Analisa Debat Capres 2019 Jilid 2

Header

header adsjavascript:void(0)

Analisa Debat Capres 2019 Jilid 2

Diawali penyampaian Visi Misi tanpa teks, mungkin menjadikan salah satu aspek yang menjadikan debat capres jilid kedua ini menjadi lebih menarik dari sebelumnya. KPU menyediakan wadah yang lebih nyaman dalam episode debat kali ini, tidak seperti debat pertama beberapa hari lalu. KPU benar-benar bisa belajar dari pengalaman di debat pertama, beberapa elemen-elemen pengganggu dalam debat mulai dipindahkan tempatnya. Seperti para pendukung dan yel-yel para Timses. Juga skema perdebatan, yang terlalu membatasi pada debat pertama kini mulai kelihatan lebih efektif pada debat jilid kedua. Meskipun sorak-sorak para Timses dibelakang masih sedikit mengganggu.


Pada debat kedua ini, pertarungan capres benar-benar terlihat bersih. Tanpa pendamping dibelakang, dan partner cawapres disamping. Pertarungan ala gladiator satu lawan satu dipandu dua moderator. Terbagi menjadi empat inti bagian, bagian pertama pemaparan Visi-Misi para capres, kedua random question yang diambil secara acak dari kedua kandidat yang sama-sama diberikan kesempatan untuk menjawab dan saling menanggapi, ketiga bagian eksploratif dimana kandidiat diperlihatkan vidio yang telah dipilihnya lalu diberikan pertanyaan seputar vidio tersebut yang sudah dipersiapkan para panelis, dan bagian keempat yaitu sesi inspiratif dimana para kandidat bebas saling melemparkan pertanyaan satu sama lain. Tentu skema debat ini lebih menampakkan kredibilitas para calon presiden yang bertarung satu lawan satu di koloseum malam ini.

Meski demikian tentu para kandidat baik nomor urut 01 maupun 02 sudah mempersiapkan diri sematang-matangnya menjelang debat kedua ini. Karena sebenarnya "kisi-kisi" sudah disebar di publik, meskipun tidak secara spesifik. Yaitu menyangkut topik perdebatan yang akan diangkat di panggung debat jilid kedua ini. Debat kedua kandidat ini dipertemukan dengan topik bahasan energi, lingkungan hidup, infrastruktur, pangan dan sumber daya alam. Menurut saya, disampaikannya topik bahasan sudah merupakan bagian dari kisi-kisi, dimana para kandidat dapat mempersiapkan pertanyaan maupun jawaban dari topik apa yang memungkinkan akan terangkat dipanggung debat ini.

Jika pada debat sebelumnya, masih kelihatan pertarungan "personal attack", pada debat kedua ini KPU memasukkan aturan agar para kandidat dibatasi dalam menyampaikan argumentasi yang bersifat personal attack. KPU membuat tata tertib khusus untuk debat demi kelancaran perdebatan antara capres.

Pada sesi tanya jawab terkait topik-topik yang sudah disampaikan sebelumnya, para kandidat masih dengan gaya mereka sama seperti debat pertama. Kecuali Pak Jokowi yang sudah mulai membiasakan diri tanpa memegang teks. Pak Jokowi sendiri terlihat lebih matang pemaparan konsepnya dibandingkan Pak Prabowo pada segmen ini. Faktornya bisa jadi karena Pak Jokowi sebagai incumbent tentunya lebih diuntungkan dengan suasana perdebatan dengan topik praktis seperti energi, pangan, sumber daya alam, dan infrastruktur. Karena Pak Jokowi sudah memiliki perjalanan secara historis dan tentunya pengalaman realistis dibandingkan Pak Prabowo. Kredibilitas argumentasinya dapat dihitung, perbandingan Pak Jokowi : 2 dan Pak Prabowo : 1. Pak Jokowi dapat menyampaikan pencapaiannya, dan segala hal yang telah diperbuat selama periode berjalan. Tapi Pak Prabowo masih hanya menyampaikan gagasan saja dan komentar, kritik dan saran terhadap apa yang telah diperbuat oleh pemerintah kurang dari 5 tahun belakang. Secara teknis Pak Jokowi menang poin pada segmen ini sebagai incumbent. Sebut saja ketika Pak Jokowi membanggabanggakan infrastruktur yang telah dibangunnya, utamanya jalan tol. Tentu Pak Prabowo hanya bisa memberikan kritik, seperti saat dia mengatakan infrastruktur itu untuk rakyat, harus nya tidak menyusahkan rakyat dan harus dapat dijangkau ke seluruh lapisan masyarakat. Jika ditanya seperti itu, tentu meskipun jawaban Pak Jokowi mentok pada, "Ya kita akan melakukan yang terbaik agar semua lapisan masyarakat dapat menikmatinya". Penonton pasti lebih melihat dan memberikan poin kemenangan atas argumentasi Pak Jokowi, karena bila dibandingkan apa yang sudah dilakukan Pak Prabowo dalam pertumbuhan infrastruktur negara? Meskipun kritik Pak Prabowo menampakkan data yang menunjukkan tidak efektifnya jalan-jalan tol yang sudah dibangun, apalagi dengan modal utang. Tentu kacamata awwam masih tetap berpihak kepada Pak Jokowi dengan dalil, "Dia sudah berusaha keras dan mengerjakan yang terbaik untuk negara".

Sama juga ketika sawit diperdebatkan terkait bagaimana pengelolaannya agar dapat berbuah hasil yang lebih melimpah dibanding dari apa yang terjadi sekarang. Alhasil, jawaban-jawaban para kandidat pun kembali mengutarakan jawaban-jawaban retorik. "Ya tentu kita harus swasembada pangan" ataukah "Kita tentu harus support itu, harus dimanfaatkan sebaik mungkin nantinya". Juga saat perdebatan atas bagaimana kandidat akan merespon atmosfer baru revolusi industri 4.0 kedepan. Jawabannya masih terkesan retorik. Tidak strategis dan taktis. Saya pun bila ditanya seperti itu, bisa menjawab dengan seperti itu tanpa harus berdiskusi lama dengan para elite-elite politik. "Ya tentu nantinya kita akan lebih memaksimalkan ini, dan itu, agar dapat lebih terlihat manfaatnya, bla bla bla".

Tapi kembali lagi, menurut saya segmen dengan mengangkat topik-topik ini tentunya lebih menguntungkan incumbent. Sebagai pihak yang sudah "pernah" bergelut dalam tata kelola energi, pangan, dan sumber daya alam. Namun publik masih sama dengan gayanya yang selalu menangkap hal-hal yang terlihat menarik dimata mereka, seperti bagaimana Pak Prabowo jika sudah berada diujung perdebatan (entah itu sama-sama memiliki gagasan yang bagus ataukah jawabannya terjawab jelas) maka beliau segera menghentikan perdebatan dan berkata, "sudah saya kira masalah ini sudah jelas". Respect. Sedangkan Pak Jokowi dengan slogannya pada debat kali ini yaitu, Optimis. Dimana ada saat dimana beliau melakukan penyerangan personal meskipun tidak terlalu tajam dengan mengatakan Pak Prabowo orangnya tidak optimis, atau orang yang pesimis. Juga beberapa melihat bahwa penyampaian tanah HGU Pak Prabowo cenderung mengarah ke personal, tentu itu menjadi penilaian lagi bagi publik terhadap argumentasi Pak Jokowi saat debat kemarin.

Post a Comment

0 Comments