Movie Review : Swing Kids - Dilemanya Seorang Komunis (Review Film)

Header

header adsjavascript:void(0)

Movie Review : Swing Kids - Dilemanya Seorang Komunis (Review Film)

Cerita Korea yang diangkat ke layar kaca seringkali diidentikkan dengan genre drama-romance. Tapi untuk film Swing Kids ini dibalut dengan rajutan yang cukup berbeda, terutama bagi para penggila Drama-Korea (Korean-fans). Diadaptasi dari sebuah karya musikal Korea yang ditulis oleh Jang Woo Sung dengan judul ‘Roh Ki Soo’, film Swing Kids sukses menarik perhatian dengan tampil berbeda dari drama biasa. Suguhan yang menyegarkan di awal tahun 2019.

Film Swing Kids bercerita tentang seorang sosok yang melegenda di kamp penjara di kota Geoje pada tahun 1951. Sosok itu adalah pahlawan Korea yang menganut ideologi komunis kala itu, yaitu seorang pemuda yang gagah berani di medan perang Roh Ki-soo, yang menjadi tahanan Korea Utara yang tinggal di kamp tersebut. Roh Ki-soo dalam film Swing Kids diperankan oleh Do Kyung-soo, salah seorang anggota dari EXO.



Kamp tersebut dipimpin oleh seorang jenderal Angkatan Darat USA yang begitu ambisius, Jenderal Roberts. Dia lalu memerintahkan Jackson (Jared Grimes) untuk memberikan warna baru dalam kamp, yaitu mengajari tap dance (tarian khas orang Amerika) kepada para tahanan. Tujuannya yaitu untuk menampakkan kesan ke luar sana bahwa ada kegiatan yang menyenangkan di perkemahan.

Cerita pada film ini disuguhkan dengan cara yang menarik dan tak disangka-sangka. Karena Roh Ki-soo sebagai salah satu pemeran utama tentu begitu susah ditebak arah pikirannya dalam cerita. Karena disisi kamp yang dipenuhi kengerian, tap dance nampak begitu kontradiksi untuk menjadi aktifitas baru di kamp. Selain itu, Roh Ki-soo juga dianggap sebagai pahlawan di kamp Korea Utara, makanya dia cukup gensi untuk menentukan pilihan. Entah ingin bergabung dalam grup tap dance ataukah tetap menjadi perajurit kamp yang tersohor.



Roh Ki-soo yang diperankan oleh Do Kyung-soo pun sangat nampak hebat dalam berakting. meskipun ia terlihat begitu muda di dalam film bila dibandingkan dengan rekan kampnya yang lain. Namun disisi lain, bila kita melihat bagaimana Ki-soo berdansa tap-dance dalam film. Dia cukup menguasainya dengan baik. Meskipun latar belakang Do Kyung-soo adalah penari, tapi tap-dance bukanlah hal yang mudah untuk dipelajari bagi semua penari. Tap-dance memerlukan keterampilan khusus dalam membuat pola letukan sepatu yang juga dibuat secara khusus.

Sersan Jackson membentuk grup tap-dance nya di kamp secara sembunyi-sembunyi. Dia memilih Roh Ki-soo, Yan Pan Rae (Park Hye Soo)seorang perempuan penerjemah yang katanya menguasai 4 bahasa, seorang pria Tiongkok (Kim Min Ho), dan seorang anti-komunis (Oh Jung Se). Dengan latarbelakang mereka yang berbeda-beda, tentu menyatukannya adalah hal yang sangat sulit untuk Sersan Jackson. Ada yang ingin bergabung karena butuh uang, ada yang ingin mencari istrinya, ada juga yang karena merasa bahwa tap-dance adalah passionnya.




Karakter Roh Ki-soo dalam film cukup membuat penonton merasakan emosionalnya. Diperankan oleh Do Kyung-soo, dia dapat membuat penonton terpukau dengan aksi tap-dance nya yang dilakukan sepanjang film. Tentu selain nuansa drama-romance, film ini juga diselingi beberapa nuansa komedi. Kisah seorang Roh Ki-soo yang ditubrukkan dengan ironi pilihan yang begitu menyesakkan juga berhasil mencuri hati penontonnya. Apalagi para fans Do Kyung-soo.

Grup tap-dance yang terdiri 5 penari itu diberi nama Swing Kids. Mereka berusaha mencari selingan dari ricuhnya suasana kamp dan terjadinya bunuh-saling-bunuh hanya karena perbedaan idelogi. Kapitalis dan Komunis.

Akhir cerita yang cukup epic dan twisted. Karena penonton awalnya akan mengira Roh Ki-soo melaksanakan tugas terakhirnya untuk mengabdi kepada Kore Utara dengan membunuh seluruh warga Amerika yang datang di acara opera dimalam yang khusus untuk grup ta-dance nya. Hanya saja ternyata tidak, saudaranyalah yang mengambil tugas itu. Alhasil, tetap saja setelah menari bebas dipanggung kericuhan tetap muncul. Akhir yang tragis dimana seluruh anggota tap-dance nya yang berdiri di pojok panggung di tembak satu-persatu oleh tentara Amerika.

Post a Comment

2 Comments

  1. Duh endingnya kok tragis. Namun dlm situasi perang kondisi begini pasti banyak terjadi

    ReplyDelete
  2. Tap Dance, dulu sama beberapa teman sempet pelajari hingga akhirnya nyerah berjamaah, wkwkwk

    ReplyDelete