang menyandang status sebagai Mahasiswa. Saya hanya berusaha meredam stereotipe miring yang menilai prilaku dan tindakan Mahasiswa di Makassar itu dengan penilaian yang negatif. Jika memang ada, itu hanya segelintir. Masih banyak Mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi yang ada di Makassar.

Post a Comment

11 Comments

  1. Segelintir orang yang mendemo film Dilan 1991 itu mewakili kegelisahan masyarakat, pun mahasiswa Makassar secara keseluruhan. Alasan-alasan yang mereka pakai untuk berdemo sepertinya hanya alasan saja. Ada tujuan lain yang hanya sebagian dari mereka yang tahu ��

    ReplyDelete
  2. Yup, bener sekali semua alasan yang dikemukakan di atas. Dan intinya ya mungkin mereka hanya cari sensasi lagian kenapa mau menyalahkan film Dilan coba sedangkan sebelum film ini muncul pun tawuran antar pelajar/mahasiswa, pertikaian dan perkelahian di kalangan anak muda sudah kerap terjadi. Jadinya saya merasa lucu saja sih klu ada yang demo dengan hal-hal yang gaje kayak gini. Mirisnya lagi, tindakan mereka yanh segelintir itu bisa merusak citra baik mahasiswa Makassar secara keseluruhan. Padahal yang berbuat hanya satu dua orang tapi semua kena getahnya, ckck.

    ReplyDelete
  3. Yang paling bodoh di atas alasan di atas adalah Mahasiswa yang apatis..yang tidak mengerti tentang kebebasan mengeluarKan pendapat seperti yang tertara di UUD 1945.. Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia..Ini negara demokrasi bung..setuju aja dgn pendapat gurbenur dan kepala dinas pendidikan makassar menanggapi aksi ini..kalau semua aspirasi dianggap negatif..mau dibawah kemananakah negeri ini..Para penguasa akan berbuat seenakanya tanpa ada sosial control..selain agen of chance, yang bertindak sebagai sosial.control adalah Mahasiswa..Jadi jangan bersiap apatis dan cuek saja tentang isu kontemporer..Jika anda tdk mau ikut aksi,,cukup masing2 itu kita harus saling menghargai pendapat orang lain..

    Apa pun,,jgn sekedar tulis..tulisan ini harus dipertanggungjawabkan..sekian salamakki'..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bukan isu kontemporer bung, sudah lama kali. lagian kalau sikap amoral meningkat, BPS dan Lembaga survei mana yang simpulkan kalau film Dilan lah yang bertanggungjawab atas itu semua? Sebagai social cobtrol, agent of change, harusnya jangan ngasal angkat isu buat di demoin. Kasihan adik2mu dikampus, di cap negatif dari luar.

      Saya sangat menghargai aksi ini, hanya saja landasan aksinya yang saya komentari ditukisan ini bung. Thx.

      Delete
    2. Kayaknya tulisan ini , sudah di edit yah..Saya sudah tidak melihat kata" mencap bodoh sesama para kaum intelektual sperti pertama kali tulisan ini di share..kalau ingin kritik pedas jgn setengah2 Bung..Sebagai yang pernah merasa di posisi adek2..di setiap aksi pasti ada namaya kajian dan konsolidasi internal yang dilakukan..bkn asal aksi ajha..setinggi apakah ilmu dan pengalamannya Bung Sampai mencap sesama spt itu..nilai sipakatau,sipakalebbi spt yg bung tulis di atas implentasinya Kali nol besar..


      Cuma kalau Bung tidak dipanggil atau tidak dapat informasi itu berarti bung cuma jagonya di online aja..

      Kapan2 saya tunggu bisa kopdar bersama bung..pengen tau ajha Apakah onlinenya persis dengan offlinenya..

      Delete
  4. Ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum demo. Misalnya yang disebutkan di sini seperti alasan, juga data. Apakah kekhawatiran itu terbukti dengan penitian, dsb.

    ReplyDelete
  5. Benar bahwa mereka berhak berpendapat. Tapi, kebebasan berpendapat seperti apa yang bisa diberi tempat? Kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab tentunya.

    Misalnya ya kalau mau demo, alasan harus kuat, data harus ada. Tidak yang asal demo apalagi sampai memaksakan kehendak sampai merusak properti milik orang lain.

    Saya selalu mendukung demo mahasiswa, sepanjang demo tersebut memang membawa kemaslahatan bagi orang banyak dan ada landasannya.

    Intinya ya saya setuju dengan beberapa poin di tulisan di atas. Demo boleh, tapi jangan asal demo.

    Anyway, kayaknya yang benar itu demo ke badan sensor dan bukan KPI. KPI khusus di penyiaran saja.

    ReplyDelete
  6. Hahaha, saya rasa para mahasiswa kita skrng ini sudah sangat kritis. Yg lucunya karna mereka akan punya banyak PR skrng, stiap film yg akan keluar harus di demo dulu, banyak kan film film yg dalam film itu misinya menguasai bumi (merusak akidah, bumi kan milik Allah) atau filmnya boss baby (masa katanya bayi dari pabrik, bukan dari perut ibu, bukannya hal itu cukup NYELENEH juga) ckckck..

    Yg namanya film ya film, film itu tontonan, dalam stiap film ya sudah pasti ada antagonis ada protagonis, ada hal negatif ada hal positif, yah tinggal penonton saja yg pintar2 memilah mana yg patut di contoh mana yg tidak, atau mana yg patut di tonton dan mana yang tidak, sy rasa MAHASISWA lah yg paling pandai dalam hal itu.

    Oiya, tuh.. FTV di indosiar tiap hari knpa nda d demo juga bung, banyak bgt yg melanggar nilai nilai agama, dan nyeleneh dri firman2 Allah, kok nda di demo, wkwkwk

    ReplyDelete
  7. Pro dan kontra mmg film dilan ini, teman2 mhs mngkin kbnyakan mwlihat sisi negatif filmnya. Di spoiler2 pun ratw2 menjelaskan dr sudut pandang negatif nya.

    Padahal klo di ulas dr sisi positifnya juga banyak, biar seimbang.

    Jadinya Makassar mnjd sorotan krn ulah bbrpa oknum

    ReplyDelete
  8. Saya sepakat dengan isi artikel ini. Sejak mahasiswa sy paling anti yang namanya demo. I meant, ngapain sih buang2 waktu untuk berdemo, kenapa gak belajar dengan sungguh-sungguh dan berprestasi. Sy sendiri sering ditanya sama teman dari jawa "kamu kuliah di makassar yah?" dan setelah jawab iyya, pasti tanggapan mereka "oh yang suka demo itu kan". OH MGG, meskipun sy tidak pernah ikut demo, saya juga terkesan anak yang suka demo. -_-

    ReplyDelete
  9. Saya belum sempat nonton film Dilan 1991 ini, jadi ndak tahu apakah memang ada bagian yang layak untuk mereka protes atau bagaimana.

    Tapi saya agak terganggu pas tahu yang demo itu berasal dari mahasiswa UNHAS Bima Dompu. Ngggg anu..mace orang sana soalnya. Hiks~

    ReplyDelete