Peran Pemuda Terhadap Bangsa Dalam kontestasi Politik

Header

header adsjavascript:void(0)

Peran Pemuda Terhadap Bangsa Dalam kontestasi Politik

Tahun politik sudah mulai menapaki garis start-nya. Seluruh amunisi para politisi dan calon politisi dan seluruh elemen yang akan ikut andil dalam pesta demokrasi nanti, tentunya semakin panas-memanaskan bendera kebanggaannya masing-masing. Partai koalisi. Hanya saja ditahun ini, 2019 merupakan tahun pemilu yang paling unik dan menarik dari semua pemilu yang pernah berlalu. Bahkan disebut-sebut pemilu tahun ini adalah pemilu paling rumit di dunia! Karena ada 5 surat suara yang harus di coblos masing-masing lapisan masyarakat yang ikut memeriahkan pesta demokrasi pada bulan April nanti. Masing-masing kertas suara memiliki warna masing-masing. Hijau untuk pemilihan DPRD kota/Kabupaten, Biru untuk DPRD Provinsi, Merah untuk DPD RI, Kuning untuk DPR RI, Hitam/Abu-abu untuk Presiden dan Wakilnya sepaket. Sungguh meriah bukan!?



Hanya saja yang menarik menurut saya bukan hanya pada skema pemilihannya, tapi para calon yang akan dipilih rakyat nantinya. Meskipun skema pemilihan yang cukup rumit ini yang disinyalir KPU akan memakan waktu 11 menit untuk satu suara atau satu pemilih nantinya, beberapa orangpun beranggapan bahwa potensi adanya golput pada pemilu nanti akan lebih banyak karena alasan-alasan tersebut. Tapi kawan, golput bukanlah pilihan terbaik. Jika kamu memilih bersikap apatis, maka takdir atas pilihan dari sistem demokratis tetap berada digenggamanmu. Kamu akan tetap menjadi bagian dari kepemimpinan pada masa siapapun yang nantinya akan terpilih, so then why you should golput? Kata Mahfud MD, golput hanyalah pemicu bagi para penjahat untuk duduk di kursi kekuasaan. Maksudnya adalah, jika kamu golput atau memilih untuk tidak menjadi pemilih (menggunakan hak suara) maka jika pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang dzalim, maka risiko kamu yang tanggung dan dampaknya pun kamu juga ikut menanggungnya. Sederhana saja, jika kamu memilih dan bingung untuk memilih, paling tidak pilihlah yang risiko keburukannya paling kecil. Ataukah pilih yang baik dari yang buruk, atau pilih yang terbaik dari yang baik-baik. Bagaimana cara mengetahuinya? Makanya, meleklah dengan politik! Sambutlah pemuda dalam panggung politik!

Hal yang lebih menarik seperti yang saya katakan sebelumnya adalah para calon yang akan dipilih rakyat nantinya. Ada beberapa calon legislatif yang diisi para kaum muda-milenials. Sebut saja mainstreamnya Tsamara Amany, Gamal Albinsaid, ataukah Faldo Maldini dan Rian Ernest. Nama-nama tersebut bukanlah nama yang asing, karena tak jarang muda-mudi kita ini tampil dilayar kaca nasional untuk mengisi bincang dan dialog politik, debat, ataukah diskusi politisi. Jika kalian hanya melihat mereka di media-media mainstream, maka mari coba kita menengok para caleg yang akan berpotensi untuk menjadi bagian dari tatanan sistem pemerintahan di Republik Indonesia 5 tahun kedepan. Jika kalian melihat hanya nama-nama yang tadi sajalah yang merepresentasikan kaum pemuda dan milenials, maka kamu salah besar. Nyatanya, hampir disetiap kota-kota ada kaum muda-mudi yang nekat dan berani unjuk gigi mempertaruhkan kursi parlemen melalui pemilihan umum nanti. Di kota tempatku tinggal saja, Makassar ada beberapa pemuda yang diusung partai tertentu untuk menjadi caleg DPRD kota. Ada juga seniorku di kampus, yang baru saja lulus pada tahun 2017 kemarin yang juga berhasil mendapatkan kepercayaan kepada partai yang mengusungnya untuk menjadi caleg di pemilu nanti. Sungguh semangat pemuda makin membara saja!

Calon Wakil Presiden nomor urut 2 saja, yaitu Om Sandiaga Uno terkadang disebut sebagai cerminan dari kaum milenials itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa segemilang prestasi doi, dan sebagai pegiat bisnis tentunya dapat menapak jalan yang lebih modern, dan efektif karena Om Sandiaga Uno merupakan pegiat bisnis yang terbilang lebih dari cukup telah mendapat begitu banyak pengalaman dalam mengelola bisnis. Bisnis yang besar tentunya. Perusahaan beliau tercatat dalam daftar 150 Rich Man Indonesia 2018, dari globeasia.com, mencatat bahwa salah satu bisnis ternamanya beliau menempati nomor urut ke 85 dari total 150 yang terdaftar di tahun 2018.


Maka jika Cawapres saja ada yang mengaku sebagai kaum milenials, kenapa caleg tidak? Mungkin ini salah satu penyebab adanya beberapa pemuda-pemuda bangsa kita yang dengan gagah dan beraninya menampakkan diri ke atas panggung dan berdebat bersama para pelaku politik senior dan saling beradu argument tanpa ciut. Ini sebuah langkah besar menurut saya, bahwa era ini adalah eranya para kaum pemuda! Pemuda yang dulunya hanya sebagai audience sekarang merekalah ikut menjadi player dalam panggung politik. Lahirnya politisi-politisi muda merupakan cerminan nyata bagi bangsa bahwa ada begitu banyak aset negara yang dapat menjadi centre player dan bukan lagi hanya sekedar menjadi pemandu sorak diluar lapangan. Milenials identik dengan kecermatan, dan kelincahan dan modernisasi pola pikirnya. Maka bagaimana nasib bangsa ini jika berada pada tangan-tangan generasi pembaharu yang sebentar lagi akan melengserkan para incumbent? We'll see it soon.

Post a Comment

0 Comments