Darah Daging Narablog

Header

header adsjavascript:void(0)

Darah Daging Narablog

Jika dengan membaca buku dapat membuka jendela-jendela ilmu, maka dengan menulis kamu akan merawat jendela-jendela ilmu untuk tetap awet dan terlihat indah. Setiap orang yang melihat jendela, selain penasaran akan hal yang ada dibalik jendela, tentu pesona dari jendela juga salah satu hal penting dalam menarik perhatian seseorang. Jendela yang kusam, dan tanpa disinari cahaya akan tampak buruk dibandingkan jendela yang setiap pagi disinari cahaya matahari dan terbebas dari kotorang-kotoran yang merusak pesona sebuah jendela. Buku adalah jendela dunia, begipula dengan blog.

Pertama kali aku bercengkrama dengan blog, tahun 2016. Aku hanya mencoba mencari hobi untuk mengekspresikan segala emosi dan juga opini yang sudah tertanam lama dalam diri. Karena bermain gameonline setiap hari dan menonton anime, mungkin menjadi kebiasaan yang wajar bagi anak-anak diusiaku pada waktu itu. Saat masih SMA, aku mencari cara bagaimana agar dapat mengabadikan sebuah momen dan cerita tapi bukan hanya melalui foto. Karena foto bukan hanya terbatas dalam imajinasi, tapi juga terbatas dalam hal ekspresi. Satu foto hanya menggambarkan satu ekspresi saja. Kamu bisa melihat postingan foto-foto yang ada di Instagram, atau Twitter dan Facebook. Foto-foto yang terekspos di media sosial hanya memaknai satu hal saja. Yaitu apa yang tergambarkan dalam foto. Tapi ternyata, dibalik postingan foto selalu ada yang berhasil membuatnya mewah, yaitu captionnya atau keterangan tambahannya. Hal yang membuatnya mewah akan ekspresi hanyalah sebuah caption dengan uraian singkat dimuat dalam sebuah tulisan ringan. Tentu foto bahagia setelah wisuda dengan caption, "Akhirnya aku bisa menyelesaikan semuanya, terimakasih yang sudah memberikan supportnya selama ini. I love you guys", pastilah memberikan interpretasi yang lebih luas akan sebuah foto bahagia seseorang yang sedang berpakaian toga. Foto yang terbatas akan pengungkapan ekspresi, disempurnakan dengan satu uraian singkat. Sungguh luar biasa bukan? Maka dari situ, aku berpikir bahwa dengan membuat blog aku dapat mengabadikan momen dalam hidupku, dan mengekspresikan diri, dan mengungkapkan opini-opini ku terhadap dunia. Thats what I call my freedom of speech. 

Tentu dengan alasan mengabadikan momen berharga, aku memulai tulisan seperti itu di blog. Dengan menggambarkan cerita saat liburan semasa kelas 3 SMA dulu, dengan berpetualang hebat perjalanan jauh hanya untuk mencicipi durian yang langsung dipetik dari pohonnya. Judul postingan itu kuberi judul, "Because of Duren and Rambutan".

Entah kenapa, menulis diblog cukup menyenangkan bagiku. Meskipun cerita-cerita itu aku posting untuk mengabadikannya saja. Tapi melihat dan membacanya beberapa kali membuatku merasa lega. Seakan-akan momen itu benar-benar abadi dan tersimpan didalam sebuah blog. Beberapa teman-teman aku ajak untuk membacanya. Beberapa berkomentar, tapi secara langsung saja. Karena merasa apa yang aku lakukan ini adalah hal yang cukup menarik. Menulis blog lalu menjadi kegiatan berkalaku saat itu, dari tahun 2016 akhir dan tahun 2017. Selain membuat cerita-cerita dari kenangan pribadi, aku juga terkadang menulis berbagai opini-opini umum yang berusaha kubalut dengan komedi. Ada juga sih yang aku serius membahasnya. Aku mencoba bergabung di komunitas-komunitas blog yang ada di media sosial, seperti warung blogger dan kawancut blogger. Dari forum dan wadah perkumpulan blogger itu, aku dan blogger lain dapat saling sharing dan blogwalking bersama untuk silaturahmi. Meskipun kami belum pernah bertemu satu sama lain, tapi melalui blogwalking kita dapat membaca dan melihat seseorang itu seperti apa. Karena tulisan seseorang lebih menggambarkan siapa dirinya dibandingkan how's he/she looks like.

Saat tahun 2016 dan 2017 aku masih tergolong Maba (Mahasiswa Baru). Dikampus saat perkenalan, aku bahkan dengan bangga menyebut bahwa aku ini hobi nge-blog. Meskipun respon beberapa teman-teman menganggapnya tidak begitu penting. Hobi yang semua orang bisa lakukan, tanpa ada kemampuan spesial apapun. Mungkin aku cukup setuju disitu, tapi aku nge-blog, menganggapnya sebuah hobi, menulis setiap ada ide atau cerita yang dapat dituangkan kedalam tulisan, dan memposting beberapa tulisan setiap bulan atau pekannya. Paling tidak sejak akhir tahun 2016 dan awal 2017, aku sudah merasa puas jika tulisanku sudah mencapai 200 pembaca. Terkadang ada tulisan yang mencapai 600 pembaca, ada 400 dan ada juga yang hanya 50 saja. Itu bukan tujuan utamaku, yang aku maksudkan dengan membuat blog yaitu, ya hanya sebatas mengekspresikan diri saja. Beberapa keresahan-keresahan hidup yang kubalut dalam sebuah tulisan mungkin ada yang suka dan sepemahaman, dan mungkin juga ada yang tidak. Beberapa orang yang memberikan komentar di blog membuatku semakin terpacu untuk menulis dan menulis lagi. Beberapa terlihat senang, and it's good enough for me.

Tapi kegemaranku dalam menuangkan segalanya ke dalam tulisan melalui blog harus kuhentikan saat pertengahan tahun 2017. Disaat aku mulai aktif berkegiatan sosial di lingkungan kampus. Aktif di Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) memberiku beban yang lebih berat dari kehidupanku yang biasanya. Harusnya aku bisa mengalokasikan sebagian waktuku untuk menulis di blog, hanya saja aku benar-benar tidak bisa lagi. Aktif menjadi di Organisasi Mahasiswa apalagi menjadi pengurus membuat waktuku benar-benar habis terkuras hingga malam, dan hingga hari-hari akhir pekan. Waktu liburpun juga termasuk.



Karena tanggungjawab yang diamanahkan kepadaku di Ormawa merupakan hal yang cukup penting. Menurutku aku harus tetap perlu menyalurkan kegemaranku dalam hal tulis dan menulis. Maka dari itu, website dan akun official media sosial Ormawa atau Himpunan Jurusanku tempat dimana aku mengurus saat itu menjadi tempatku melampiaskan berbagai kegelisahan dan gagasanku dalam perspektif kemahasiswaan. Terkadang tulisanku menjadi trending topik, dan dibahas sana-sini setelah tayang di official akun Himpunan Jurusanku. Aku menulis sebagaimana keresahan yang aku rasakan dilingkunganku berada, yaitu kampus. Mahasiswa yang malas-malasan lah, yang suka menyepelekan hal-hal kecil lah, bahkan problem kebijakan kampus yang kurang efektif dalam penerapannya. Tapi tentu, aku melakukan semua hal itu hanya karena tuntutan profesi. Sebagai anggota Ormawa di bidang Pers (Pemberitaan dan Pengelolaan Sosial Media) di Himpunan Jurusan di kampus, tentu membuatku terdorong untuk melakukan hal-hal tersebut. Namun ketika sampai pada pergantian kepengurusan, aku kehilangan wadahku untuk menulis. Amanahku sebagai penulis di official akun atau website Himpunan Jurusanku bukan lagi amanah yang diberikan untukku.

Tahun 2017 dan 2018, aku dipercaya untuk menjadi Ketua Umum Ormawa UKM Bahasa di kampus. Karirku sebagai penulis blog, sudah tidak pernah berjalan lagi sebagimana blogger yang update tulisan-tulisan di blognya setiap waktu secara berkala. Sejak menjadi pengurus di Ormawa Himpunan Jurusan, aku menyalurkannya lewat tugas dan amanah sebagai pengurus. Blogku tetap terlihat sama saat tahun 2016. Tanpa pembaharuan apapun. Di tahun 2018, saat aku terpilih sebagai ketua umum di UKM Bahasa di kampus, itu membuatnya lebih parah lagi dalam menyita waktuku untuk memperhatikan blog. Aku berhenti, dan tidak lagi bercengkrama dengan dunia blog. Sampai suatu saat, gairah menulisku tak kunjung pergi. Aku tentu mencari tempat pelampiasan sana-sini, aku terkadang melampiaskannya dengan mengirimkan tulisan ke berbagai platform yang menerima tulisan dengan opini bebas. Seperti Republika, Hipwee, ataukah IDNTimes dan juga website pemberitaan Sulawesi, Sulselkita. Beberapa menerima, beberapa menolak. Tentunya aku mencari lagi beberapa wadah yang memfasilitasi hal tersebut. Mungkin kala itu aku berpikir, "Ngapain buat blog kalau sudah banyak platform yang menyediakan wadah untuk mengekspos tulisan-tulisanku". Tapi aku lupa, bahwa blog merupakan bentuk originalitas seorang penulis blog. Ini bukan persoalan fame, tapi ini kembali lagi persoalan alasan kenapa aku menulis blog.

Terkadang aku melakukan self evaluation, dan pertanyaan kenapa aku sudah tidak pernah menulis lagi selalu menjadi beban pikiranku. Meskipun alibi bahwa aku menjabat sebagai ketua umum dalam sebuah Ormawa di kampus, tapi menurutku alasan untuk berhenti nge-blog dengan alasan seperti itu adalah jawaban yang tidak profesional sekali. Bukan jawaban yang etis. Kamu yang memilih, kamu sendiri yang mempertanggungjawabkannya. Sama seperti presiden yang akan dipilih nantinya, siapapun yang kamu pilih. Kamu akan mempertanggungjawabkan pilihanmu sendiri sampai akhir periode kepemimpinan presiden. Yang terjadi padaku adalah hal yang terkesan labil. Selama tahun 2018, aku hanya mencoba menulis opini-opini sosial dan mengirimkannya ke platform-platform yang sudah memiliki fame yang lebih besar daripada blog yang sudah kujalankan dulu. Pilihan yang cukup bodoh.


Karenanya di akhir tahun 2018 kemarin, aku melakukan evaluasi diri kembali. Aku mengangkat pertanyaan "Kenapa aku berhenti menulis blog?", dan menjawabnya dengan jawaban "Tidak ada alasan untuk berhenti melakukan itu". Aku merasa jiwa narablog dalam diriku sudah mendarahdaging. Diawal tahun 2019 ini, aku akan memulainya kembali lagi, dari awal dan konsisten dalam merawat jendela-jendela ilmu. Tapi jendela masih belum cukup, aku akan merawat jendela-jendela dunia. Melalui blog. Sebagai narablog, aku akan mencoba membuka satu persatu jendela dunia dan membuat cahaya senantiasa menyinarinya lalu kurawat dia dengan sukacita. Jika buku adalah jendela ilmu, maka blog adalah jendela dunia.

Post a Comment

1 Comments