Dakwah Corner : Prinsip "Tidak Hanya Bicara" (Q.S Ash Shaff: 2-3)

Header

header adsjavascript:void(0)

Dakwah Corner : Prinsip "Tidak Hanya Bicara" (Q.S Ash Shaff: 2-3)

Selalu ada berbagai cara seseorang untuk menyampaikan suatu kebaikan. Selain caranya, tentu motifnya dalam menyampaikannya juga ada banyak. Ada satu prinsip dalam Islam yang sangat kuat bagi saya untuk kupegang, yaitu "Don't say it if You Can't Make it" principal. Bagaimana upaya kita untuk melakukan hal atas hal yang telah atau akan kita katakan. Bagi saya orientasi atas prinsip ini bukan hanya pada batasan kita untuk mengucapkan sesuatu agar tidak menjadi "harapan palsu", tapi juga pada batasan atas hal yang kita ucapkan itu adalah apa yang kita lakukan, terutamanya bila yang kita ucapkan adalah sebuah bentuk ajakan yang diakuinya adalah sebuah kebaikan.


Prinsip ini saya adopsi dari Q.S: Ash-Shaff ayat 2-3
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ}
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan. (Ash-Shaff: 2)
{كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Ash-Shaff: 3)

Pendekatan saya bukan hanya pendekatan agama (islam) tapi juga pendekatan sosial. Jadi pada ayat ini dapat diinterpretasikan bahwa:


1. Janganlah kamu mengatakan hal yang tidak kamu kerjakan (Jangan kamu berbohong, jangan berjanji jika kamu tak mampu memenuhi)

Terkadang dalam lingkungan sosial, tentunya kita seringkali mendapati orang-orang yang dengan entengnya membuat suatu janji dan seringkali pula diingkarinya. Apalagi bagi Mahasiswa, saya sendiri hampir selalu mendapatinya. Bahkan jika ada janji pertemuan, apapun itu dan dimana pun itu. Kita seakan-akan selalu mengamini stereotype "Yah namanya saja orang Indonesia, janjinya ketemu pukul 8 datangnya pukul 11", dan "Bikin janjinya akan dimulai pukul 11 , tapi kenyataannya dimulai pukul 1 siang". Misalnya kita berada dalam sebuah kelompok atau grup. Ketika membuat janji pertemuan, kebiasaan untuk memajukan jamnya karena sudah mengamini bahwa nanti semuanya bakal telat datang adalah hal yang mendorong keputusan waktu pertemuannya jadi dimajukan. Jadi umumnya akan seperti ini, "Agendanya kita mulai pukul 10 ya, tapi kita sebar infonya pukul 8 pagi". Dan dilingkungan kampusku, terutamanya beberapa Ormawa (Organisasi Mahasiswa) internal kampus juga terkadang memakai prinsip "Keterlambatan adalah hal biasa" ini.

Untuk tafsiran Ibnu Katsir sendiri atas ayat 2-3 dari Q.S Ash Shaff itu, memberikan interpretasi bahwa ini adalah bentuk pengingkaran terhadap orang yang menjanjikan sesuatu janji atau mengatakan sesuatu, lalu ia tidak memenuhinya. Oleh karena itulah maka ada sebagian dari ulama Salaf yang berpendapat atas dalil ayat ini bahwa diwajibkan bagi seseorang menunaikan apa yang telah dijanjikannya secara mutlak tanpa memandang apakah yang dijanjikannya itu berkaitan dengan kewajiban ataukah tidak. 

Jadi interpretasinya bahkan lebih membatasi lagi. Bahwa apapun itu yang kamu katakan jika sudah kau ucapkan, berupa janji atau apapun itu yang perlu untuk dipenuhi. Maka sewajibnya bagi orang tersebut untuk memenuhinya. Tanpa mengenal apakah itu adalah kewajibannya atau tidak. Artinya ketika kamu sudah mengucap janji, ya tugasmu untuk menepati. Karena jika tidak, maka pihak-pihak lain yang terkait dan terikat atas janji tersebut akan merasakan kerugiannya. Misalnya seperti contoh tadi, ketika beberapa mahasiswa berencana untuk melakukan suatu pertemuan atau agenda pukul 10 pagi, tapi disebarkannya informasi pukul 8 pagi. Tentunya bagi orang lain yang melihat informasi tersebut jika merasa perlu memenuhi kewajibannya untuk datang pada pukul 8 maka dia akan datang pukul 8. Jika dia memakai prinsip "Keterlambatan adalah hal biasa", maka dia akan sengaja datang terlambat juga.

Jika memang janjinya agenda akan dimulai pukul 10 kenapa harus diinformasikan pukul 8 pagi? Karena kebiasaan terlambatnya manusia-manusia di Indonesia tentunya, menjadi alasan klasik untuk menzholimi orang lain. Deli' berupa "Ah kalo kita infokan benar-benar di pukul 10, nanti pasti pada datang kalau udah pukul 1 siang. Kan ribet". Jadi yang datang pukul 8 pagi, meninggalkan hal-hal lainnya yang perlu dia kerjakan saat itu, mencuci, beresin rumah, olahraga pagi, dan sebagainya akan merasa dirugikan. Tapi bagaimana jika paradigma atau pola pikir semua orang didalam sana sama? Berarti semuanya akan hadir pukul 10 pagi jika diinformasikan untuk datang pukul 8 pagi? Tentu pola pikir ini pola pikir yang sangat tidak sehat. Ini harus kita ubah mulai dari diri sendiri. Memang untuk merubah orang lain sangat susah, saya sendiri juga seperti demikian. Selalu datang on-time pada agenda atau pertemuan apapun itu. Meskipun yang lainnya selalu saja datang terlambat, dan pada akhirnya mereka akan sadar sendiri. Jika dia punya hati.

Ini buat saya bukan hanya persoalan perintah agama (islam) untuk tidak berbohong dan memberikan janji palsu. Tapi persoalan etika sosial, kalau bapak Rocky Gerung katakan "Public Ethics". Jika kita bisa konsisten untuk tepat waktu, kenapa harus selalu disengajakan untuk dimajukan waktunya.

2. Janganlah kamu mengatakan hal yang tidak kamu kerjakan (Jangan kamu mengatakan hal yang kamu sendiri tidak melakukannya) 

Pada poin kedua ini, bukan hanya pada prinsip untuk tidak mengatakan kebohongan. Tapi juga dimana ketika kita mengucapkan sesuatu itu, apalagi sebuah nasehat atau suatu tuntutan, paling tidak kita sebagai pemberi nasehat atau tuntutan tersebut menjadi sebagai teladan atas nasehat tersebut. Contoh kecilnya ketika kita memberikan nasehat kepada seseorang untuk tidak membuang sampah sembarang. Lantas jika kita sendiri membuang sampah sebarangan tentu nasehat tersebut tidak benar-benar mengharapkan suatu nilai atas nasehat "Jangan buang sampah sembarangan".

Orang yang menerima nasehat mungkin selalu lebih conrern terhadap apa yang dikatakan saja, yaitu nasehat yang diberikannya. Hanya saja tentu ada kecenderungan selalu atas pertanggungjawaban orang tersebut setelah memberikan nasehatnya. Ada kecenderungan seperti, "Ah dia saja suka buang sampah sembarangan ya sudah saya juga lah, gakpapa". Pola pikir yang seperti ini juga tidak sehat. Perbuatan yang seperti ini juga menurut saya kurang sehat, karena seharusnya memang jika kita mengatakan suatu tuntutan ataukah nasehat, paling tidak nasehat tersebut sebelum terlempar ke muka orang lain, nasehat tersebut harusnya menampar muka diri kita sendiri. Karena jika kita bisa mengatakan itu, lantas kenapa kita tidak bisa melakukannya? Apa memang sifat dasar manusia hanya mengejar fame saja?

Ini sama halnya yang seringkali saya jumpai di kampus. Apalagi beberapa senior. Teman-teman jika pernah merasakan gejolak dunia sosial dan dunia Ormawa di kampus tentu biasa mendapatkan hal seperti ini. Dimana seorang senior yang memberikan wejangan-wejangan dan berbicara dengan ekspresi sok bijak dan tampak meyakinkannya. Padahal dirinya dalam praktiknya terlihat begitu mengecewakan. Misalnya, "Kamu kenapa terlambat, push up". Tapi kalau diperhatikan, dia masuk jam kuliah saja setiap hari telat. Ini hanya sebuah contoh saja. Paling tidak jika menyampaikan sesuatu yang sifatnya adalah membawa ke kebaikan, cobalah tamparkan kebaikan itu pada diri sendiri juga. Biar tidak terkesan adiktif untuk menyinari hidup orang lain. Ini bukan persoalan "Jangan lihat orangnya tapi lihat apa yang disampaikannya". Tapi ni persoalan nilai kebaikan yang mencoba kamu salurkan ke orang lain, bagaimana anda mau bagikan jika diri sendiri saja tidak tertanam nilai kebaikan itu. Hanya bernafsu untuk menyampaikan kebaikan, kebaikan itu sendiri kapan kamu peruntukkan untuk dirimu?

Prinsip "Don't say it if you can't make it" ini hanya sebagai pegangan bagi saya. Supaya hal-hal kecil seperti ini tidak menjadi kebiasaan dalam menjalani kehidupan apalagi di lingkungan sosial. Pegangan prinsip hidup ini paling tidak menurut saya bisa memberikanmu nilai-nilai kehidupan yang lebih baik. Sikap menghargai, disiplin, dan kepekaan sosial. Karena harus selalu diakui bahwa di dunia ini kita tidak hidup sendiri. Segala hal yang kita pilih dan lakukan akan berdampak pada orang lain. Konsekuensinya bukan hanya kita sendiri yang merasakan, tapi juga lingkungan sekitar kita. Mungkin kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang-orang lain yang kita rugikan atau merasa merugi akibat dari apa yang kita lakukan dan ucapkan. Jika bisa menjadi baik, kenapa tidak menjadi baik kau jadikan pilihan?

Post a Comment

9 Comments

  1. saya suka sekali sama tulisan ini. Waktu masih kuliah saya sering sekali mengalami hal demikian, teman-teman mengatur pertemuan jam 8, eh yang lain pada datang jam 9an. Dan sy sebagai org yang selalu tepat waktu tentu saja merasa sangat dirugikan. Semoga dengan banyaknya orang yang membaca artikel ini bisa lebih disiplin lagi. Thanks for sharing ))

    ReplyDelete
  2. Suka banget sama artikel ini. Senuah pencerahan lagi buat saya.
    Kalo prinsipku sih, satu perkataan dengan perbuatan. Apa yang kita katakan, itu yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  3. soal tepat waktu ini kayaknya masalah besar kita semua yah. dulu waktu masih kerja di lembaga donor Jepang, sempat stress sendiri sama masalah ini. sudah terbiasa tepat waktu, eh orang lain yang tidak.

    ReplyDelete
  4. Begitulah, sudah seperti budaya orang Indonesia, ya?

    Janganlah kamu mengatakan hal yang tidak kamu kerjakan (Jangan kamu mengatakan hal yang kamu sendiri tidak melakukannya) ---> ini harus hati-hati juga sebagai influencer/blogger dalam menulis ... terima kasihs sudah mengingatkan saya melalui tulisan ini.

    ReplyDelete
  5. Pembuktian kata ada kaitannya juga sekarang di musim pemilu yang lagi marak saat sejak akhir-akhir ini..semoga kontestan pemilu tidak hanya mengumbar janji..semoga saja apa yg mereka katakan bisa diimplementasikan ketika terpilih nanti..

    ReplyDelete
  6. Janganlah kamu mengatakan hal yang tidak kamu kerjakan, ini berlaku juga bagi penulis.

    Jangan menuliskan sesuatu yang tidak kamu lakukan atau akan melakukannya. Mungkin itulah sebabnya orang mengatakan, tulisanmu adalah perwujudan dirimu.

    ReplyDelete
  7. Masalah waktu ini memang krusial apalagi di Indonesia. Waktu di Makassar, telat itu kayak biasa ji. Pas kerja di mamahkota, jadi malu2 kalau telat terus utk urudan berbagai hal. Karena walau ada alasan macet, tapi tidak membuat orang2 telat juga. Nah kalau lagi pulkam suka strrss jadinya, karena guliran waktu yang lambat kadang bikin orang2 telat kalau janjian itu makin telat hahaha

    ReplyDelete
  8. Prinsip yang keren banget nih kak. Emang seharusnya kita melakukan apa yang kita katakan contoh paling sederhananya ya seperti yang sudah di sebutkan di atas. Masalah waktu. Sepertinya masalah yang satu ini emang udah jadi kebiasaan orang Indonesia yang suka lelet. Bilangnya udah otw eh masih di rumah. Atau janjinya dari jam 8 eh datangnya jam 10. duh, saya banget ini. So tulisan ini jadi reminder juga buat saya pribadi.

    ReplyDelete
  9. jika kamu tidak bisa berkata yang baik maka lebih baik diam..
    nice post gan

    ReplyDelete