Analisa Sederhana Debat Capres dan Cawapres 2019

Header

header adsjavascript:void(0)

Analisa Sederhana Debat Capres dan Cawapres 2019

Dalam debat capres dan cawapres kali ini  tidak cukup memuaskan penikmatnya. Mba Najwa Sihab bilang hambar, tidak basi dan tidak nikmat. Tapi hambar. Dapat diprediksi beberapa segmentasi pasar merasa kecew dan tidak ingin mengonsumsinya lagi nanti. Ada beberapa kondisi yang membuat publik melihat kontes debat capres dan cawapres malam Jum'at kemarin, 17 Januari 2019 tidak begitu memuaskan. Entah dari kubu 01 ataupun dari 02. Karena tentu penonton dan para pendukung pasangan nomor urut satu dan dua menginginkan ada pertumpahan darah di panggung semalam. nyatanya, kedua-duanya tidak menimpalkan tinju yang keras kepada lawannya. Padahal penonton berharap ada duel, duel yang maut. Mungkin ini beranjak dari keinginan KPU itu sendiri bahwa, "Kami tidak mau ada yang dipermalukan nantinya". Sebagai masyarakat umum, saya sendiri ingin melihat ada yang dihajar habis-habisan di panggung tadi malam. Debat itu, menunjukkan bahwa kubu seberang lebih buruk dari kubu sini. Siapa yang menilai? Penonton sudah cukup.


Sebenarnya dari awal, bahkan sebelum atmosfer debat mulai muncul dipermukaan, kontestasi politik tahun ini terlihat sudah berat sebelah. Saat hari perdebatanpun terlihat jelas, bahkan pasca debat. Kenapa dari awal saya bilang pertempuran antar pasangan capres dan cawapres ini berat sebelah, itu karena ada beberapa hal yang membuat masing-masing paslon menang telak di segmen-segmen tertentu. Sebut saja saya mengatakan kontestasi politik ini berat sebelah dan lebih menguntungkan Pak Jokowi a.k.a capres nomor urut satu. Itu karena beliau adalah juara bertahan dalam duel ini, asumsi publik tentu beranggapan bahwa juara bertahan lebih berpeluang untuk menang daripada penantang. Meskipun penantang terlihat lebih kuat, seperti pertarungan antara atom dan zeus dalam film Real Steel. Disamping itu, pertarungan antara Pak Prabowo dan Pak Jokowi tahun ini adalah yang kedua kalinya, dimana pertarungan sebelumnya Pak Prabowo sudah kalah. Sebagai petahana, tentu Pak Jokowi memiliki kekuatan dalam hal fame. Karena beliau sudah memimpin selama 4 tahun lebih dan publik melihatnya. Karakter beliau yang melekat dengan rakyat menjadi ikon khas dari beliau. Jujur saja, hanya itu hal yang autentik dari beliau menurut saya. Publik juga beranggapan bahwa pengalamannya memimpin selama 4 tahun terakhir pasti sangat bermanfaat bila beliau kembali lagi terpilih sebagai presiden Republik Indonesia.  Beliau pasti lebih tahu bagaimana seharusnya negeri ini diarahkan kemudinya. Sedangkan Pak Praowo tidak. Namun disisi lain, saya juga dapat mengatakan bahwa pertandingan ini berat sebelah ke timbangan nomor urut dua. Karena secara historis, Pak Prabowo lebih memiliki banyak pengalaman dalam hal leadership dibandingkan dengan Pak Jokowi. Pengalaman sebagai Panglima Kostrad dimasa pemerintahannya Pak Harto, Jenderal Kopasus, dan segudang pengalaman dan penghargaan militeristik lainnya. Beliau juga merupakan seorang CEO di banyak bidang bisnis. Sebut saja PT Tidar Kenciri Agung, PT Nusantara Energi, dan PT Jaladri Nusantara, dan juga beberapa perusahaan yang ada diluar negeri. Bukan hanya itu saja, beliau juga pernah mendirikan beberapa organisasi masyarakat seperti Asosiasi Petani Indonesia, Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Indonesia, dan Asosiasi Pencak Silat Indonesia. Secara Ayah beliau ternyata seorang pakar ekonom dan politisi yang pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian di masanya. Dan juga beliau jika dibandingkan dengan Pak Jokowi, struggle-nya lebih besar bahkan variansnya pun sangat berbeda jauh. Cerita kelam masa lalu Pak prabowo, masyarakat mendeskripsikan beliau sebagai sosok yang kurang baik, atau bahkan buruk karena cerita lama. Beliau yang perlahan membentuk partai dan mendirikannya menjadi partai politik terbesar ketiga, sekarang berani menantang juara bertahan dalam kontestasi pilpres 2019. Kata abang Fahri Hamzah, Pak Prabowo lebih merasakan strugglenya dibandingkan Pak Jokowi. Pak Jokowi hanya berada diposisi yang menguntungkan saja.

Itu baru capresnya, bagaimana dengan cawapres? Berat sebelah juga. Publik menggambarkan sosok Pak Sandiaga Uno sebagai kaum millenials, meskipun mungkin secara teknis tidak. Hanya saja, slogan pebisnis muda pasti selalu melekat ke diri Pak Sandi. Tahun 2018 yang lalu, rich list yang dikeluarkan oleh globeasia.com memperlihatkan dimana beberapa perusahaan yang dikelola Pak Sandi masuk kedalam daftar. Jika berbicara soal pandangan ekonomi, Pak Sandi lebih unggul dari cawapres 02 bahkan mungkin juga lebih unggul dari Capres 01 maupun 02. Bagaimana dengan Pak Ma'ruf Amin? Mungkin beberapa dari masyarakat baru melihat beliau terjun ke dunia politik, tapi nyatanya tidak. Beliau secara historis juga sudah memiliki cukup pengalaman dalam dunia politik. Dimana beliau pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan juga Anggota DPR RI. Tentu beda jauh pengalaman politiknya bila dibandingkan dengan Pak Sandi. Dan puncaknya, beliau sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia tentunya sama seperti capresnya, memiliki fame yang sudah lebih dari cukup untuk menjadi modal dalam kontestasi politik tahun 2019.

Bagaimana? Kontestasi politik dan pesta demokrasi ini sungguh sangat berat sebelah kan? Poin saya adalah, semua calon, calon presiden maupun calon wakil presiden sama-sama memiliki kekuatan dan kapasitasnya masing-masing sebagai calon pemimpin negara. Hanya saja yang menjadi persoalan adalah, ruang publik selalu saja di kotori dengan cacian-makian, pelitiran dan ujaran kebencian. Maka apalah artinya debat capres dan cawapres semalam?

Debat capres dan cawapres tentu bertujuan untuk membuka pikiran, dan bila perlu juga mata hati para audience (seluruh masyarakat Republik Indonesia) untuk dapat melihat bagaimana kapasitas jagoannya atau apa yang menjadi pertimbangan rakyat dalam memilih salah satu dari keduanya. Namun hal ini tidak begitu nampak dalam kontes debat semalam, kebanyakan perdebatan hanya diisi dengan kemampuan retorik. Khas seorang politisi. Setelah menonton debat pertama semalam, saya yakin debat itu tidak begitu membuka mata para penonton, yaitu masyarakat umum untuk menentukan siapa pemimpin yang lebih layak. Coba anda cek media sosial sekarang, hal-hal yang dilemparkan di media adalah bukan hal yang bersifat substantif. Paling yang tersebar itu seperti bagaimana Pak Prabowo yang berjoget saat debat berlangsung. Ataukah bagaimana Pak Jokowi yang monoton melihat ke contekan (textbook) setiap kali ingin memulai argumentasinya. Karena kembali lagi seperti yang dikatakan Pak Budiman Sudjatmiko, bahwa ruang publik hanya diisi dengan sensasi, bukan substansi. Sensasi tentu perlu, tapi balutlah substansi itu dengan sensasi, bukan sensasi yang dibalut dengan sensasi.

Mungkin memang tidak semua argumentasinya itu retorik. Tapi lebih banyak yang seperti demikian, misalnya ungkapan yang katanya solutif seperti, "Tentu kita akan membuat hukum yang dapat mengatur lebih agar tidak saling tumpang tindih", ataukah "pokoknya korupsi itu perbuatan jahat! Harus diberantas sampai ke akar-akarnya!". Kalau saya menilai argumentasi-argumentasi seperti ini, sama dengan bagaimana Pak Rocky Gerung dalam melakukan penilaian. Bahwa yang disampaikan itu memang ada, tapi informasi didalamnya tidak ada. Tidak ada nilai yang disampaikan. Mungkin strategi ini lumayan berguna jika pasangan nomor urut 01 menggunakanya. Yaitu main aman, tidak menjawab banyak dan panjang supaya tidak timbul pertanyaan yang lebih tajam. Karena jika menghitung-hitung fame, kembali lagi pasangan nomor urut satu pastinya lebih unggul.

Hanya saja dalam kontes debat kemarin, hampir dapat dikatakan bukan sebuah kontes perdebatan. Dalam debat, selalu ada ide yang dipertengkarkan. Namun argumentasi yang keluar dalam perdebatan semalam terkadang menjurus bagaimana buruknya lawan dimasa lalu, seperti bagaimana Pak Jokowi saat menceritakan kasus Ratna S. Bahkan beliau sampai menceritakannya lagi hampir sampai detil, dan itu cukup memakan waktu. Tentu penonton tidak mengharapkan beliau mengungkit-ungkit hal seperti itu lagi dipanggung semalam. Dalam debat, tentu hasil akhir yang diinginkan penonton adalah bagaimana technical-strategy yang ditawarkan itu masuk akal dan logis untuk diterapkan dalam penyelesaian masalah. Jika tidak ada, maka bukan debat namanya. Tapi bicara omong kosong. Karena tidak ada hasil yang dapat dibawa pulang. Harus selalu ada mechanism yang ditawarkan untuk memecahkan masalah yang menjadi bukti autentik seorang pemimpin yang diasumsikan dapat memberikan solusi disetiap permasalahan-permasalahan kenegaraan 5 tahun mendatang. Kata Pak Rocy Gerung, suasana debat kemarin terlalu kaku. KPU yang membuatnya begitu kaku, harusnya yang mereka pertengkarkan adalah visi misi. Tapi visi misi hanya disampaikan lalu mereka mengikuti aturan mainnya penyelenggara debat. Alhasil karena minimnya substansi yang diperdebatkan, ruang publikpun terkhusus media sosial kembali diisi dengan bagaimana cara bicara paslon, bagaimana paslon kubu situ selalu melihat contekan (textbook), bagaimana kubu situ menari dan berjoget, si itu blunder, begini dan begitu. Dan perdebatan seperti ini tidak bakalan habis, karena memang skemanya dibentuk untuk berjalan di arah yang seperti ini.

Prof. Karim Suryadi, seorang Guru Besar Komunikasi Politik mengatakan bahwa yang menggoda penonton memang hanya gimmik atau gestur, yaitu yang nampak (appearance) saja. Karena masing-masing pertanyaan dan jawaban belum menjurus ke arah substansinya. Dari masa kampanye sampai masa debat ini, masih saja perbincangannya minim substansi. Katanya masyarakat umum berada pada tiga situasi, 1. Kondisi pemilih yang tidak punya afiliasi partai, 2. Perbincangan politik yang belum menyentuh substansi, 3. Publik yang cenderung mempertanyakan kepribadian paslon saja. Kata beliau, kontes debat malam kemarin hanya bagaimana cara 01 dan 02 menarik banyak suara untuk memilih mereka.


Bahkan media pun ikut-ikutan mengisi ruang publik untuk menggiring opini publik (untuk tidak memilih salah satu calon). Sebut saja MetroTv. Bukan rahasia umum lagi, bahwa petahana memegang kontrol dan kendali penuh pada beberapa media mainstream, salah satunya (kemungkinan besar) MetroTv. keesokan harinya, pagi setelah debat capres dan cawapres, media MetroTv memberitakan bagaimana argumentasi dari salah satu paslon yaitu paslon nomor urut 02. Yang mengatakan bahwa Jawa lebih besar dari Malaysia. Padahal itu selain sebuah majas perbandingan, juga bukan dalam konteks luas wilayah yang sebenarnya. Tapi yang mengherankan adalah media MetroTv membuatnya menjadi berita yang begitu serius. Padahal ada banyak yang yang dapat dikulik dalam panggung debat capres dan cawapres kemarin jika MetroTv adalah media yang menjunjung tinggi asas-asas jurnalistik, dan netralitas.

Jika debat selanjutnya masih kaku seperti ini, dan media-media juga tidak menampakkan apa yang layak untuk ditampakkan ke publik, dan masing-masing pasangan juga masih main aman dalam beradu jotos, saya yakin sampai saatnya tiba nanti yaitu tanggal pemilihan umum, setelah itu pasti akan muncul banyak konflik-konflik fanatis. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa politik selalu bisa berhasil memecah belah ruang publik. Untuk saat ini terpecah menjadi dua. Akan seperti apa jadinya debat capres dan cawapres selanjutnya? We'll see it soon.

Post a Comment

0 Comments