Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat - Mark Manson

Header

header adsjavascript:void(0)

Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat - Mark Manson


Review Buku : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (The Subtle Art of Not Giving a F*ck) 
           
Sikap bodo amat yang disampaikan Mark Manson dalam bukunya ini termanifestasi atas banyak hal. Salah satu hal yang popular yaitu bagaimana saat Mark Manson mengungkapkan bahwa kita hidup di dunia ini memiliki keterbatasan atas perhatian kita. Maka dalam menyikapi berbagai hal, bijaklah dalam memberikan perhatian kita terhadap hal-hal yang perlu diperhatikan saja, karena perhatian setiap orang memiliki batasan. Tidak semua hal yang dijumpai dalam hidup perlu anda beri perhatian. Jadi bersikap bodo amatlah untuk hal-hal yang tidak perlu menjadi bahan perhatian anda.

Mark Manson merupakan penulis di dunia maya yang cukup terkenal di USA. Selama di New York, dia memutuskan untuk menjadi blogger di tengah kerapuhan kondisi keuangan di negaranya. Sampai saat dia meluncurkan buku pertamanya, The Subtle Art of Not Giving a F*ck yaitu Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.

Pengunjung dan pembaca di blognya sudah terhitung jutaan. Buku pertamanya ini lalu menjadi bestseller pada peluncuran pertamanya. Jika buku-buku pengembangan diri (self-improvement) yang terkadang kamu jumpai di toko-toko buku memberikan anda pandangan-pandangan umum bagaimana untuk selalu bersikap dan berpikir positif, dan melakukan hal-hal yang orang tua kita selalu ingatkan, maka buku Mark Manson yang satu ini menampilkan pandangan yang baru dalam menanggapi berbagai persoalan kehidupan.



Secara sadar kamu akan dipengaruhi secara psikologis saat membaca buku ini, bahwa beberapa hal yang anda lakukan dalam hidup ini ternyata tidak terlalu penting dan juga tidak sehat untuk dirimu, tidak begitu berpengaruh bahkan berguna untuk dirimu sendiri ataupun untuk orang-orang yang ada di lingkunganmu. Dari judul Bab pembahasan dan sub-pembahasannya saja akan membuat anda terus terdorong dan bertanya-tanya akan banyak hal. Seperti judul dari Bab 1: Jangan Berusaha, Bab 2: Kebahagiaan itu Masalah, Bab 3 : Anda Tidak Istimewa, dan sampai Bab klimaks dari buku, Bab 6 : Anda Keliru Tentang Semua Hal. Sebagai pembaca yang berekspektasi mendapatkan dorongan moral dan psikologi setelah membaca suatu buku genre self-improvement, tentu akan bertanya-tanya tujuh kali lebih banyak pada dirinya sendiri setelah membaca judul-judul dari masing-masing bab yang ada di buku ini. Kenapa buku ini menyuruh kita untuk tidak berusaha? Kenapa buku ini mengatakan bahwa bahagia itu adalah masalah, dan kenapa dia tidak ingin membuat saya untuk berkata bahwa saya ini adalah orang yang istimewa?

Semua pertanyaan itu akan terselesaikan setelah anda mengungkap lembar-demi-lembar dari total 245 halaman di buku ini. Namun hal mendasar yang dapat saya katakan terkait buku ini adalah, tentang bagaimana cara kita dalam menanggapi berbagai hal, termasuk permasalahan dalam hidup untuk bersikap bodo amat (tidak peduli). Salah satu hal yang membuat buku ini menampakkan realitas kehidupan yang lebih dalam adalah, karena Mark Manson dalam mengemukakan konsep-konsep perbaikan diri dalam buku ini juga diiringi dengan cerita-cerita yang menyempurnakan ide dari si penulis. Seperti ketika Mark Manson mencoba mengungkapkan konsep “Anda Tidak Istimewa”, dia mengatakan dalam bukunya bahwa semakin dalam rasa sakit, semakin kita merasa tak berdaya menghadapi permasalah kita, dan semakin banyak keistimewaan yang kita perlukan sebagai kompensasi atas permasalahan tersebut. Keistimewaan ini bekerja dalam salah satu cara berikut. 1) Saya luar biasa dan kalian semua payah, jadi saya berhak mendapatkan perlakuan istimewa. 2) Saya payah dan kalian semua luar biasa, jadi saya berhak mendapatkan perlakuan istimewa. Mark menceritakan bagaimana pengalaman traumatis nya sejak masih kecil, dimana dia sudah bergaul dengan lingkungan negatif bersama temannya, sampai dimana orang tuanya bercerai. Dia mengatakan terkadang ketika kita berada dalam situasi yang sangat terpuruk seperti itu, kita merasa bahwa hal ini tidak akan pernah mampu kita selesaikan, bahkan itu secara sadar. Juga dengan asumsi ketidakmampuan kita untuk menyelesaikan masalah akan membuat kita merasa sedih dan tak berdaya. Entah kenapa dan bagaimana, kita tidak seperti orang lain dan karena itu beberapa aturan berlaku berbeda untuk kita. Alasannya sederhana: Kita merasa istimewa.

Saya menangkap keistimewaan yang diungkap Mark dalam bukunya ini berlaku untuk segala hal. Jika terkadang keistimewaan dipikiran orang-orang adalah keistimewaan yang positif, tapi saat Mark mengatakan terkadang ketika kita merasa tidak mampu untuk menyelesaikan sebuah persoalan dalam kehidupan, itu karena anda merasa istimewa, interpretasinya dapat dimasukkan ke dalam keistimewaan yang positif dan juga negatif. Maka janganlah merasa istimewa!

Dalam Bab: Anda Tidak Istimewa ini, Mark juga mengungkap sebuah konsep “Tirani Keistimewaan”. Dalam Bab ini Mark mengungkapkan bahwa segala nasehat tentang “Setiap orang bisa menjadi luar biasa dan meraih kesuksesan besar” pada dasarnya hanyalah untuk menyenang-nyenangkan ego Anda. Ini adalah sebuah pesan yang membuat anda merasa enak dan lega saja, namun pada kenyataannya, ini ibarat kalori yang membuat anda secara emosional gemuk dan membengkak, seperti Big Mac untuk jiwa dan benak anda.

Ada banyak konsep pemikiran yang diutarakan Mark Manson dalam buku ini, salah satunya soal “Keistimewaan” tadi. Hal lainnya seperti “Lingkaran Setan”, salah satu ungkapan yang digaris bawahinya terkait ini adalah, “Menginginkan pengalaman positif adalah sebuah pengalaman negatif, menerima pengalaman negatif adalah sebuah pengalaman positif". Katanya ini sama seperti yang dikatakan seorang filsuf sebagai “Hukum Kebalikan”. Intinya adalah semakin kuat anda berusaha merasa baik setiap saat, anda justru akan merasa semakin tidak puas, karena mengejar sesuatu hanya akan meneguhkan fakta bahwa pertama-tama anda tidak baik. Semakin mati-matian anda berusaha ingin kaya, anda akan merasa semakin miskin dan tidak berharga, terlepas dari seberapa besar penghasilan anda sesungguhnya. Semakin mati-matian anda ingin tampil seksi dan diinginkan, anda akan memandang diri anda semakin jelek, terlepas dari seperti apa penampilan fisik anda sesungguhnya. Semakin anda mati-matian ingin bahagia dan dicintai, anda akan menjadi semakin kesepian karena merasa ketakutan, terlepas dari banyaknya orang yang berada disekitar anda. Semakin anda berusaha mendapatkan pencerahan spiritual, anda akan semakin tertelan oleh diri anda sendiri dan menjadi semakin dangkal untuk dapat mencapainya. Pada ujungnya Mark mengatakan kepada anda untuk: Jangan Berusaha.

Salah satu hal yang paling saya suka juga dalam buku ini adalah, bagaimana pandangan Mark Manson atas nilai-nilai yang umumnya dipegang orang dalam hidup. Cara dia menyampaikannya cukup unik, pertama-tama Mark menceritakan bagaimana seorang gitaris muda bertalenta, Dave Mustaine didepak dari band rock Metallica, dan dia berhasil membentuk band heavy-metal sendiri dengan nama panggung Megadeth. Mungkin semua orang melihat perjalanan karir Mustaine adalah suatu keberhasilan besar dan sudah matang untuk dikatakan sukses. Namun Mark mengatakan bahwa bodohnya Mustaine mengukur keberhasilannya jika ia dapat menyaingi Metallica yang sudah lama bergelimang nanah di panggung music. Saat wawancara Mustaine bahkan berlinang air mata dan mengakui dirinya adalah sebuah kegagalan. Di luar dari semua pencapaiannya yang mengagumkan, dalam benaknya akan selalu terngiang kalau dia adalah orang yang ditendang keluar dari Metallica. Lantas dari cerita itu, Mark mengatakan bahwa kita harus menggenggam niali-nilai yang cocok untuk kita pegang, karena beberapa nilai-nilai umum yang dijadikan pegangan dalam hidup adalah nilai-nilai sampah. Salah satunya adalah “Kesuksesan Material”. Ini juga bagian dari explanasi "Hukum Kebalikan" tadi.

Satu lagi konsep bodo amat yang membuatku terpukau dari pemikiran Mark yang dituangkannya dalam buku ini adalah sebagaimana konsep Buddhisme atas pendapat atas ide tentang siapa diri “Anda”. Bahwa anda sebaiknya melepaskan segala ide tentang keberadaan “Anda”, segala ide dan segala ukuran yang anda gunakan untuk menyatakan diri anda. Karena itu hanyalah sebuah kenikmatan semu, kenyataannya juga bahwa pengamat diseluruh dunia ini adalah pengamat yang buruk, terkhusus jika mengamati diri sendiri. Karena saat kita marah, atau cemburu, atau kecewa, kadang kita justru menjadi orang terakhir yang mengetahuinya. Kata Mark, dan satu-satunya cara untuk menemukan hal ini adalah dengan melubangi baju zirah keyakinan kita sendiri, yaitu terus-menerus bertanya apa yang mungkin menjadi kekeliruan dari diri kita.

Selain konsep-konsep yang tidak biasa yang diungkapkan Mark dalam bukunya, cara dia juga dalam meyakinkan pembaca akan kesalahan-kesalahan pola hidup yang sudah dilakukannya selama ini cukup efektif. Dia memasukkan pembaca terlebih dahulu ke dalam suatu zona dan cara berpikir yang awwam, dan setelah itu dia mengungkap sebuah kekeliruan yang ada pada zona tersebut, dan menarik anda keluar dan mencoba memperbaikinya dengan cara yang lebih baik.

Pesan yang paling merah dalam buku ini bagi saya adalah, “Jangan jadi istimewa, jangan jadi unik”. Seperti yang diutarakan Mark dalam bukunya. Ketika anda mengira pesawat yang anda tumpangi akan jatuh, atau bahwa ide proyek anda termasuk yang paling konyol dan akan ditertawakan oleh semua orang untuk dicibir atau diabaikan, secara implisit anda pun berkata demikian pada diri sendiri, “Aku adalah pengecualian; saya tidak seperti orang lain; saya berbeda dan saya istimewa”. Kata Mark, ini adalah salah satu bentuk Narsisme, murni dan sederhana. Anda merasa seakan-akan masalah anda layak untuk diperlakukan secara berbeda, bahwa masalah anda memiliki rumus matematika yang unik sehingga tidak mengikuti hukum fisika alam semesta.

Jika dibandingkan dengan karya Felix Siauw, How to Master Your Habits, buku Seni Bersikap Bodo Amat ini hampir sama orientasinya. Yaitu membentuk pola-pola kehidupan yang berbeda dari biasanya, karena yang biasa adalah pola kehidupan yang tidak sehat. Buku ini sangat recommended bagi pemuda-pemuda, apalagi Mahasiswa yang baru masuk usia 2 dekadenya. Mark mengajak kita untuk dapat mengerti dan melihat setiap batasan-batasan diri dan menerimanya, bagi Mark inilah sumber kekuatan yang paling nyata. 

Post a Comment

9 Comments

  1. saya bukan pembaca buku self empowerment atau buku how to, jadi sepertinya buku ini menarik karena berbeda. sudah beberapa kali liat di rak best seller Gramedia cuma belum tergerak membelinya.

    ReplyDelete
  2. Dari judulnya aja udah menarik banget ya. Jadi pengen baca deh... Soalnya saya kadang termasuk orang yang over thinking dan merasa bisa menyelesaikan segala hal.

    ReplyDelete
  3. Beberapa bulan yg lalu, buku ini booming. Sampe2 tmn sdh beli, dan sy pun penasaran krna judulnya asli menggelitik. Akhirnya saya jg beli bukunya. Dan jeng jeng... Pantas saja buku ini booming. Ap yg disampaikan tak lbh dr problem khdpn yg dialami dn memberikan tips bgmna menghadapinya. Yg sy suka dr buku ini, bahasanya nyentrik, dan menggelitik pembaca. Usai baca buku ini, stdkx ad satu hal yg bsa sy Aplikasi kan. Jangan pnh memikirkan hal2 yg sejatinya bukan prioritas khdpan

    ReplyDelete
  4. Wow menarik. Cara pandangnya unik, berbeda. Dari penamaan bab-babnya saja antimainstream karena biasanya orang menggunakan kalimat positif, dia malah tidak :D
    Perlu fokus untuk menyelesaikan membaca tulisannya sepertinya ya karena harus memahami baik-baik angle dari Mark Manson. Saya menangkap, kita diajar untuk membatasi diri. Mana yang penting untuk masuk dalam lingkar perhatian kita dan mana yang tidak penting (yang terakhir ini perlu disikapi "bobo amat").

    Review yang keren. Terima kasih.

    ReplyDelete
  5. Review yang menarik, sayang saya belum baca bukunya �� setidaknya sekarang ada gambaran mengenai isi buku ini secara garis besar. Terima kasih ��

    ReplyDelete
  6. Sama kayak Anchu, saya juga tidak tertarik membaca buku motivasi. Tapi sepertinya buku ini menarik karena memberikan konsep yang berbeda.

    Saya setuju dengan konsep bodo amat, salah satu konsep yang saya terapkan ketika orang membicarakan politik (khususnya kontestasi pilpres) tahun ini.

    Jawaban saya sederhana: bodo amat!

    ReplyDelete
  7. Ada teman penjual buku di Makassae, katanya buku ini bnyak peminat,Sempat saya liat bukunya waktu jalan-jalan ke tokonya..kayaknya dia juga sudah baca buku ini..samapai-sampai ada sedikit terpengaruh..

    Katanya temanku ,buku ini sebuah tamparan menyegarkan..

    Pas baca tulisan, bikin tambah prnasaran..mau juga coba baca deh..

    ReplyDelete
  8. Belum pernah baca buku ini jadi penasaran dengan isinya. Sepertinya menarik. Dari judul bukunya aja saya sudah suka. Kadang2 memang kita butuh bersikap bodo amat ya.

    ReplyDelete
  9. boomingnya buku ini membuat saya kesulitan mencarinya. Teman saya punya perpustakaan mini di kamarnya, lalu saya coba periksa raknya dan wihhh dapet bukunya si Mark Manson tapi buat saya kecewa dikit yg versi englishnya. Memang temanku banyakn punya buku internasional tapi tetap ku pinjam walaupun kalo ndatau artinya sya terjemahkan. Alhasil saya baca bukunya 1 bulan wkwkwk

    Tapi apik sekali! Saya suka baca buku self improvement kek gini. Uhhh seru.

    Makasih reviewnya juga yg kece.

    ReplyDelete